8 Bacaan Pengantar Memahami Libertarianisme

8 Bacaan Pengantar Memahami Libertarianisme
Ilustrasi: Para Pemikir Libertarian

Tidak mudah memahami libertarianisme. Libertarianisme—sebagai teori maupun praktik—merupakan topik besar dalam perjalanan politik dunia. Memuat banyak varian pemikiran libertarian, mulai dari filsafat, sejarah, dan ekonomi, sehingga mencerna dan memahami maksud tujuannya terbilang sukar.

Karena itu, sebelum melangkah jauh ke arah sana, ada beberapa bacaan pengantar yang bisa memudahkan pembaca untuk memahami libertarianisme. Di bawah ini, kami suguhkan 8 (delapan) buku, kombinasi wacana kontemporer dan buku-buku klasik dalam memahami libertarianisme, yang versi utuhnya bisa dan mudah diakses di mana saja.

1. David Boaz, The Libertarian Mind

Meski tergolong bacaan ringan, The Libertarian Mind karya Boaz ini mampu memberi pengantar secara menyeluruh tentang libertarianisme. Pembahasannya mencakup akar historis libertarianisme dan dasar-dasar filsafat politik serta pemikiran ekonomi libertarian.

Salah satu keunggulan buku ini karena penulisnya, David Boaz, mampu mengaplikasikan ide-ide di dalamnya ke bidang kebijakan publik. Ia mampu menunjukkan bahwa perserikatan dan pasar bebas, bukan campur tangan negara atau koersi dari pemerintahan, adalah pemecah isu-isu krusial dalam kehidupan masyarakat.

2. Frederic, The Law

Karya tulis pemikir Prancis abad 19 ini layak dibaca. Seperti karya Boaz, The Law juga merupakan awal yang tepat dalam memahami libertarianisme.

Keterampilan Bastiat dalam memaparkan, dibalut dengan kecerdasan dan kejeliannya yang hebat, mampu mengantarkan pembaca kepada masalah-masalah mendasar dan tersembunyi di balik sejumlah pemikiran politik dan ekonomi dewasa ini.

Dengan The Law, yang terbit di tahun 1850, kita bisa melibat bagaimana “perampasan legal” atau penyitaan properti yang disahkan negara menjadi satu masalah besar yang harus sampai hari ini belum tertangani secara tuntas.

“Hukum ada untuk menjaga hak asasi manusia,” kata Bastiat. Ketika hukum justru menjadi sarana redistribusi yang dipaksakan, maka hukum tersebut sudah digunakan untuk menghancurkan tujuannya sendiri: memusnahkan keadilan yang sudah menjadi tujuan utamanya; membatasi dan menghancurkan hak-hak asasi di mana hukum seharusnya menghormatinya.

Hukum telah ditempatkan sebagai kekuatan kolektif. Hukum jadi sarana tindakan tidak bermoral, tanpa tanggung jawab, yang terus-menerus mengeksploitasi manusia, terutama kebebasan dan kepemilikan individunya.

3. David Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism

Libertarianisme mewakili spektrum filsafat politik yang punya anggapan umum tentang kebebasan. Model filsafat ini bervariasi, tergantung dari bagaimana peran-perannya dalam pembangunan negara.

Kaum liberal klasik, misalnya, memungkinkan pemerintah menetapkan pajak. Itu untuk menyediakan layanan, termasuk pendidikan dan jaring pengaman sosial.

Sementara kaum minarkis, penganut paham negara minimal, melihat satu-satunya peran sah pemerintah adalah menyediakan perlindungan hak. Perlindungan itu bisa  dalam bentuk polisi, pengadilan, maupun pertahanan nasional.

Yang paling ekstrem adalah kaum anarko-kapitalis. Kelompok ini hendak menghapus negara sama sekali. Peran negara hendak digantinya dengan penyediaan layanan yang murni secara pribadi dan sukarela, termasuk untuk hukum itu sendiri.

Lihat juga: Apa Itu Libertarianisme?

The Machinery of Freedom karya David Friedman ini menawarkan wacana pengantar untuk mengenal lebih jauh apa itu anarko-kapitalisme. Argument dasarnya mengambil perspektif konsekuensialis bahwa negara sama-sama tidak diperlukan untuk mencapai kehendak masyarakat.

Negara, dalam pandangan kelompok anarko-kapitalis ini, malah memperburuk wajah dunia. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Friedman dan analisis yang dia tawarkan sebagai kritik atasnya akan memudahkan kita yang memang gandrung akan ide kebebasan.

4. Milton Friedman & Rose Friedman, Free to Choose: A Personal Statement

Diterbitkan sebagai seri pendamping film dokumenter dengan judul yang sama, Free to Choose, sebuah buku terlaris tahun 1980. Di sini, pemenang Nobel Milton Friedman dan istrinya, Rose, memberikan kritik tegas atas negara intervensionis. Dengan contoh dan penjelasan konkrit, buku ini sangat mudah dicerna.

Free to Choose adalah pengantar yang sangat baik dalam rangka membangun kekuatan produktif terkait ide kebebasan. Buku ini juga merupakan sumber utama dalam analisis ekonomi kebijakan publik.

Keluarga Friedman ini meneliti cara kerja pasar, melihat bagaimana kebijakan yang terkesan baik, seperti upah minimum, akhirnya menindas orang miskin. Di sana ini mereka juga menjelaskan penyebab terjadinya Great Depression.

Free to Choose tidak hanya sebatas pengantar yang sempurna untuk memahami pemikiran Milton Friedman, tetapi juga penting sebagai bahan bacaan, terutama bagi mereka yang kurang menghargai atau yang kerap menyalahpahami Laissez Faire.

5. P.J. O’Rourke, Eat the Rich: A Treatise on Economics

Buku ini berangkat dari pertanyaan kritis: “Mengapa ada beberapa wilayah yang makmur dan berkembang sementara yang lain tidak?”

O’Rourke, salah satu humoris terkemuka Amerika, yang sudah berkeliling dunia, mengunjungi Wall Street, Albania, Swedia, Kuba, Rusia, Tanzania, Hong Kong, dan Shanghai, lalu menggunakan pengalamannya itu untuk menguraikan hubungan antara pasar, institusi politik, dan budaya.

Bukunya, Eat the Rich, meski tampil jenaka, jauh lebih mudah untuk dipahami. Sebagai sebuah risalah tentang ekonomi, buku ini betul-betul sempurna menghadirkan wacana libertarianisme.

6. Ayn Rand, Atlas Shrugged

Buku ini jadi buku paling terlaris sejak diterbitkan tahun 1957. Meski berjenis novel, karya Ayn Rand ini mampu mengubah lebih banyak orang menjadi libertarian sejati daripada buku-buku lainnya.

Atlas Shrugged mengeksplorasi masa depan Distopian, di mana pemerintah dengan antusiasnya merangkul kolektivisme atas nama keadilan dan kesetaraan. Buku ini berfungsi sebagai platform Rand untuk mempromosikan objektivisme, filsafatnya yang komprehensif tentang “keegoisan rasional”, sekaligus mempromosikan manfaat pasar bebas dan kapitalisme dinamis.

7. Matt Ridley, The Rational Optimist: How Prosperity Evolves

Buku ini mengemban banyak sejarah dan pra-sejarah manusia yang memperdebatkan pentingnya pasar bebas—dan melawan mereka yang berusaha membatasinya.

Melalui buku ini, Ridley menawarkan jawaban atas pertanyaan: “Mengapa orang bisa jadi kaya?” Ia menetapkan bahwa pertukaran bebas (pasar bebas) yang jadi pemicu utamanya.

“Sama seperti seks yang melahirkan evolusi biologis secara kumulatif,” tulis Ridley, “begitulah pasar bebas itu bekerja, tanpa tekanan, menyejahterakan.”

8. Thomas Sowell, Basic Economics: A Common Sense Guide to the Economy

Visi libertarian tak sekadar pasar bebas. Pemikiran ekonominya juga sangat menginformasikan pendekatan libertarian terhadap kebijakan publik.

Ketika Anda siap untuk bergerak melampaui pengantar singkat yang disediakan oleh P. J. O’Rourke, Eat the Rich, amak Basic Economics karya Thomas Sowell ini jadi tempat ideal untuk dituju. Sowell menyajikan dasar-dasar penalaran ekonomi dalam prosa jargon bebas yang begitu jelas. Dia membahas segalanya, mulai dari insentif dan peran harga, perdagangan internasional, kebijakan moneter, dan sistem perbankan.

Sowell menunjukkan betapa banyak program pemerintah, yang diberlakukan dengan niat baik, bertabrakan dengan kebenaran ekonomi. Hal tersebut sering kali jauh lebih berbahaya daripada konsep kebaikan itu sendiri.

*Berikut buku pengantar memahami libertarianisme. Diterjemahkan dari tulisan Aaron Ross Powell, Introducing Libertarianism: A Reading List

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)