Aksara

Aksara
©Tribun

Mengeja kata dalam aksara
Dalam setiap bait, tersirat beribu manfaat
Setiap hari adalah makna
Bukan sabda tanpa makna
Mengikhtiari segala tindakan yang mewujud
Diam, diam, diam, dan diam lagi
Rindu membahana

Jangan jadikan ini alasan untuk pergi, kuharap
Kau dan aku tetaplah kita

Percakapan Imajiner

Rasa yang membatin, “haruskah kuselesaikan yang belum tuntas?”
Pertanyaan kecil ini terus mengalir begitu deras dalam pikiran
Sementara rutinitasku yang baru malah membuatku makin terbuai
Terbuai dan terus terbuai sampai tak sadarkan diri

Haruskah kembali dan terus menulis?
Atau berhenti dari semuanya lalu kemudian lari?
Saat berpikir tentang hal itu, imajinasi terus terkulai tak berdaya

Kata Pak Roem

Sekarang kita jalan sendiri-sendiri
tanpa diskusi atau sharing hal-hal yang bernuansa pengetahuan
Ruang tempat kita bertutur sudah tertutup rapat

Dalam lemari, Marx, Lenin, dkk mengamuk
tapi kita tidak peduli dengan suara-suara mereka
Kita mulai lemah
mengharapkan sesuatu yang serba-instan

Kata Roem Topatimasang, wajah kita adalah wajah orang-orang kalah.
Mari, bung, kita rebut kembali semangat yang hilang

Membaca

Mari, nak, kita bejalan di tengah gelapnya malam saat semua orang terlelap
Buka dan simaklah lembar demi lembar isi kertas di hadapanmu
Ibarat kita sedang lembur di sebuah pabrik tanpa diberikan upah

Ah, jangan jenuh, nak
rasa jenuh membuat kita mati
jenuh membuat kita tak bersemangat
jenuh membuat kita menjadi manusia pelupa di zaman modern
Bergegas dan terus berpacu dalam gelapnya malam, nak

Uang dan Kuasa

Ketika uang mulai kuasa
Krisis multidimensi tak bisa dielakkan
Rasionalitas makin samar-samar
mereka terus berjibaku di atas pentas politik yang kian mematikan
Terbuai tanpa tahu di mana kaki akan berpijak
Representasi sebagai khalifah tuhan di muka bumi menemukan jalan buntu
Yang terjadi kemudian bukan saling memberi, namun saling menafikan satu dan yang lain
Bukan saling asah, saling asuh, melainkan saling fitnah
Hasrat ingin “berkuasa’’ yang tak bisa diredam membuat ketimpangan terus berkepanjangan

Relaksasi

Hari demi hari terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang
Pergantian waktu pun tidak dapat dielakkan
Sebab perubahan adalah sebuah kemutlakan yang harus dihadapi
Sebagai konsekuensi logis atas akhir dari setiap langkah

Paradigma hidup merupakan acuan dalam melangkah
Sebagai barometer dalam menjalani hidup
Menuju sebuah wujud misteri cita-cita

Renungkan kembali tentang paradigma hidup atau tentang cita-cita yang tergantung di angkasa.
Katakanlah!
Aku, kamu, dan kita sekalian pasti bisa
Merendahlah!

Sungguh beruntunglah
orang yang selalu menyucikan diri kembali kepada fitrah dan kesucian

Jangan Diam

Sesekali kita harus mencobanya
Dan terus mencoba
Meski dicemooh
Atau dilempari kotoran

Sesekali bertanya pada heningnya malam
Pasti ada harapan bukan menemukan berhala
Atau petaka

    Hasanudin M Hasidi
    Latest posts by Hasanudin M Hasidi (see all)