Adab, Refleksi Sosial Kultur Identitas Bangsa Indonesia

Adab, Refleksi Sosial Kultur Identitas Bangsa Indonesia
©Blogspot

Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi adab atau norma sosial dan tingkah laku terhadap sesama. Eksistensi watak dan perilaku bangsa Indonesia yang lemah lembut bahkan mampu menjadi hujjah bagi negara asing.

Para habaib dan bangsa timur pun telah mengakui bahwa bangsa yang muktikultur ini sebagai baldatun thoyibah. Hal ini terbukti dari fakta historis ketika bangsa Arab mulai menjalin interaksi yang baik dengan masyarakat. Sehingga dalam penyebaran agama dan ideologi, orang Arab mampu memengaruhi warga negara Indonesia, sama halnya dengan negara negara lain ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kepribadian bangsa Indonesia mulai bermetamorfosis menjadi lebih “busuk”. Bahkan saat ini, sifat asli bangsa Indonesia hanya menjadi bayang-bayang semata akibat kehidupan sosial yang cenderung bebas, khususnya bagi pemuda bangsa sendiri.

Gempuran arus globalisasi yang secara tidak langsung mendoktrin generasi milenial memang tak dapat dipandang sebelah mata. Bobroknya moral serta merosotnya akhlak pemuda tentu akan mendapat respons dari generasi sebelumnya serta menjadi contoh bagi generasi mendatang.

Ki Hajar Dewantara selaku tokoh reformis dalam dunia pendidikan Indonesia menyebutkan, akhlak adalah segala soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia pada umumnya, khususnya yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang berupa pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai aplikasinya yang berupa sebuah perbuatan.

Di Indonesia khususnya, barometer sebuah perilaku dapat dikatakan baik apabila tidak menyimpang dari aturan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semisal bersikap sopan santun terhadap sesama, yang muda menghormati yang tua atau yang tua menyayangi yang muda.

Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai insan yang baik apabila ia dapat menjaga kemaslahatan dan menjaga etika serta norma-norma terhadap makhluk. Sebaliknya, seseorang dikatakan memiliki adab tercela jika dalam tingkah lakunya menyalahi norma-norma sosial pada dinamika masyarakat pada umumnya.

Baca juga:

Seorang pepatah mengatakan, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ini bisa ditafsirkan bahwa generasi yang akan datang takkan beda jauh dari generasi sebelumnya, bahkan mampu melampauinya. Semisal dengan masifnya budaya korupsi yang merebak di kalangan akademisi maupun instansi pemerintahan yang telah diketahui bersama. Jika tidak ditanggulangi sejak dini, eksistensi korupsi tentu akan memengaruhi generasi yang akan datang.

Para akademisi maupun koruptor memang bukan orang-orang yang kurang ilmu. Masyarakat pun mempercayai terhadap kredibilitas mereka sebagai orang yang hebat dalam beretorika dan berdebat. Akan tetapi, etika dan norma-norma sosial sebagai wasilah dalam berinteraksi menjadi masalah tersendiri bagi para intelektual yang memprioritaskan ilmu dan menafikan akhlak.

Dalam konteks ini, eksistensi ilmu pengetahuan umum memang patut diunggulkan, tetapi akhlak jangan sampai dianaktirikan. Hal itu dikarenakan korelasi antara ilmu dan akhlak tidak dapat dipisahkan dan harus dijalankan secara sinkron.

Belakangan ini, publik digemparkan dengan sikap Arteria Dahlan, seorang politisi muda yang menjadi trending atas aksinya di beberapa media. Seperti halnya dalam acara Mata Najwa, perbuatan yang dilakukan beliau telah banyak menuai kontroversi dan cuitan dari masyarakat.

Publik menilai perbuatan yang dilakukan oleh beliau tidak mencerminkan adab mahmudah terhadap lawan bicara. Terlebih ketika beliau menunjuk serta mengeklaim Prof. Emil Salim dengan sebutan sesat. Sehingga, muncul stigma pada masyarakat yang menjadi geram dan muak dengan sikap beliau yang “gila hormat”.

Jika dikaitkan dengan eksistensi akhlak sesuai dengan sosial kultur bangsa Indonesia, maka sikap dari politisi tersebut telah menyimpang dari norma kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Terlebih dapat mencederai citra dan identitas bangsa Indonesia di mata publik.

Urgensi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter merupakan salah satu langkah efektif dalam upaya pencegahan lunturnya karakter anak bangsa. Dengan adanya pendidikan karakter di kalangan intelektualis, interaksi antarmasyarakat akan mampu menjadi cerminan yang lebih baik. Sehingga, keterkaitan hubungan emosional antara keduanya menjadi harmonis dan dapat dicontoh bagi generasi berikutnya.

Eksistensi pendidikan karakter telah digagas sejak era founding father kita, Presiden Soekarno. Kemudian dikuatkan lagi oleh Presiden Jokowi yang disebut dengan istilah “Revolusi Mental”.

Akan tetapi, selama diterapkannya, pendidikan karakter tidak sepenuhnya berjalan mulus. Kuatnya budaya asing serta dampak globalisasi telah mampu mengubah pola pikir serta gaya hidup pemuda saat ini. Hanya dengan sedikit mengimingi pemuda agar terlihat viral dan menghebohkan publik, mereka dengan senang hati menjual adab demi melakukan perbuatan di luar batas norma sosial.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut acap kali diikuti oleh masyarakat dengan dalih “trend kekinian”. Oleh karenanya, perlu adanya tindakan tegas dalam memperkuat adab masyarakat agar mampu memilah dan memilih hal bersifat positif dan hal yang berdampak buruk bagi keberlangsungan hidupnya.

Dalam upaya pencegahan masuknya budaya asing, salah satu langkah yang efisien dan progresif dalam menanggulangi hal ini adalah dilaksanakannya pesantrenisasi. Pesantrenisasi merupakan salah satu langkah untuk merefleksi kaum intelek dalam memahami ilmu agama secara kafah dan menjauhi pemikiran sekularis.

Hal ini dimaksudkan agar mereka mampu memahami batasan perilaku yang telah termaktub di dalam kitab suci. Sehingga, mereka memiliki paradigma tersendiri yang telah diatur serta diajarkan agama.

Sampai saat ini, pesantren menjadi icon agamis yang mampu mencegah inflasi budaya asing di Indonesia. Melalui ciri khasnya yang menggambarkan watak asli bangsa Indonesia, pesantren tidak melulu mengajarkan ilmu dan menebarkan adab. Akan tetapi, pesantren pun memberikan pengajaran agamis yang mampu menyatukan ilmu dan adab agar menjadi sinkron.

Dalam artian, nilai-nilai intelektualis dan emosionalis akan lebih sempurna jika dua hal tersebut disinkronkan dengan perbuatan yang bernilai spiritual.

Baca juga:
Agil Mulya Gaffar
Latest posts by Agil Mulya Gaffar (see all)