Abad Ketersinggungan, Rekayasa Entrepreneur Kebencian

Abad Ketersinggungan, Rekayasa Entrepreneur Kebencian
Foto: Shutterstock

Nalar PolitikDalam kesempatannya menyampaikan Pidato Politik Akhir Tahun 2018, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie menyinggung perkara abad ketersinggungan. Menurutnya, kondisi berbangsa dan bernegara hari ini terbalut apik dalam abad penuh amarah.

“Orang menyebut ini adalah abad ketersinggungan, sebuah abad yang penuh amarah; masa ketika politik dipenuhi oleh prasangka yang tumbuh subur akibat meluasnya hasutan dan ujaran kebencian.”

Hal tersebut Grace tegaskan dalam pidato bertajuk Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia. Selain sebagai pidato politik akhir tahun, acara itu juga masih merupakan rangkaian Festival 11 PSI yang kali ini berlangsung di Surabaya, Jawa Timur (11/12).

Istilah abad ketersinggungan itu dimaknai Grace dengan mengacu pada hasil penelitian Cherian George. Penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana ketersinggungan sebenarnya merupakan hasil rekayasa dari para entrepreneur kebencian, produsen-produsen kemarahan dan hoaks.

“Yang memproduksi hasutan dan menyebarkan syak wasangka untuk mendorong timbulnya perasaan palsu; seolah-olah kelompok dihina, seolah-olah ada serangan dari luar; yang pada gilirannya membangkitkan perasaan teraniaya, perasaan ketidakadilan, menciptakan suasana ketersinggungan dan amarah.”

Rekayasa ketersinggungan, lanjut Grace, sebetulnya tak lebih dari cara kotor untuk menyingkirkan lawan politik. Mereka memainkannya sambil menempatkan diri sebagai pahlawan pembela kelompok, yang pada akhirnya itu semua tak lebih dari sebuah cara kotor meraih kekuasaan.

“Begitulah rasa ketersinggungan direkayasa. Begitulah cara politik kebencian bekerja.”

Grace menyayangkan hasutan kebencian semacam ini tersebar melalui media sosial. Bentuk-bentuknya beragam, seperti hoaks, sebuah informasi palsu yang sengaja dibuat menyerupai kebenaran. Dan itu sukar ditangkal.