Aktualisasi Diri melalui Jalan Nikah

Aktualisasi Diri melalui Jalan Nikah
Foto: inspiredfully.com

Di luar anjuran agama, dulu persoalan nikah bagi kebanyakan orang biasanya terdorong oleh faktor cinta, ingin mengubah hidup, dan tidak jarang karena ingin keluar dari kemiskinan (sebab salah satu calon banyak harta).

Namun, bagaimana dengan sekarang? Dorongan diri seseorang untuk menikah kebanyakan memang masih mengikuti cara lama, seperti faktor-faktor di atas.

Tapi, apakah Anda tidak tertarik dengan pandangan generasi milenial akhir-akhir ini? Bahwa tujuan untuk menikah sudah diposisikan sebagai upaya untuk mengaktualisasikan diri.

Konsepnya persis seperti hierarki kebutuhan manusia yang dirumuskan Abraham Maslow. Bahwa aktualisasi diri merupakan jenjang kebutuhan akhir manusia untuk menyempurnakan hidupnya dengan adanya orang lain.

Berdasarkan hal itu, generasi milenial sekarang terlihat bahwa dorongan mereka untuk melangsungkan pernikahan adalah untuk mencari pasangan yang mau melengkapi kekurangan masing-masing.

Sebagai ilustrasi, jika seorang perempuan sebelum menikah sudah punya profesi yang baik, maka seorang laki-laki harus mampu melengkapinya dengan mendorong, memotivasi/membantu, serta dapat meng-handle seperangkat tugas di rumah. Begitu juga sebaliknya, seorang perempuan dituntut mampu menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak dalam mengikuti semua keinginan yang bersifat materil.

Dengan demikian, pada prinsipnya generasi milenial sekarang memilih untuk melangsungkan pernikahan dengan tujuan untuk mendapatkan teman kerja sejati, yang bisa mengisi kekurangan di mana setiap permasalahan dilakoni secara bersama dengan prinsip kolaboratif. Bahwa harapan hidup terpenuhi dengan adanya prinsip kesetaraan antara dua pihak dan bukan saling mendominasi.

Melalui cara itu, sesungguhnya generasi milenial sekarang sudah tidak lagi menempatkan nikah pada persoalan jalinan cinta, kemiskinan, kekeluargaan, terlebih pemenuhan hasrat seksual semata. Namun, telah bergeser pada pemenuhan harapan hidup yang lebih tinggi, yaitu menuju pada kesempurnaan hidup dengan adanya sifat saling mengisi antara seorang laki-laki dan perempuan.

Persoalannya sekarang, apakah Anda termasuk generasi milenial yang berpandangan seperti itu atau justru Anda para generasi X yang ingin menikah tapi ada kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri melalui jalan nikah?

Jika seperti itu, maka nikahlah!

*Rohman Harahap, Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

___________________

Artikel Terkait:

    Kontributor

    Kontributor Nalar Politik
    Kontributor

    Latest posts by Kontributor (see all)