Agama sebagai Pedoman Tingkah Laku Manusia

Agama sebagai Pedoman Tingkah Laku Manusia
©Suara

Agama sebagai Pedoman Tingkah Laku Manusia

Tafsiran ideologis atas cerpen “Saya Menikahi Seorang Ateis” karya Nanda Winar Sagita

Manusia tidak hanya menjadi makhluk sosial, berakal budi, ekonomi, tetapi juga merupakan makluk beriman. Manusia memiliki kepercayaan akan sesuatu yang berada di luar jangkauan rationalitas kemanusiaannya. Untuk menjangkaunya, manusia memerlukan perangkat keimanan sembari memisahkan diri dari pengaruh rasionalitas. Aktualisasi dari keberimanan dapat diidentifikasi melalui pilihan manusia untuk memeluk sebuah agama.

Agama tidak hanya dipandang sebagai institusi sosio-religius di mana ada perkumpulan manusia yang seiman, tetapi lebih jauh dari itu dipandang sebagai pedoman, tuntunan yang mengatur pola tingkah laku manusia.

Pedoman dan tuntuntan yang dikandung agama bersifat mengikat. Artinya, mau tidak mau manusia yang sudah memilih untuk mengimani sebuah agama harus bisa menjalankan aturan-aturan, norma yang diajarkan. Sifat mengikat ini menimbulkan pembangkangan dalam diri manusia yang ingin lepas bebas. Jangan heran kalau manusia beriman pada level KTP agar tidak divonis ateis, namun tidak pada level praksis.

Dewasa ini, jagat Indonesia dihebohkan dengan serentetan informasi seputar pembunuhan, korupsi, perkelahian, dan lain sebagainya. Fenomena-fenomena tersebut memberikan gambaran akan degradasi moralitas dan norma hidup. Kenyataan-kenayataan itu menunjukkan betapa humanitariarisme serta agama sebagai sumber nilai tidak berperan nyata dalam mengantarkan umat manusia menuju kehidupan yang lebih sejahtera, tenang, dan penuh kedamaian.

Tillick dalam Abd A’la (2009) dengan telak menyindir kenyataan ini dengan menyatakan gereja (agama) telah kehilangan fungsi karena nilaianya tidak mampu lagi menyentuh kehidupan nyata. Fenomena seperti itu nyaris tidak banyak berbeda dalam dunia Islam (Abd A’la 2009).

Menurunnya kadar moralitas manusia dewasa ini dapat disignalir disebabkan oleh hilangnya kepatuhan dan penghayatan terhadap agama yang diimani. Hal ini menyebabkan manusia menjadi kehilangan kendali dan hidup di bawah dorongan dan keinginan pribadi yang sewenang-wenang. Oleh karena itu, adalah penting untuk membangun kesadaran manusia untuk kembali bahwa agama tak sekadar beriman tetapi juga berbuat.

Pentingnya Menjadi Manusia Beragama: Antitesis Ateis

Ada banyak sekali alasan manusia membutuhkan agama. Walaupun tidak semua manusia saat ini di dunia sekarang tidak memiliki agama, namun pada hakikatnya manusia butuh agama. Mereka yang tidak memiliki agama disebut dengan ateis dan pandanganya disebut ateisme. Orang-orang ateis tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka lebih percaya kepada ilmu pengetahuan yang bersifat empiris dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Indonesia sebagai Negara yang pluralis menganut lima agama besar, yakni Katolik, Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan Konghucu. Keenam agama ini menjadi tonggak hidup spiritual manusia dalam bertindak di masyarakat.

Baca juga:

Kamus Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Beragama berarti menaruh kepercayaan kepada sesuatu yang lebih tinggi. Dengan kata lain, beragama berarti beriman atau menaruh kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menjadi manusia beragama berarti tidak hanya sekadar beragama di KTP tetapi benar-benar menjadi menghayati apa yang diimani dalam praksis hidup harian.. Demikian pun sebaliknya. Uraian mengenai pandangan ini tertuang dalam perkataan:

“Tapi hidup abadi itu cuma dongeng, Sayang,” kata saya. “Dan, setelah mati, Tuhan hanya menyediakan dua tempat untuk kita: surga atau neraka.”

Surga dan neraka adalah dua dunia yang akan dihidupi ketika kehidupan di dunia berakhir. Manusia nampaknya tak peduli dengan idelogi agama yang menyakini bahwa ada hidup setelah kematian yang pasti. Apa yang diperbuat di bumi menjadi ‘bekal’ ketika maut menjemput manusia.Jika yang dilakukan hal yang baik maka Surga akan menjadi miliknya. Jika tidak maka nerakalah tujuan akhir dari hidupnya.

Karya Sastra dan Ideologi

Karya sastra merupakan cermin sosial. Artinya, segala realitas yang terjadi dalam sejarah hidup manusia direkam oleh seorang penulis kemudian dituangkan dalam tullisan. Realitas dunia itu bisa berkaitan dengan aspek sosial, budaya, ekonomi, bahkan keagamaan.

Cerpen sebagai salah satu karya sastra dapat dipahami sebagai prosa naratif yang membutuhkan waktu setengah, satu, hingga dua jam dalam membacanya (Hudson dalam Waluyo, 2011).  Pembaca tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk melahap sebuah cerita pendek. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cerita pendek salah satu prosa naratif yang hanya dibaca sekali duduk.

Saya Menikahi Seorang Atheis merupakan judul sebuah cerita pendek yang mengangkat realitas spiritual manusia yang dibalut ideologi keagamaan. Nanda dalam paragrap pembuka secara ‘nakal’ menyitir “Kalau keindahan surga hanya sebatas gambaran kitab suci atau imajinasi Dante dalam The Divine Comedy,” kata Siti Zindiki, istri saya, “maka aku tidak tertarik untuk mati.” Perkataan ini memberikan kesan implisit akan sikap skeptis bahkan kegoncangan yang dialami oleh tokoh Siti. Terlepas dari perkataan di atas, tentu perlu untuk dicermati secara lebih mendalam.

Hidup manusia merupakan sebuah perjalanan panjang menuju kepada Sang Empunya. Mulai dari kelahiran hingga pada kematian. Paolo Coelho dalam Novelnya Sang Alchemist pernah berujar bahwa waktu untuk mencari Tuhan adalah hidup. Waktu untuk menemukan Tuhan adalah mati. Dalam perjalanan hidup tersebut manusia selalu dihadapkan pada beribu pilihan yang beriman atau atheis? Terhadap pilihan tersebut manusia diberi kebebasan untuk memilih dan memutuskan kepercayaan mana yang hendak dianut.

Baca juga:

Tak dapat kita sangkal bahwa dalam kehidupan nyata, agama dengan segala norma dan peraturan terlangkahi demi kepentingan manusiawi. Konsekuensinya, manusia harus bersedia menerima sanksi spiritual berupa dosa. Hal inilah yang tokoh dalam cerita pendek Aku Menikahi Seorang Atheis alami. Dosa membuat manusia menjadi jauh bahkan meninggalkan Tuhan yang diimani. Akibatnya, manusia menjadi pribadi yang atheis.

Agama merupakan salah satu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dalam kehidupan sehari-hari, agama dapat dipandang sebagai pedoman bertingkah laku atau bertutur kata. Aturan, norma, dalam agama bersifat mengikat. Artinya mau tidak mau harus kita terapkan dalam kehidupan bersama. Hal ini dapat kita pahami karena meskipun bersifat memaksa namun sarat akan nilai-nilai serta moralitas hidup.

Jetho Lawet
Latest posts by Jetho Lawet (see all)