Ahok, Pemicu Kejayaan Asian Games 2018

Ahok, Pemicu Kejayaan Asian Games 2018
Ahok saat serah terima bendera Komite Olimpiade Asia (Asian Games pertama) di Incheon, Korea Selatan | Foto: Dita Alangkara

Mungkin tak banyak orang menyangka: di balik kejayaan Asian Games 2018, ada nama Ahok sebagai pemicu utamanya. Berbekal ekspektasi dan tekad yang kuat, Ahok akhirnya mampu menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah yang memetik-serta kejayaan di ajang olahraga se-Asia ini.

Tentu saja ada beberapa alasan kenapa Ahok layak mendapat predikat “pemicu kejayaan Asian Games 2018”. Melalui catatan Facebook-nya, warganet Ramadhan Syukur membeberkannya, yang kami rangkum dalam Nalar Warga sebagai berikut:

Nalar Warga Hari ini perhelatan Asian Games selesai sudah. Tapi kita jangan lupa pada peran Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang saat itu masih menjabat Wakil Gubernur DKI. Kita layak berterima kasih pada “orang hebat” satu ini. Karena?

Pertama, dia yang nekat menerima tawaran Asian Games diadakan di Jakarta (dan Palembang), setelah Vietnam mundur sebagai tuan rumah karena krisis ekonomi. Dia bertekad, di sinilah saatnya kita mengenalkan Jakarta ke penjuru dunia. Untuk itu dia siap membenahi Jakarta sebaik mungkin dengan cara menggandeng pihak swasta untuk membangun infrastruktur, bukan mengandalkan APBD. Salah satu hasil karya gemilangnya: Simpang Susun Semanggi.

Kedua, dia yang dipercaya mewakili Indonesia pada saat serah terima bendera tuan rumah Asian Games XVII di Incheon, Korea Selatan. Simbol tersebut diserahkan dari perwakilan Korea Selatan kepada Presiden Dewan Olimpiade Asia Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah, yang kemudian menyerahkan kembali simbol-simbol itu kepada perwakilan Indonesia, disaksikan Gubernur Palembang dan Ketua KONI Rita Subowo.

Ketiga, dia pernah bilang ke Jokowi bahwa dia ingin Asian Games 2018 di Jakarta harus lebih WAH dibandingkan di Guanzhou 2010 dan Incheon 2014. Belajar dari kesuksesan Cina menyelenggarakan pesta olahraga Asian Games maupun Olimpiade dengan kemajuan teknologi, Ahok berharap Asian Games 2018 bisa benar-benar memuaskan.

Keempat, dia yang ngotot minta ke KONI untuk mengurus atlet dengan serius dan baik, supaya Indonesia bisa masuk peringkat satu digit. Jangan dua digit (2014 Indonesia cuma nangkring di peringkat 17). Minimal peringkat 7 atau 9, bolehlah. Begitu tekad Ahok waktu itu yang kemudian digaungkan kembali oleh Jokowi.

Kelima, dia yang berani menerima tawaran Tiongkok dan Australia untuk menyaring dan melatih atlet-atlet Indonesia yang berkualitas serta berpengalaman di kejuaraan. Dilatih selama tiga tahun di sana, atau mereka ke sini, supaya siap berlaga di Asian Games XVIII Jakarta Palembang. Tentu saja dengan insentif hadiah yang layak.

Dan ekspektasi orang baik yang dulu serasa muluk itu tercapai dan bahkan melampaui target. Indonesia memperoleh 31 medali emas dan bertahan di peringkat ke-4. Gak masalah walau akhirnya dia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan kemegahan dan kemeriahan pesta olahraga se-Asia itu.

Tapi lewat sahabat dekatnya, Ahok pastilah bersyukur dan yakin Pak Jokowi gak pernah melupakan cita-cita dan tekad mulia mereka bersama.

Ingat pesan orang bijak. Kamu boleh benci setengah mati pada seseorang yang pernah kamu kenal, tetapi jangan pernah melupakan seujung kuku pun kebaikan yang pernah dilakukannya padamu.

Terima kasih, Pak Basuki Tjahaja Purnama. Salam Indonesia, energy of Asia.

*Ramadhan Syukur

Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet