Absurdnya Tuntutan Aksi 299

Absurdnya Tuntutan Aksi 299
Aksi 299

Ada yang tidak beres dengan Aksi 299 tadi itu. Di satu sisi, para demonstran menolak Perppu Ormas atas nama kebebasan berekspresi, tetapi  di sisi lain, mendukung pembungkamannya dengan dalih Tap MPRS tentang pembubaran PKI.

Berlangsung di depan Gedung DPR RI, Jumat, 29 September 2017, mereka meneriakkan dua tuntutannya itu sebagai hak konstitusional mereka selaku warga negara. Itu sah. Patut kita hormati.

Hanya saja, melihat tuntutan massa aksi 299 yang sangat absurd itu, saya jadi berpikir, mereka itu punya otak gak sih? Kalau iya, bisakah otak-otaknya itu difungsikan sebaik mungkin? Setidaknya mampu berpikir sedikitlah tentang bagaimana absurdnya tuntutan aksi sebelum melayangkannya ke hadapan publik. Bikin malu aja dunia pendemonstrasian.

Saya jadi yakin bahwa bukan hanya tuntutannya yang absurd, tapi orang-orangnya pun demikian. Lihat saja koordinatornya, Presidium Alumni 212. Dari dulu memang begitu, aksi-aksi melulu tanpa landasan yang kuat, tanpa pembacaan isu secara matang nan jernih.

Yang mereka tahu hanyalah teriak-teriak. Tak ada intelektualitas yang membaluti agenda-agenda mereka. Sekali lagi, absurd se-absurd-absurdnya. Titik.

Untuk soal penolakan Perppu Ormas, saya sih sepakat jika aturan ini dinilai sebagai hal yang tidak diperkenankan keberadaannya. Betapapun berbeda-bedanya pendapat warga, masing-masing harus dijamin. Dan negara, dalam hal ini para pengurusnya, berkewajiban penuh untuk memberi jaminan itu tanpa syarat.

Bukankah negara fungsinya memang begitu? Apalagi kita hidup dalam naungan sistem demokrasi, maka sudah selayaknya jika Perppu Ormas yang berpotensi mencipta keotoriteran dalam mengambil keputusan itu ditiadakan saja. Ini demi kebebasan warga, hak paling fundamentalnya yang tidak boleh diganggu-gugat oleh apa dan siapa pun.

Tapi, untuk soal penolakan bangkitnya kembali PKI, ada dua kekeliruan mendasar dalam hal ini. Pertama, ya itu tadi, menyalahi prinsip kebebasan berekspresi. Dan yang kedua, PKI sendiri sudah lama mati. Dan yang mati tidak akan pernah bangkit kembali. Itu sih kalau kita memang mau berpikir rasional, berpikir dengan nalar.

Untuk kekeliruan pertama, saya kira sudah tak perlu dibahas lagi. Tapi untuk kekeliruan yang kedua, ini yang mesti kita tegaskan lagi. Dan penegasannya cukup sederhana saja: beriman kok pada ketakutan?

Jika kekeliruan-kekeliruan mendasar seperti itu saja masih kita lakukan, maka good bye-lah, Indonesia. Kejayaanmu tidak akan pernah terealisasi jika anak bangsamu sendiri tidak mampu memakai nalarnya sebagaimana mestinya.

Kubur hidup-hidupnya saja narasi kemerdekaan itu. Tidak akan pernah ada selama anak bangsamu sendiri masih berlaku sedangkal itu.

___________________

Artikel Terkait: