Akhir Cinta Kukila

Akhir Cinta Kukila
Lukisan pensil karya Penny

Kukila terus saja menendang bantal-bantal berisi bulu ayam yang tertumpuk di lantai kios kasur abangnya. Sementara si abang bengong melihat ulahnya sambil memegang mangkuk mi ayam di depan pintu pagar.

“Woy! Peyang lu ntar gue tonjok. Brenti, kagak?” Si abang kemudian masuk ke dalam kios. Dan setelah meletakkan mangkoknya, ia menyambung sambil melotot gemas, “Ape sih masalah, lu? Bantal gue remuk. Tekor gue punye adik seperti  lu.”

Namun Kukila melanjutkan aksi tendangnya sampai sebuah bantal akhirnya mencelat dan jatuh ke tiang teralis berujung tajam. Kulit bantal itu sobek, bulu-bulu ayam bertebaran ke mana-mana. Geram si abang, ditariknya bahunya kemudian ia pukuli sampai anak remaja itu terduduk dan terisak kesakitan.

“Ampun, Bang. Ampun!”

“Gue nanya, ape sih masalah, lu?”

Kukila beringsut ke pojokan. Ditenangkannya napasnya yang tersengal karena takut baru saja dihajar.

“Abang, sih, ga mau ngasih duit pas Kukila minta buat Raymond beli motor. Sekarang Raymond pergi sama Tutut.”

“Astaghfirullah, Kil. Laki kek gitu aje masih lu inget. Istighfar, Kil, istighfar!”

“Apa sih, Abang..”

“Inget, Kil, ape kata emak. Kite harus hidup taat seperti dicontohkan babe.”

“Tapi Kila nggak bisa nolak naluri Kila, Bang!”

Si abang kelihatan bingung kehabisan akal.

“Kila cinta sama Raymond.” Kukila terisak pelan.

Si abang bersandar ke tembok, menekuri tanggung jawabnya yang terasa hampir gagal sebagai kakak.

“Kila cinta sama Raymond!” Kali ini Kukila beranjak, dia berlari entah ke mana.

“Kila, lu mau ke mane? Astaghfirullah!”

“Raymond, gue akan tetep cinta sama lu meski gue harus mati!”

Kakak beradik itu berkejaran sepanjang jalan raya yang sengit dengan bising knalpot dan motor lalu lalang yang ruwet karena tak ada lampu pengatur lalu lintas. Hingga tiba di sebuah warung kopi pinggir jalan.

“Raymond!” Kukila berbinar-binar menatap pujaannya. Yang dipanggil pun sempat terkejut dan lebih terkejut lagi ketika Kukila maju mendekat ke sebelahnya.

“Kurang ajar kamu! Kamu Tutut, kan? Kurang ajar kamu merebut papah aku!” Kukila beralih ke perempuan yang duduk di situ, geram dan mengguncang-guncang tubuh semok itu yang kemudian panik berteriak-teriak sampai mereka berjumpalitan di lantai. Rambut si pemilik tubuh semok itu copot, kemejanya copot kancing-kancingnya karena ditarik-tarik, dan copot pula penyumpal dadanya.

“Banciii! Bancii!” Kukila yang terperangah karena melihat penyumpal dada itu tambah semangat mengeroyoknya. Orang-orang sewarung kopi merubung mereka berdua; ada yang ikut memukuli, ada yang coba melerai. Si abang pun ikut menelusup ke kerumunan dan menarik mundur adiknya yang tak berhenti kalap.

“Kilaaa!” Suara tamparan terdengar dua kali membelah ruang. Kukila klenger di bawah tangan abangnya yang sempat meraih kejuaraan karate tingkat nasional itu. Keringatnya yang bercampur air mata juga menyatu bersama cairan kental merah yang mengalir dari ujung bibir.

Setelah dua kali napas dan mengejang, Kukila bergeming. Teriakan si abang kini berubah jadi lengking menyayat.

    Patricia Pawestri

    Karyawan | Penikmat Sastra | Penulis Buku "Metafora Goodnick Griffin"