Akan Kedaluwarsa, Auktor Intelektualis Pembunuhan Munir Belum Jua Tertangkap

Akan Kedaluwarsa, Auktor Intelektualis Pembunuhan Munir Belum Jua Tertangkap
©MI

Nalar Politik – Meski hak penuntutan pada kasus pembunuhan Munir Said Thalib akan kedaluwarsa, auktor intelektualis pelanggaran HAM itu belum jua tertangkap. Hal ini sangat disesali oleh Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM).

Demi menghindari masa kedaluwarsa itu, KASUM, pada 7 September 2020, telah mengajukan permohonan agar kasus pembunuhan Munir ditetapkan sebagai pelanggaran HAM berat. Permohonan ini kembali diajukan pada Senin, 6 September 2021, dalam pertemuan dengan Komnas HAM secara daring.

Namun, sampai hari ini, harapan untuk itu belum jua terealisasi. Padahal, dengan ditetapkannya kasus pembunuhan Munir sebagai pelanggaran HAM berat, maka masa kedaluwarsa untuk penuntutannya tidak akan berlaku lagi, sehingga dapat dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap siapa auktor intelektualis pembunuhan Munir.

“Pendapat komisioner masih beragam. Ada yang melihat bahwa kasus pembunuhan Munir sulit dikategorikan dengan berbagai pertimbangan. Ada pula yang melihat bahwa dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat meskipun korbannya hanya satu,” kata Komisioner Komnas HAM, Sandrayati Moniaga, saat menerima KASUM.

Komisioner masih berdiskusi intensif soal unsur serangan yang meluas dan serangan sistematik pada perkara pembunuhan Munir sesuai ketentuan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

“Kami terus berupaya dengan hati-hati dan teliti agar komisioner dapat bersuara bulat saat mengambil keputusan,” tambah Sandrayati.

Seperti diketahui, Munir meninggal akibat diracun senyawa arsenikum saat menumpangi pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan 12 jam dari Jakarta ke Bandara Schipol, Belanda. Setelah 17 tahun, pembunuhan yang terjadi pada 7 September 2004 itu masih dikategorikan sebagai pembunuhan berencana biasa.

Setahun lagi, berdasarkan Pasal 78 Ayat (1) Angka 4 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, kasus pembunuhan ini akan kedaluwarsa alias dianggap gugur lantaran telah mencapai 18 tahun.

“Dengan bukti temuan Tim Pencari Fakta dan dokumen sidang perkara pembunuhan Munir, KASUM yakin pembunuhan Munir dapat dimasukkan dalam kategori pelanggaran HAM berat sehingga Komnas HAM dapat membuat tim penyelidik ad hoc untuk menuntaskan perkara tersebut,” jelas Sekretaris Jenderal KASUM, Bavitri Susanti.

Pada 2020, KASUM telah menyerahkan pendapat hukum (legal opinion) kepada Komnas HAM agar kasus pembunuhan Munir dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat. KASUM menduga, auktor intelektualis pembunuhan Munir belum tersentuh hukum.

Adapun mereka yang telah diadili terkait kasus tersebut, menurut KASUM, hanyalah aktor lapangan, seperti eks pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus, dan eks Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN), Muchdi Purwoprandjono. [ko]