AHY Jadi Menteri, Anak Muda Jangan Apatis Lagi

AHY Jadi Menteri, Anak Muda Jangan Apatis Lagi
©RRI

AHY Jadi Menteri, Anak Muda Jangan Apatis Lagi

Akhir-akhir ini pemberitaan media massa diisi oleh pelantikan Agus Harimurti Yudhoyono atau yang lebih dikenal sebagai AHY menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Dilansir dari CNBC Indonesia, Ketua Umum Partai Demokrat itu dilantik pada Rabu (21/02/2024) di Istana Kepresidenan. Masuknya AHY ke dalam jajaran Kabinet Jokowi di terakhir masa jabatannya membuat saya tidak heran akan peristiwa tersebut.

Partai Demokrat tidak lagi berada di barisan oposisi semenjak mendukung Prabowo-Gibran dalam kontestasi pemilu 2024. Dengan dukungan yang diberikan, secara implisit mengatakan bahwa posisi Partai Demokrat adalah mendukung kebijakan Jokowi yang sejalan dengan visi dan misi dari pasangan 02 itu, kontras dengan perjuangan yang dilakukan selama hampir 10 tahun.

Peluang Besar AHY Masuk Jajaran Menteri di Kabinet Prabowo-Gibran

Masuknya AHY ke dalam jajaran Kabinet Jokowi membuka peluang besar untuk kembali masuk dalam Kabinet Prabowo-Gibran. Hal tersebut bukan hanya karena Jokowi melantik AHY sebagai Menteri, tetapi juga karena Partai Demokrat menjadi partai pengusung Prabowo, sehingga harus ada balas budi untuk setiap keringat yang dikeluarkan.

Hal ini memang lazim dilakukan oleh pemenang. Terlebih adanya pertemuan antara Prabowo dengan SBY. Dikutip dari Kompas.id, pertemuan tersebut terjadi pada Sabtu pagi (17/02/2024) di Pacitan, Jawa Timur.

Menurut Prabowo, kunjungan yang dilakukan olehnya bertujuan untuk berterima kasih atas dukungan yang telah diberikan. Namun justru saya menduga bahwa ada kepentingan dalam pertemuan antara Prabowo dengan SBY. Sebuah peristiwa antar elite politik yang sering terjadi atas dasar kepentingan namun dikemas dengan kata “berterima kasih”.

Mungkin saja kepentingan tersebut berkaitan dengan posisi AHY di pemerintahan nanti. Yang jelas, kepentingan itu terkadang bukan mengatasnamakan rakyat.

Baca juga:

Strategi AHY Mengerek Popularitas

Peristiwa-peristiwa politik yang akhir-akhir ini terjadi pada Partai Demokrat tentu membawa angin segar. Partai yang hampir 10 tahun tidak menjadi bagian dari istana kini bisa bernapas lega.

Masuknya Partai Demokrat ke dalam koalisi yang memenangkan pemilu dan dilantiknya AHY sebagai Menteri ATR/BPN oleh Jokowi kemungkinan besar dapat mengerek suara Partai Demokrat, terlebih jika AHY kembali masuk dalam Kabinet Prabowo-Gibran dan tidak di-reshuffle.

Hal tersebut bisa saja dijadikan sebagai strategi oleh AHY dan juga Partai Demokrat untuk mendapatkan suara yang banyak sehingga dapat kembali menjadi salah satu partai yang memainkan peran utama dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Jabatan Menteri seperti dijadikan batu loncatan untuk mengerek popularitas termasuk partai politik yang menaunginya.

Sikap Elite Politik yang Membingungkan

Sebagai anak muda, peristiwa yang terjadi pada AHY dan Partai Demokrat menjadi salah satu dari sekian banyak peristiwa politik yang membingungkan. Pada pemilu 2019, saya mengingat betul terjadinya pertarungan politik yang sengit tidak hanya di antara Joko Widodo sebagai petahana yang melawan kembali Prabowo Subianto, tetapi juga di antara partai pendukung utama, PDIP dengan Gerindra.

Para pendukung Jokowi dan Prabowo pun ikut andil dalam mengerahkan dukungannya serta menguliti satu per satu rekam jejak yang buruk dari rival politiknya.

Seperti yang dilakukan oleh pendukung Jokowi yang terus menyerang Prabowo dengan dugaan kasus pelanggaran HAM pada 1997-1998. Seperti yang dilakukan oleh Agum Gumelar yang terang-terangan mengatakan bahwa Prabowo terlibat dalam kasus tersebut. Namun pada pemilu 2024, Agum Gumelar berada di barisan kelompok pendukung Prabowo.

Hal yang sama pun terjadi pada Gerindra. Selama lima tahun atau pada masa pemerintahan Jokowi yang pertama, kritik pedas dengan menelanjangi semua kebijakan Jokowi dilakukan oleh Gerindra. Peran oposisi yang dimainkan oleh partai tersebut ternyata harus patah berkeping setelah Prabowo menerima pinangan Jokowi untuk menjadi Menteri Pertahanan pada 2019.

Tidak hanya itu, Budiman Sudjatmiko, seorang aktivis 98 dan kader PDIP yang konsisten bersuara keras tentang pelanggaran HAM masa lalu kini berbalik Arah. Budiman resmi menyatakan dukungannya kepada orang yang selalu dia kritik mengenai kasus pelanggaran HAM, Prabowo Subianto.

Halaman selanjutnya >>>
Dwi Aryanti
Latest posts by Dwi Aryanti (see all)