Absurditas Jalan Damai Konflik Timur Tengah

Absurditas Jalan Damai Konflik Timur Tengah
©CNN Indonesia

Ketika Mesir menandatangani jalan damai berupa perjanjian dengan Israel tahun 1979, yang kemudian disusul oleh Yordania dan Mauritania, penyebutan konflik di Timur Tengah menjadi terkotak-kotak. Konflik Palestina-Israel, misalnya, menjadi lebih sempit—yang semula merupakan konflik besar antara negara-negara Arab dan Israel.

Saat Mesir pertama kali melakukan perjanjian damai dengan Israel, banyak negara-negara Arab mengecam yang kemudian berimplikasi pada pemutusan hubungan dengan Mesir. Saat itu, tindakan diplomatik yang Mesir lakukan memang cukup tepat. Karena Mesir dapat kita bilang sebagai negara yang paling banyak memakan korban atas konflik Arab-Israel.

Misalnya, sejak Gamal Abdul Nasir dan Anwar Sadat memegang tampuk kepemimpinan Mesir, Mesir telah mengalami beberapa kali perang dengan Israel. Akibat kalah perang pada tahun 1967, yang cukup memalukan bagi bangsa Arab, paling tidak Mesir hampir mengalami kebangkrutan, yang salah satu dampak besarnya adalah Sinai (wilayah Mesir) berhasil Israel kuasai dan caplok.

Media Barat memiliki peran penting dalam menggiring opini publik. Dari yang semula merupakan konflik besar antara Arab-Israel, kemudian menyempit menjadi konflik Palestina-Israel.

Kelihaian dan kelicikan Zionis Israel juga ikut andil dalam mempersempit ruang konflik mereka, sehingga hal ini sangat menguntungkan bagi Israel untuk makin memperluas wilayah mereka di Palestina. Sementara di sisi yang lain, Israel membangun hubungan baik dengan negara-negara Arab pasca-perjanjian damai Mesir dan negara-negara lain.

Setelah beberapa kali perang dengan Israel, yang terakhir pada tahun 1973, Presiden Anwar Sadat tampaknya lebih memilih jalan diplomatik daripada perang. Termasuk dalam membantu bangsa Palestina memperoleh kemerdekaannya. Dari perjanjian damai dengan Israel, Mesir akhirnya dapat mengambil lagi wilayah Sinai yang semula Israel caplok.

Namun demikian, bagi Palestina, jalan damai atau perang tampaknya sama saja dan tidak dapat mengubah nasib mereka. Bahkan, tampaknya kini Palestina berjuang sendiri dan negara-negara Arab yang lain tidak peduli dengan nasib Palestina.

Keberadaan organisasi OKI juga tidak membantu atas redamnya konflik Palestina-Israel. Meski tujuan pendirian organisasi tersebut adalah memberi jalan damai bagi konflik Timur Tengah.

Baca juga:

Kondisi di atas ternyata memberikan jalan baru bagi gerakan kelompok ekstremis Islam, khususnya bagi al-Qaidah di Afganistan. Banyak warga Arab yang prihatin sekaligus marah terhadap penguasa mereka yang tampak tidak peduli dengan konflik Palestina-Israel di mana Amerika berada di belakang Israel. Hal ini memicu lahirnya gerakan fundamentalis ekstrem yang mencoba memberi jawaban atas konflik Timur Tengah.

Bagi Barat, Israel sudah menjadi semacam kebenaran yang harus mereka bela. Padahal, keberadaan mereka tak lebih adalah penjajah yang sama busuknya dengan tindakan terorisme.

Hal ini tidak mengherankan jika banyak masyarakat Arab yang apatis dan marah. Negara-negara Arab yang tidak peduli dengan Palestina dianggap telah menerapkan standar ganda. Dan, yang paling menyedihkan adalah Palestina dianggap sebagai teroris karena membahayakan keamanan Israel.

Barat dan khususnya Amerika sebagai negara yang berada di balik perang Timur Tengah tampaknya makin memberikan dampak negatif bagi jalan damai. Misalnya, ketika al-Qaedah berdiri, tujuannya tak lain adalah untuk mengusir penjajahan Uni Soviet atas Afganistan. Namun demikian, ketika mereka berhasil mengusir Uni Soviet, perjuangan mereka kemudian berbalik arah.

Arah baru bagi perjuangan al-Qaedah adalah melawan dan menumpas apa pun yang berasal dari dan terkait dengan kepentingan Barat, khususnya Amerika. Sebagai balasan atas gerakan al-Qaedah ini, Amerika kemudian membuat pasukan koalisi internasional untuk membumihanguskan Afganistan. Mereka menangkap tokoh Taliban dan al-Qaedah yang dicap sebagai teroris.

Banyak kelompok al-Qaedah yang kemudian  melarikan diri di banyak negara-negara Arab yang sedang mengalami kekacauan besar. Orang-orang dari al-Qaedah yang melarikan diri inilah yang kemudian memicu lahirnya banyak gerakan fundamentalis teroris, termasuk ISIS.

Rangkaian peristiwa di Timur Tengah, khususnya Arab Spring, juga memberi titik baru bagi goncangan dahsyat bagi gejolak konflik di negara-negara Arab. Fenomena ini telah banyak menggulingkan para penguasa otoriter dan diktator di negara-negara Arab, seperti menggulingkan kekuasaan Presiden Mubarok Mesir, Zainal Abidin Tunisia, Muamar Kadafi Libia, Ali Abdullah Saleh Yaman. Mereka semua merupakan penguasa kuat yang telah berkuasa lebih dari 20 tahun.

Halaman selanjutnya >>>
Rohmatul Izad
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)