Agama Adalah Produk Budaya

Agama Adalah Produk Budaya
©Mitologia

Kenyataan bahwa agama merupakan produk budaya jelas berimplikasi pada sikap manusia dalam menghadapinya. Sebagaimana diterangkan oleh Agnostik Indonesia, nilai-nilai agama menjadi tak perlu lagi untuk disakralkan. Bukan hal yang perlu ditakuti sedemikian rupa dengan ancaman-ancaman dosa dan neraka.

“Kita tidak bermaksud untuk mengesampingkan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam agama. Namun, dengan memahami hal ini, kita dapat lebih jernih dan bijak dalam memilah dan mengambil keputusan moral dalam kehidupan kita.”

Karena itu, klaim-klaim usang seperti doktrin keselamatan dan kekafiran dapat segera manusia tinggalkan. Ini berefek pada pelepasan segala prasangka terhadap sesama manusia dan menjalani kehidupan secara lebih berwibawa sebagai orang-orang yang bebas.

Melalui kicauannya hari ini, warganet berakun @Mentimoen juga menegaskan perkara serupa. Oleh sebab agama merupakan produk budaya, maka membuat perbedaan antara produk agama dan budaya menjadi tidak dimungkinkan.

“Karena ajaran agama pada dasarnya merupakan produk budaya juga. Agama-agama paling besar di Indonesia adalah produk Timur Tengah.”

Argumen Pembuktian

Berikut ini paparan sejumlah argumen yang membuktikan bahwa agama memang benar sebagai produk budaya. Bahwa agama tidak akan pernah bisa dilepaskan dari bingkai sejarah manusia.

1. Bahasa Teks Agama

Sebermula kala, teks-teks agama manampakkan wujudnya melalui bahasa. Dan kenyataan bahwa bahasa atau tulisan merupakan produk budaya manusia, maka menjadi satu bukti valid bahwa agama juga produk budaya yang dimaksud.

2. Fitur Agama

Konsep tuhan dalam agama dikonstruksi berdasar refleksi manusia. Tuhan dibayangkan sebagai sesuatu yang berpikir, punya emosi, serta memiliki kehendak layaknya manusia. Hingga titel-titelnya pun, seperti Bapa, Raja, Tuan, semuanya bersumber pada sistem hierarki dalam kehidupan sosial.

Terdapat pula fitur-fitur budaya macam pedang dan seruling. Misalnya, malaikat dicontohkan membawa pedang atau dewa yang bermain-main dengan seruling. Lagi-lagi ini contoh valid bagaimana makhluk-makhluk ilahi ternyata menggunakan benda-benda penemuan manusia.

***

Menghadapi kenyataan di atas, tentu sebuah ironi tersendiri jika otoritas agama kerap berkilah. Bukan sepantasnya lagi jika mereka sering melakukan klaim bahwa, baik bahasa teks maupun fitur-fiturnya, merupakan sesuatu yang “turun dari langit”.

Klaim semacam itu, selain tak berdasar, justru menunjukkan narsisme dan obsesi berlebih terhadap konsep kesucian secara membabi-buta. [tw/ai]

Baca juga: