76 Tahun, Apakah Indonesia Lebih Baik dalam Hal Demokrasi?

76 Tahun, Apakah Indonesia Lebih Baik dalam Hal Demokrasi?
┬ęGIJ

Indonesia saat ini sedang mengalami kemunduran dalam hal demokrasi.

Setelah berakhirnya perang 2 gagasan besar antara Sosialisme dan Demokrasi Barat, yang akhirnya dimenangkan oleh Demokrasi Barat, sistem demokrasi dewasa ini dianggap sebagai sistem pemerintahan yang paling ideal. Dengan sistem ini, negara harusnya memberi ruang sebebas-bebasnya bagi masyarakat dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi.

Namun sejauh ini apakah Indonesia sudah pada tahap yang benar-benar demokratis? Penulis coba akan menganalisis serta memberikan argumen dari sudut pandang global/internasional.

Sistem demokrasi yang berjalan dalam suatu negara tidak terlepas pengaruhnya dari faktor eksternal. Kedekatan suatu negara dengan negara lain akan sangat berpengaruh bagi keberlangsungan politik serta demokrasi di dalam suatu negara. Mengapa begitu?

Ada 3 faktor eksternal yang berdampak besar pada keberlangsungan demokrasi dalam suatu negara, yaitu:

  1. Militerisasi

Kemajuan militer suatu negara sudah pasti sangat memengaruhi negara lain. Dalam sistem keamanan internasional, kita mengenal yang namamya security dillema, yaitu ketakutan suatu negara jika negara tetangganya memperkuat ataupun menambah anggaran untuk militernya.

Hal tersebut tentu membuat ketakutan bagi negara tetangga karena bisa dianggap sebagai suatu ancaman. Dengan adanya ketakutan tersebut, tentu negara juga akan menambah anggaran militernya demi mengantisipasi kekuatan militer negara tetangga. Akhirnya anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan lain dialihkan untuk mempersenjatai militer.

Selain daripada memperkuat kekuatan militer dalam bentuk amunisi dan menambah anggaran belanja, negara juga akan lebih waspada, khususnya terhadap aktivitas warga negaranya. Negara akan memantau setiap aktivitas warga negara. Bahkan bisa saja sampai kepada tahap membatasi gerakan tiap warga negara karena ketakutan yang berlebihan yang berasal dari luar dan setiap aktivitas warga negara yang dianggap membahayakan kedaulatan negara akan coba dibungkam dan disorot oleh pemerintah.

Inilah yang kemudian menjadi faktor memperlambat kemajuan demokrasi dalam suatu negara.

  1. Ekonomi

Negara yang memiliki kestabilan dalam perekonomian tentu warga negaranya akan lebih memiliki kehidupan yang damai, kemajuan serta kestabilan perekonomian negara lain juga akan berdampak pada suatu negara. Kemajuan ekonomi suatu negara tidak lagi digunakan untuk keberlangsungan hidup warga negaranya, tetapi semata-mata hanya untuk ajang pamer kekuatan bagi negara lain.

Ketakutan akan ketertinggalan dalam bidang ekonomi tentu akan membuat negara melakukan berbagai cara demi meningkatkan perekonomian negaranya, mulai dari membuka investasi seluas-luasnya, hingga menambah utang luar negeri dengan alih menjadi modal.

Hal tersebut kadang justru menjadi bumerang bagi suatu negara dalam kemajuan demokrasinya, karena dengan menguatkan sektor ekonomi dengan pelbagai cara akan berimbas banyak pada demokrasi negara tersebut. Misal suatu negara membuka keran investasi seluas-luasnya, hal tersebut akan membuat persaingan antara pengusaha lokal dan pengusaha luar, dan hal tersebut justru membuat keecemburuan sosial serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Lebih jauh akan berimbas kepada gelombang distrust tersebut terhadap masyarakat sipil yang tidak mendapat peran penting di tiap-tiap perusaahn asing yang ada. Dengan adanya ketidakpercayaan tadi, maka jelas pula masyarakat akan bergejolak untuk menetang pemerintah. Sedangkan seperti yang disebutkan di atas, pemerintah dengan alih-alih demi memperkuat ekonomi tidak akan menghiraukan aspirasi masyarakatnya, dan hal tersebut menjadi pertanda bahwa demokrasi telah mundur atau bahkan tak berlaku.

  1. Masyarakat Internasional

Masyarakat adalah aktor penting dalam berjalannya demokrasi dalam suatu negara. Dengan adanya masyarakat yang paham serta peka terhadap persoalan yang terjadi, maka akan lebih cepat kemajuan demokrasi suatu negara.

Berpengaruhnya masyarakat internasional terhadap demokrasi suatu negara bisa dilihat dari apa yang terjadi di negara Arab. Kejadian Arab Spring di negara Arab menjadi contoh mutlak bahwa perilaku masyarakat di negara tetangga akan memberikan domino efffect terhadap masyarakat lokal.

Dalam kejadian Arab spring, Tunisia sebagai negara pertama yang berhasil menggulingkan keditaktoran pemimpinnya memengaruhi negara negara tetangganya untuk melakukan sebuah revolusi, yaitu Libya, Mesir, dan Suriah, walaupun sampai pada saat ini Suriah masih dalam masa gejolak politik dan pemimpinnya masih mampu mempertahankan kekuasaan.

Berbeda dengan Suriah, Libya dan Mesir berhasil menurunkan rezim otoriter di negaranya. Jelas berarti bahwa perilaku masyarakat di negara luar akan berdampak pada perilaku di negara lain. Hal tersebut akan memacu perilaku masyarakat suatu negara untuk melakukan hal yang sama jika mereka merasa sedang mengalami hal yang sama.

Dari ke 3 variabel tersebut, bisa dilihat Indonesia saat ini sedang mengalami kemunduran dalam hal demokrasi. Dalam segi militer, Indonesia cukup menggelontorkan anggaran yang besar, kemudian dalam segi ekonomi pemerintah terus melakukan penguatan walaupun tidak ada kenaikan yang stabil dalam pertumbuhan ekonomi.

Indonesia juga tidak memiliki contoh dari masyrakat negara tetangga yang mampu melakukan revolusi. Thailand misalnya, masyarakat di sana yang mengklaim sebagai kelompok pro-demokrasi juga tidak mampu menggulingkan rezim monarki.

Kesimpulannya, selama 76 tahun dan sudah memasuki 23 Reformasi, dalam hal demokrasi di Indonesia jika ditilik dari sudut pandang internasional belum mampu menciptakan negara yang demokratis bagi masyarakatnya, karena ketidakmampuan negara dalam mendistribusikan anggaran, memperkuat ekonomi dengan cara berdikari, serta belum utuhnya masyarakat khususnya kaum muda dalam kepekaan di bidang politik.

Beberapa hal tersebut tentu bisa menjadi tolok ukur bagaimana keberlangsungan demokrasi suatu negara dan apakah negara sudah lebih baik dalam hal demokrasi.

Prabu Ayesa Hendarwan
Latest posts by Prabu Ayesa Hendarwan (see all)