Ada Rindu untuk Nona Adila

Ada Rindu untuk Nona Adila
┬ęGoogle Image

Nona Adila, ada rindu untukmu yang tumbuh bergelora di hatiku.

Suatu hari aku merasa sedang terbang di awan dalam bingkai pelangi. Sambil melantunkan riang lagu syahdu tak bertuan. Lagu yang terlahir dari imajinasi dengan 1001 makna. Membawaku pada ingatan paling pekat yang pernah menyentuh harap paling entah.

Ingatan pekat itu menghantamku dengan dentuman keras yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Meremukkan jiwaku pada rindu kian rapuh. Tapi entahlah biarlah rindu itu abadi bersemi pada relung jiwa. Biarlah bayangan samar-samar yang akan selalu aku dekap kala sepi merayu.

***

Adila, ada rindu untukmu yang tumbuh bergelora di hatiku. Mencintaimu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Percayalah aku akan selalu setia mencintaimu di setiap keadaanku. Ketahuilah ini bukan dusta. Rinai hujan sore inilah yang menjadi saksi bisu segala ucapanku padamu.

“Peluklah erat tubuhku. Kehangatan akan menepis kedinginan yang kian mencekam ini,” kataku pada Adila untuk meyakinkannya bahwa cintaku padanya adalah sebuah ketulusan tanpa pamrih.

“Aku percaya pada bisikan hatiku, kak Rola,” kata Adila sembari menghela napas panjang. “Aku menemukan butir-butir ketulusan di setiap kata yang kakak ucapkan itu. Aku percaya pada kakak,” bisiknya. “Aku merasakan ketulusan yang begitu mendalam. Tatapan mata kakaklah yang menceritakan segala ketulusan tentang cinta kakak padaku. Aku akan selalu mencintai kakak,” lanjutnya sembari memelukku lebih erat.

Hujan yang tak kunjung henti di senja kian kelabu mengisahkan kehangatan pelukan yang romantik. Adila merebah manja pada pundakku. Sesekali ia menatapku penuh rindu. Sesekali juga berbisik padaku.

“Kak, aku mau hidupku terus bersua bersama kakak selamanya. Sampai kita akhirnya menjadi keluarga yang bahagia. Kiranya segala perbedaan antara kita bukan menjadi alasan untuk kita berpisah. Ketulusan hati perihal mencintai baru aku rasakan bersama kak Rola. Kak Rola tak tergantikan dengan yang lain dalam hatiku,” kata Adila penuh harap.

Aku mencoba menatap matanya yang begitu tulus itu untuk meyakinkannya. Terlihat harapan yang besar terbungkus rapi pada matanya.

Senja kini menjelma pekat nan hening. Hujan telah reda menyisakan genangan-genangan tak terawat pada kubangan tak bertuan. Suara binatang malam kini mulai berceloteh lebih riuh dari biasanya. Mungkin mereka tahu kalau di waktu senja yang kini menjelma pekat dua insan yang saling mencintai telah berkomitmen untuk saling menjaga hati.

“Adila, bangun, bangun! Kita harus segera pulang. Kini sudah malam hujan pun sudah reda,” kataku padanya yang sudah lelap merebah di pundakku.

Ia menatapku lembut. Ia terlihat sangat letih setelah seharian bekerja. Maklumlah, aku dan dirinya bekerja sebagai perawat di salah satu puskesmas di kota kami.

Kami menjadi sepasang kekasih karena cinta yang tumbuh begitu saja di antara kami. Mengenai sejauh mana hubungan kami sampai saat ini, mungkin aku akan menjawab sudah sejauh kaki melangkah dan telah menggapai ujung langit. Karena sebenarnya aku dan dia sudah berkenalan sejak berada di bangku kuliah.

***

Ketika awal aku berjumpa, aku mengenalnya sebagai seorang perempuan yang lugu juga pendiam. Kebetulan juga kami satu prodi sewaktu kuliah, jadinya kami sering berjumpa, membuatku mengetahui banyak hal tentangnya. Sejujurnya pertama kali mengenalnya aku telah jatuh hati padanya.

Selain pendiam, Adila juga orangnya tegas dan tertib juga murah senyum. Perangainya begitu menarik. Tidak heran jika banyak teman-teman kuliahku yang ingin meluluhkan hatinya. Aku pun juga bagian dari mereka yang ingin meluluhkan hati nya. Aku terpesona pada seluruh keanggunannya. Pada paras cantiknya juga perangainya yang terlihat lebih menawan.

Pada suatu ketika, aku mengutarakan rasa cintaku padanya. Kala itu saat prodi kami mengadakan kamping di bukit Rindu yang tampak indah. Panorama di bukit itu menyejukkan jiwa, memanjakan mata yang menikmatinya. Aku ingat kala itu di waktu senja terlihat lagi lihai menabur semburat jingga di ufuk barat. Aku melihat Adila tengah duduk sendiri di bawah lembayung senja. Tengah menyulam kehangatan rindu pada seseorang. Entahlah aku hanya menduga.

“Hai, Adila, engkau terlihat begitu setia menatap semburat jingga di ufuk barat itu. Apakah ada ketenangan di sana,” aku mencoba membuka percakapan agar bisa bercerita dengannya.

“Semburat jingga itu membuatku nyaman, kak. Aku merasa sangat beruntung dapat berkunjung di tempat yang indah ini,” kata Adila dengan semangatnya. “Apakah kak Rola tidak menikmati senja yang indah ini?” Ia bertanya padaku memastikan.

Ah, siapa bilang aku juga penikmat senja. Menatap semburat jingga yang bertebaran ini juga memberikanku kenyamanan tersendiri. Juga memberiku banyak inspirasi untuk menulis. Kebetulan juga menulis adalah minatku.

Oleh karena sama-sama pencinta senja, aku mendapat kesempatan untuk duduk bersama dengan Adila, gadis yang secara diam-diam aku kagumi. Kami berbincang-bincang banyak hal dan terasa lebih akrab. Aku mengetahui banyak hal tentangnya. Ia adalah gadis semata wayang dari kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Aku menyadari bahwa aku dan dirinya memiliki perbedaan yang sangat jauh. Namun itu bukan menjadi penghalang bagi kami untuk berteman.

Adila merasa aku sebagai seorang yang tepat untuk menceritakan segala tentangnya. Karena itu ia begitu terbuka bercerita padaku yang awalnya tak begitu dekat. Sembari menatap semburat jingga yang kian pudar, kupingku begitu setia mendengarkan segala cerita darinya. Dia terlihat lebih semangat ketika aku turut duduk menemaninya menikmati senja di bukit Rindu ini. Juga mendengarkan segala curahan hatinya.

“Adila,” aku memanggilnya dengan nada sedikit serak sembari meraih tangannya. “Aku mencintaimu. Iya, Adila, ini ungkapan rasa hatiku yang terdalam. Aku sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali kita berjumpa. Aku tak mau membohongi diriku perihal mencintaimu,” gumamku padanya yang kini berpapasan denganku penuh harap.

Adila terlihat sedikit gugup. Tapi ia berusaha menatap mataku dengan lembutnya. Mungkin ia melihat ketulusan dari mataku, perihal ungkapan rasa hatiku padanya. Ia pun mengangguk pelan. “Kak, aku juga mencintai kakak,” Adila berbisik pelan padaku. Tak aku sadari aku sudah memeluknya erat, sebagai ungkapan kebahagiaan yang terdalam perihal cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Senja kini telah pergi kala remah-remah malam datang melumat dengan ganasnya. Kami telah kembali ke kemah masing-masing. Berkisah dengan rindu yang mencuat oleh namanya jatuh cinta.

Hatiku bak bunga yang bermekaran dengan cerianya di Firdaus. Aku merasa sebagai seorang paling beruntung di dunia karena di senja ini aku mendapat hati gadis yang aku cintai. Ungkapan cintaku diterimanya.

Hubungan asmara kami berjalan lancar sampai akhirnya kami menamatkan studi di sebuah fakultas kesehatan. Dan atas restu yang Maha Kuasa kami ditakdirkan untuk bekerja di tempat kerja yang sama. Kami bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di kota kami. Sehingga membuat hubungan kami menjadi lebih dekat.

Namun sayang kedua orang tua Adila tidak merestui hubungan kami. Perihal perbedaan yang begitu besar di antara kami. Kata orang tuanya, Adila tidak bisa bersatu denganku. Seorang anak dari keluarga terpandang tak dapat bersatu denganku yang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan kecuali tulusnya cintaku padanya. Juga kata mereka aku sebagai lelaki yang tak dapat bertanggung jawab terhadap anak semata wayang mereka. Sebab latar belakang keluarga yang sangat berbeda.

***

Ketika aku baru saja memarkirkan motorku saat mengantar Adila pulang kerja, tepat di pekarangan rumahnya aku telah dibentak dan bahkan diusir oleh ayah Adila. Pernah aku memohon pada ayahnya untuk merestui, tetapi tak pernah dihiraukannya.

“Hati kami telah bersatu, ibu, bapak. Aku sangat mencintai Adila, anak semata wayang bapak dan ibu. Aku merasa mampu bertanggung jawab,” kataku memohon pada orang tuanya.

“Tidak. Tidak. Aku tidak merestui hubungan engkau dan anakku. Pergilah engkau dari rumahku,” Ayah Adila membentakku.

Aku melihat Adila kekasihku terus menitikkan air matanya. Air bening itu terus mengalir membanjiri pipinya membentuk genangan-genangan kecil di lesung pipinya.

***

Penolakan yang diberikan orang tua Adila tidak mematikan semangatku untuk terus mendekatinya. Atau bahkan terus melanjuti hubungan kami. Kami yakin segala tantangan yang ada pasti ada jalannya. Aku dan dirinya tetap kuat dengan keyakinan tersebut.

Pada suatu petang menjelang malam ketika aku mengantar Adila pulang kerja, kami melihat sebuah mobil mewah parkir di depan rumahnya.

“Hai, nak, sudah pulang,” ibunya menyapa.

“Iya, ibu,” Adila membalasnya.

Tampak di ruang tamu seorang lelaki dengan penampilan elegan. Lelaki itu seusiaku. Adila lihat ini dia anak sahabat lama bapak namanya Marko. Dia seorang pemimpin di perusahaan yang terkenal.

“Pasti kamu akan bahagia hidup dengannya dibandingkan dengan si Rola kekasihmu itu yang kolot dan sangat berbeda dengan keluarga kita itu. Lelaki miskin tak berguna,” ayah Adila lagi-lagi mencibirku.

“Kiranya Marko dapat menjadi kekasih yang baik buat kamu dan dapat membahagiakanmu.” Terlihat ayah Adila juga si Makro menatapku sinis. Mereka menganggapku sebagai orang yang tak tahu malu karena masih saja berani mendekati Adila.

“Tidak, pak, aku tetap mencintai kak Rola. Dia adalah lelaki satu-satunya yang tulus mencintaiku. Perbedaan di antara kita bukan berarti tak dapat disatukan karena perbedaan itu sebenarnya adalah keindahan yang tak pernah kita ketahui,” Adila membelaku di depan keluarganya. Tak dimungkiri air bening di pelupuk matanya yang kini berderai makin deras.

“Adila, kamu mau mengikuti bapak atau lelaki tak berguna ini? “ayahnya meraung marah. Dia terus menangis.

“Pak, tolong mengerti perasaan Adila juga perasaanku padanya. Aku begitu tulus mencintainya, pak. Tolonglah restui kami,” aku memberanikan diri untuk angkat bicara.

“Diam kau! Kurang ajar dasar lelaki tak berguna,” ayah Adila marah padaku sembari melayangkan kepalan tinjunya dan mendarat tepat di mukaku. Membuatku jatuh tersungkur.

“Pak, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat bapak marah,” aku memohon pada ayahnya sembari mencium kakinya. Tapi aku malah ditendang membuat hidungku berdarah.

Kulihat si Marko lelaki yang mau dijodohkan dengan Adila itu pergi entah ke mana. Tanpa sepata kata. Kulihat juga ibunya mencoba menahan suaminya yang kini terlihat beringas. Tapi sayang amarah sang ayah tak dapat diredakan.

Karena luapan emosi yang terus bernyala-nyala itu, ayah Adila pun meraih kursi besi di dekatnya untuk memukuliku. Seketika itu juga dilayangkan kursi besi itu ke arahku.

Secepat kilat. Prakkkkk….

Adila kekasihku tersungkur di lantai setelah berhasil mendorongku. Darah segar dari kepalanya berceceran memenuhi ruang tamu. Nona Adila pergi meninggalkanku selamanya.

Nita, 15 April 2021

Latest posts by Latrino Lele (see all)