1512

1512
©Demotywatory

Sembari anak buahnya melakukan apa yang ia perintahkan, ia menyebut antrean berikutnya; 1512.

Dengan wajah yang tertunduk, sang anak berjalan perlahan-lahan, menapaki tanah yang sekarang dipenuhi dengan salju. Kakinya bertelanjang, membuat langkahnya gemetar menahan dingin. Wajahnya lembut, bagaikan sesosok malaikat yang penuh kesucian.

Ia kini melangkah menaiki anak tangga. Satu anak tangga, dua anak tangga, tiga anak tangga. Ia menghitung jumlah anak tangga yang ia langkahi satu per satu. Hatinya sedikit bergembira dengan hal tersebut. Setidaknya ada yang bisa ia mainkan sejenak untuk saat terakhir dari hidupnya. Sampai akhirnya anak tangga kesepuluh.

Kini ia berada di lantai paling atas, bak sebuah podium, bedanya, tidak ada mimbar di situ. Hanya hamparan lantai kayu berukuran lima kali lima meter dengan pagar-pagar di samping kiri kanan depan belakang yang juga terbuat dari kayu. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang ringkih, berjalan menuju ke arah tengah.

Sesampainya ia di tengah, wajahnya menatap ke depan, memandangi satu per satu orang-orang di situ yang menatapnya dalam tatapan putus asa. Tidak ada suara, hanya ada tatapan. Mereka semua diam, sangat diam, hingga suara angin yang menerpa salju terdengar dengan jelas di telinga sang anak. Tatapan matanya halus, menunjukkan kehalusan jiwanya. Menyapu seluruh penonton dengan wajah yang syahdu. Beberapa di antara mereka mencoba menahan air mata agar tidak keluar.

Pria berpakain rapi dengan topi dan seragam bak militer yang dari tadi hanya diam mematung kini bergerak mendekati sang anak. Dengan bergegas, si pria segera mengikat kedua tangan dan kaki si anak. Ia juga bergerak ke sana-kemari, memastikan tidak ada apa pun yang disembunyikan dari balik pakaian yang anak itu kenakan. Si pria kemudian merobek kerah baju anak ringkih tersebut.

Setelah dirasa cukup dan beres, ia segera memasangkan tali ke leher si anak. Ia juga mengenakan pada kepala si anak karung untuk menutupi seluruh kepalanya.

Setelah tali terpasangkan dengan cukup kuat di leher, si pria kembali berdiri di posisi awalnya, yaitu di sebelah kiri dari tempat berdirinya si anak. Diiringi dengan snare drum, si pria segera menarik tuas yang berada di sampingnya, membuka bagian lantai tempat berdirinya anak kecil tadi.

Tubuh si anak segera terjun ke bawah, sedangkan tali yang diikat di lehernya tetap menahan tubuhnya, membuatnya bergelantungan. Badannya meronta-ronta, kakinya bergoyang ke depan dan ke belakang, tanganya bergerak-gerak seperti hendak menggenggam sesuatu meski tertahan karena diikat. Ia terus seperti itu, hingga akhirnya dia benar-benar diam, tak bergerak lagi.

Sang algojo segera memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan tubuh anak mungil yang sudah tak bernyawa itu. Sembari anak buahnya melakukan apa yang ia perintahkan, ia menyebut antrean berikutnya.

“1512.”

***

Fernando Lopez begitu terpukul menyaksikan apa yang ada di depannya. Adik dan ayahnya sendiri berturut-turut dihukum mati dengan cara digantung.

Sudah setahun ia bersama dengan keluarganya terpisah satu sama lain dan harus hidup di sebuah kamp. Selama berada di dalam kamp, penderitaan terus menghampirinya satu per satu. Mulai dari kelelahan akibat bekerja, rasa lapar yang menggerogoti perutnya, penyakit yang datang bertubi-tubi, belum penyiksaan tanpa henti dari para mandor. Ia belum pernah merasakan penderitaan semacam ini.

Adiknya, yang bernama Michael Lopez, berumur delapan tahun. Ia adalah seorang anak yang aktif dan periang. Ayahnya, Abraham Lopez, berumur 60 tahun, adalah seorang pekerja keras. Sedangkan ibunya, Maria Lopez, berumur 55 tahun, adalah seorang ibu yang penuh pengertian dan kasih sayang. Mereka adalah keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan.

Ayahnya memiliki kedai kecil di Frankfurt, cukup menjadi pemasukan mereka sehari-hari. Sedangkan ibunya adalah seorang penjahit. Fernando sendiri aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan merupakan seorang mahasiswa yang cukup aktif dan kritis. Ia sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama teman-temannya membahas berbagai macam isu-isu global, termasuk kebangkitan kekuatan baru berideologikan Fasisme.

Sejak awal, Fernando mengetahui bahwa kekuatan para Fasis sudah sangat amat kuat dan tak mungkin untuk dibendung lagi. Dalam sebuah makan malam, ia mendesak keluarganya untuk segera pergi meninggalkan Frankfurt, pergi ke daerah lain yang lebih aman, jauh dari Jerman. Amerika adalah target utama. Namun sayang, keluarganya menolak. Mereka yakin bahwa Fasisme tidak akan menang. Kedua orang tuanya percaya masih banyak orang baik di Jerman yang tidak mungkin akan diam saja melihat Fasisme merajalela.

Tapi apa yang mereka harapkan tidak terjadi. Tiga bulan kemudian, apa yang dikhawatirkan oleh Fernando justru terjadi. Fasis berhasil menang. Nazi berhasil merebut kekuasaan. Hanya dalam beberapa waktu, kekuatan oposisi berhasil ditumpas. Saat itulah keluarga Fernando menyadari kesalahan mereka.

Namun semua sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Dengan berat hati, mereka mau tidak mau harus menjalani takdir mengerikan seperti sekarang ini, hidup dalam kamp mengerikan bak neraka ini.

Kenangan-kenangan tersebut terus mengalir. Jika saja saat itu kedua orang tuanya mendengarkan kata-kata Fernando, jika saja mereka sempat keluar sesaat sebelum berkuasanya Nazi, tentu mereka tidak akan merasakan pengalaman mengerikan seperti ini. Tentu ia tidak harus menyaksikan kedua orang tercintanya mati dengan cara yang keji seperti ini. Tentu ayah dan adiknya tidak harus menderita bahkan saat kematian mereka.

Ia juga sampai sekarang sama sekali tidak mendengar kabar apa pun tentang ibunya. Setelah mereka semua diangkut dari kereta api, mereka dipisahkan secara jenis kelamin. Laki-laki tidak boleh bertemu dengan perempuan. Dari situ, ia, ayah, dan adiknya tidak mendengarkan lagi berita apa pun dari ibunya. Apakah ibunya sudah mati? Ataukah ia masih hidup dan merasakan penderitaan semacam ini? Entahlah, tidak ada yang tahu.

Fernando terus terisak tangis. Apa dosa mereka sehingga mereka pantas mendapatkan penderitaan semacam ini? Apakah karena kesalahan leluhur mereka? Apakah wajar menghukum seorang anak hanya karena kesalahan ayahnya? Apakah wajar menuduh seorang anak pemerkosa hanya karena orang tuanya pemerkosa?

Memangnya, bayi mana yang bisa menentukan pilihan untuk dilahirkan dari keluarga seperti apa dan bagaimana? Tidak masuk akal jika seseorang harus dihukum hanya karena darah yang mengalir dari dalam dirinya. Mengapa ada orang yang bisa secupet itu pikirannya hingga menerima doktrin bodoh seperti itu?

Perlahan-lahan, Fernando terdiam. Ia sudah mulai mengendalikan emosinya. Proses eksekusi sudah selesai. Seluruh penghuni kamp segera kembali ke tempat istirahat mereka.

Fernando masih berdiri dalam diam, memandang ke arah tempat eksekusi. Secara perlahan-lahan ia mulai bertanya-tanya, di mana Tuhan? Mengapa Ia tidak menolong seorang anak tak berdosa yang harus mati secara menderita seperti adiknya? Mengapa Ia hanya diam saja dan tak melakukan apa pun? Di mana Mukjizat yang Ia miliki tersebut? Mengapa di saat-saat genting seperti ini ia tidak menunjukkannya?

Tidak-tidak. Fernando kini menguatkan hatinya. Tuhan masih ada, di sini, di tiang gantung ini.

***

Rabi Jacqoub adalah satu-satunya pemuka agama yang tersisa di kamp. Yang lain? Sudah pada mati. Ia satu-satunya Rabi yang masih hidup, menjadi guru agama bagi seluruh penghuni kamp, mengingatkan para penghuni lain tentang pentingnya kesabaran.

Dalam sela-sela waktu yang kosong, ia terkadang menceritakan kisah-kisah penderitaan Yahudi dahulu. Bagaimana mereka ditindas oleh Firaun secara keji. Namun dengan keajaiban, Tuhan berhasil menyelamatkan umat-Nya. Semua hanya butuh kesabaran, kemauan untuk mengoreksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena Tuhan telah membuat perjanjian dengan Yahudi sejak dahulu kala.

Jika Yahudi melupakan hukum-hukum Tuhan, maka ia akan mengirimkan hukuman kepada mereka. Namun, jika mereka sadar akan kesalahan mereka dan mau kembali pada hukum-hukum Tuhan, maka Tuhan berkenan memberikan keselamatan kepada kaum-Nya. Dengan kata lain, penderitaan Yahudi hari ini adalah akibat hukuman atas seluruh dosa-dosa umat Yahudi itu sendiri. Satu-satunya cara untuk selamat dari musibah ini, kata Rabi Jacqoub, adalah kembali pada hukum-hukum Tuhan.

“Tidak ada jalan lain. Hanya hukum Tuhan satu-satunya penyelamat kita sekarang,” ujarnya.

Sehari sebelum eksekusinya, Michael Lopez pernah bertanya pada Rabi Jacqoub.

“Rabi, jika ada seorang ayah yang menyiksa anaknya sendiri secara habis-habisan, membuat anaknya kelaparan, memukul, mencambuk atau membiarkan orang lain untuk melakukan hal itu pada anaknya sendiri, jika ada ayah semacam itu, apakah ayah tersebut pantas disebut ayah yang baik?”

“Tidak, anakku. Ia bukan ayah yang baik.”

“Tapi, Rabi, sang ayah melakukan hal tersebut dengan alasan sang anak telah melanggar hukum-hukum yang ia buat sehingga anaknya pantas mendapatkan hukuman semacam itu. Bukan cuma anaknya, keturunan anaknya kalau perlu juga ikut dihukum.”

“Tetap saja, jika ada ayah seperti itu, maka sudah dapat dipastikan ayah tersebut gila. Tidak waras. Itu ayah yang kejam. Kalaupun alasannya menghukum, tidak seharusnya hukumannya berupa penyiksaan tanpa henti apalagi sampai ke keturunan yang berikutnya.”

“Jadi seorang anak tidak berhak mendapatkan hukuman seperti itu?”

“Tentu saja.”

“Apakah seorang anak berhak melawan ayah seperti itu, Rabi? Demi menyelamatkan dirinya sendiri?”

“Tentu saja. Bukan cuma berhak, tapi wajib.”

“Rabi, aku mau bertanya lagi. Bukankah Tuhan adalah ayah kita? Bukankah kita adalah anak-anak Tuhan?”

“Ya, benar demikian. Tentu kita adalah anak-anak Tuhan. Bukan dalam pengertian biologis, namun dalam pengertian rohani.”

“Namun Tuhan menghukum kita, anak-anaknya, dengan menyiksa kita bertubi-tubi akibat kita lalai dengan hukum-Nya. Ia membiarkan kita kelaparan, membiarkan orang lain menganiaya kita, menghukum bahkan sampai anak keturunan kita. Semua dengan alasan tidak mematuhi hukum-Nya. Apakah Tuhan adalah ayah yang baik?”

“Tentu saja. Tuhan adalah ayah yang baik.”

“Jadi, kita anak-anakNya, pantas mendapatkan hukuman semacam itu tadi?”

“Ya, tentu saja pantas.”

“Apakah kita tidak boleh melawan Tuhan?”

“Tidak boleh. Kita harus tetap menaatinya.”

Semua penghuni kamp mengangguk-angguk. Mereka mendengar jawaban yang luar biasa dari Rabi Jacqoub. Sungguh jawaban yang sangat rasional, pikir mereka. Untuk sekali lagi, nalar sejalan dengan iman. Kurang rasional apa jawaban Rabi Jacqoub?

Hari ini, Rabi Jacqoub sekali lagi memimpin perayaan hari sabat sekaligus mengenang matinya Michael dan Abraham Lopez. Ia berdiri dan para penghuni kamp yang lain duduk beralaskan tanah. Sebelum ia memulai, ia memuja Tuhan terlebih dahulu.

“Pertama-tama, puji syukur kita haturkan pada Tuhan yang maha esa. Tanpa nikmat yang Ia berikan, berupa nikmat sehat dan sempat, tidak akan mungkin kita bisa berkumpul di sini, di tempat yang terberkati ini, kamp ini, di hari yang terberkati ini, dalam suasana penuh rahmat ini. Tidak lupa saya haturkan bela sungkawa pada Fernando Lopez yang hari ini kehilangan dua keluarganya berturut-turut. Para keluarganya pergi dalam damai, menuju kehadirat Tuhan. Semoga amal ibadah mereka diterima dan dosa-dosa mereka diampuni,” ujarnya.

Tak lupa, ia juga menyapa beberapa orang yang ada di situ.

“Lukas. Ah…. suatu keajaiban kau masih berada di sini. Meski kamu hari ini harus merasakan rasa sakit di sekujur tubuh akibat dipukul di seluruh badanmu tanpa henti selama delapan jam berturut-turut, tapi lihat, kau masih hidup!!! Terpujilah Tuhan. Ia masih berkenan agar kau hidup cukup lama lagi. Meski pada akhirnya itu berarti kau harus makin lama lagi merasakan penyiksaan seperti ini, karena sayangnya besok kau akan dipukuli lagi. Tapi setidaknya dengan anugerah berupa kehidupan yang masih diberikan kepadamu, kau dapat bertemu dengan kita, berkumpul di sini dalam sukacita. Selalu ada hikmah dalam setiap musibah, bukan?”

“Dan kau ohh…. Joesoef. Lihatlah sekujur tubuhmu. Sudah satu minggu kamu tidak mendapatkan jatah makanan apa pun. Tubuhmu sudah kering kerontang menyisakan kulit dan tulang. Tapi, berkat semangat yang kau miliki, kau bisa hadir di pertemuan ini. Bukankah itu hal yang luar biasa? Tuhan pasti mencintaimu berkat semangatmu itu. Kau pantas dijadikan contoh bagi penghuni kamp yang lain.”

Setelah menyapa dengan ramah beberapa penghuni kamp, ia lantas melanjutkan dengan menjelaskan tentang takdir Tuhan. Konon, menurutnya, segala hal ihwal terjadi menurut kehendak Tuhan. Apa pun, jatuhnya daun di atas tanah, terbangnya burung di udara, hingga bakteri yang membelah diri, semua adalah kehendak Tuhan. Ialah yang menggerakkan suasana suka maupun duka. Musibah atau berkah, semua ada di bawa kendalinya. Termasuk, tentu saja, berkuasanya Nazi.

“Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa kehendak Tuhan. Termasuk berkuasanya Nazi sekalipun, itu semua adalah kehendak Tuhan. Manusia punya kehendak bebas tentunya, namun kehendak bebas manusia pun bisa terjadi karena kehendak Tuhan, termasuk karena kehendak Tuhan juga manusia berkehendak memilih atau tidak memilih sesuatu.” Begitu ujarnya.

Lukas Matthew, anak kecil berumur tujuh tahun yang telah hidup sebatang kara, mengacungkan tangannya ke atas, meminta izin untuk bertanya. Menurut jadwal yang ditempel di papan pengumuman, ia sudah dijadwalkan untuk digantung pada sabat berikutnya.

Saat masih hidup, Michael Lopez menjadi sahabat baiknya selama berada di kamp. Mereka saling bermain dan menceritakan kisah hidup mereka satu sama lain.

Lukas, misalnya, menceritakan tentang bagaimana salah satu prajurit penjaga memasukkan “barangnya” yang bergelantung di antara dua kaki ke lubang duburnya. Ia bercerita, bagaimana perih dan sakitnya hingga ia tidak bisa berjalan dan duduk dengan normal bahkan dua minggu setelah kejadian. Sekarang pun dia masih merasakan perih. Terkadang, saat ia membuang hajat, masih ada darah yang keluar.

Michael sebaliknya, menceritakan bagaimana ia dicabuti kukunya satu per satu akibat ketahuan mencuri sebuah kue. Meski hidup berbalut kepedihan, tapi toh, seperti kata Rabi, semua itu adalah kehendak Tuhan. Oleh karena Tuhan baik, maka apa pun yang ia kehendaki baik, termasuk apa yang mereka alami selama di kamp ini pun adalah hal yang baik.

“Ya, Lukas. Ada apa?”

“Aku hendak bertanya, Rabi.”

“Apa itu?”

“Tadi Rabi berkata bahwa segala sesuatu di atas bumi terjadi karena kehendak Tuhan, bukan?”

“Ya, benar.”

“Berarti Tuhanlah yang dulu menyelamatkanku saat perahuku terbalik di sungai?”

“Benar demikian.”

“Dan apakah Tuhan juga yang membalikkan perahuku sehingga aku tenggelam?”

“Ya, benar demikian.”

“Terima kasih, Rabi, atas jawabannya.”

Sekali lagi, seluruh penghuni kamp, bahkan Lukas sendiri, ikut terkagum-kagum dengan jawaban dari Rabi Jacquob. Sungguh jawaban yang sangat amat rasional. Kurang masuk akal apa lagi jawaban tersebut?

Rabi kemudian melanjutkan ceramahnya. Kurang lebih ada tiga puluh menit ia berceramah. Setelah itu, masuklah sesi berikutnya, sesi berdoa bersama. Semua orang berdiri, termasuk Lukas dengan agak kesakitan sembari memperbaiki posisi celananya agar tidak terselip di antara pantatnya yang tepos itu secara berhati-hati agar tidak merasakan kesakitan.

Mereka saling bergandengan tangan satu sama lain. Memejamkan mata mereka dan berdoa, dipimpin oleh Rabi Jacqoub. Dengan penuh kebijaksanaan dan kekudusan, Rabi Jacqoub segera memulai.

“Marilah kita berdoa, untuk Tuhan, yang sudah digantung bersama dengan keluarga Lopez hari ini.”

    Syahid Sya'ban
    Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)