Agama dan Perannya dalam Masyarakat

Agama lahir bukan untuk merusak. Ia ada untuk mengatur, memperbaiki setiap sendi hidup dan segala lini penghidupan masyarakat.

Jauh hari sebelum ini, Islam sudah datang dengan misi mulia itu. Melalui Muhammad, Islam terterap sebagai agama rahmatan lil alamin: membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua, seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan, jin, juga manusia.

Benar, semua orang sudah tahu. Sayang, tak semuanya tahu bagaimana menerapkannya secara adil nan bijak. Fakta bicara, seolah hendak menunjukkan sisinya yang berlainan.

Orang-orang (agamawan) yang seharusnya mengemban misi/amanah itu, kerap menjadikannya ladang kepentingan. Mereka justru mengaburkan niat sucinya untuk kehidupan segenap mahluk Tuhan hanya demi kepentingan sepihak.

Bicara tentang agama, tentu tak lepas dengan pengetahuan akan masyarakat. Keduanya saling bersinergis, punya keterkaitan di antara satu lainnya.

Hal ini dibuktikan dalam pengetahuan tentangnya yang pada dasarnya meliputi penulisan sejarah tentang fiqur nabi dalam mengubah tatanan sosial kehidupan umat, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan), sampai kepada pengalaman agama yang diperkenalkan banyak orang.

Dari bukti-bukti pengetahuan ini, sangat bisa dikatakan, ia merupakan salah satu tempat mencari makna hidup. Ia yang diyakini terlebih sebagai sumber motivasi tindakan individu dalam interaksi sosialnya. Olehnya, agama dan masyarakat tentu bukan merupakan hubungan yang seharusnya bersifat antagonis.

Sejatinya, apa yang menjadi aturan-aturan di dalamnya yang itu diterapkan pada sistem sosial kemasyarakatan, menekankan pada hal-hal yang normatif. Ia harus mengisyaratkan kepada hal-hal yang sebaiknya serta seharusnya dilakukan, baik oleh individu maupun masyarakat yang menganut sistem nilai yang terkandung di dalamnya.

Peran Agama dalam Masyarakat

Untuk mendiskusikan fungsi/peran agama dalam kehidupan masyarakat, tiga aspek ini penting ketahui, yang selalu dipelajari dalam memahaminya, yakni kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian.

Ketiga aspek ini merupakan bagian kompleks fenomena sosial yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia. Sehingga, timbul berbagai pertanyaan tentang sejauh mana fungsi lembaga keagamaan dalam memelihara sistem sosial yang berlaku, apakah lembaga tersebut terhadap kebudayaan adalah sebuah sistem yang tak terpisahkan, atau sejauh mana agama dapat mempertahankan keseimbangan pribadi dalam melakukan fungsinya.

Sejumlah pertanyaan di atas timbul karena sejak dulu hingga sekarang, agama masih diamini sebagai sesuatu yang ada. Ia dinilai  punya fungsi, bahkan memerankan sejumlah di antaranya sejauh ini.

Perlu juga diketahui bahwa tiap manusia yang berbudaya pasti menganut berbagai nilai, gagasan, dan orientasi yang terpola. Tujuannya, yakni untuk mempengaruhi perilaku tiap individu dalam bertindak sesuai konteks zamannya.

Jika kita menarik ke dalam teori fungsionalisme, agama di sini dipandang sebagai penyebab sosial di mana membentuk berbagai lapisan sosial dalam masyarakat, perasaan tentang kegamaan, sampai kepada konflik-konflik sosial yang kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan dasar yang dapat dipenuhi oleh nilai-nilai duniawi. Hematnya, seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan. Agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.

Fungsinya dalam hal pemeliharaan masyarakat tentunya harus memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Sebagai contoh, sistem kredit dalam masalah ekonomi di mana sirkulasi sumber kebudayaan suatu sistem bergantung pada kepercayaan yang terjalin antara manusia.

Bahwa mereka akan memenuhi kewajiban bersama dengan janji sosial di antara mereka. Ia juga menciptakan suatu ikatan bersama, baik antara individu-individu masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang mempersatukan mereka.

Dalam hal menjalin sosialisasi kepada individu, fungsinya ini pun sangat berperanan penting. Ketika individu mulai beranjak dewasa, tak bisa dipungkiri bahwa individu tersebut pasti membutuhkan suatu sistem nilai sebagai tuntutan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam kehidupan masyarakatnya.

Sebagaimana yang diketahui banyak kalangan bahwa ia juga berfungsi sebagai “tujuan akhir” pengembangan kepribadian tiap individu. Orangtua tidak akan mengabaikan upaya “moralisasi” anak-anaknya.

Dan untuk mengupayakan hal tersebut, salah satu upayanya, yakni memberikan pendidikan agama di mana mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut, harus beribadah secara teratur serta continue.

Dari pemaparan di atas, sedikit banyak dapat disimpulkan bahwa sistem nilai itu merupakan penyeimbang kehidupan. Ia merupakan sumber motivasi, sumber nilai, serta sumber inspirasi tiap-tiap individu guna mengemban amanah dalam berkehidupan.

Sebagai sumber motivasi, nilai, serta inspirasi, haruslah ia selalu siap diperhadapkan dalam tuntutan zaman yang kian hari semakin berkembang. Ia yang tidak mengikuti prosedur-prosedur itu, secara pasti bisa dikatakan bahwa ia merupakan yang primitif.

Sebagai individu yang beragama, tentunya klaim tersebut tidak diperkenankan. Dengan demikian, kita justru akan terus berusaha untuk tetap menjaga eksistensi agama sebagaimana seharusnya, sebagai sumber motivasi, sumber nilai, serta sumber inspirasi yang tetap dan masih akan relevan dengan konteks dewasa ini.

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)