Aku Ingin Menulis Puisi di Matamu

Aku Ingin Menulis Puisi di Matamu
©Pikra

Pagi ini, hal pertama kali yang ingin kulakukan saat terjaga dari mimpi adalah menuliskan selarik puisi di bening bola matamu. Menggoreskan sajak-sajak beraroma wangi penuh rindu. Menorehkan satu pengakuan bahwa; hingga kini aku masih belum bisa berhenti jatuh cinta kepadamu.

Nanti, jika matahari sampai pada titik kulminasinya, akan kubacakan puisi itu dengan suara paling merdu yang pernah aku punya. Agar matahari tidak lagi menghamburkan sinar garang. Agar ia sudi menghangati rahim bumi dengan peluk paling sayang.

Kemudian, ketika senja mulai tiba di beranda diiringi senyum misterinya, akan kutunjukkan puisi itu di hadapan sekawanan burung elang dan rama-rama. Agar mereka tak lagi sangsi kala harus menjadi saksi. Tentang; sebuah hati yang tiada lelah mencintai.

Pagi ini, ketika langkahmu baru saja menapaki jalan panjang di geliat jantung ibu kota. Saat tak sengaja kau berkaca pada peluh para buruh yang dikejar beringasnya waktu. Yakinilah bahwa aku senantiasa memikirkanmu, menuliskan puisi-puisi indah itu hanya untukmu perempuan yang pernah menitipkan seribu purnama pada luka yang perlahan mulai menemukan penawarnya.

Menulis Sajak Tentangmu

Dengan ujung jariku yang molek
Lisanku terkatup erat
Ini hatiku yang sedang bicara
Aku bicara tentang
Gelisah
Sedih
Damai
Bahagia
atau tentang dahaga

Mereka membaca sajak-sajakku
Mereka bernyanyi dengan sajakku
Mereka tertawa
Mereka menangis
Dan
Mereka tidak perduli

Aku merangkai aksara
Menjadi sajak yang bercerita
Tentang kamu
Tentang dia
Tentang mereka

Aku kembali menulis sajak
Sajakku tidak indah
Sajakku adalah ceritaku
Tentang masa lalu
Saat ini
Atau tentang masa depan

Dan kita menulis sajak
Kau ceritakan tentang sepi
Kau tuliskan tetang kelukaan
Kau rangkai aksara dalam setiap bait
Ya ….
Engkau lukiskan dalam untaian kata

Kita berdialog lewat sajak
Hingga kita lupa
Kapan kita mulai menulis sajak
Apa saja yang telah diceritakan
Telah banyak sajak yang tercipta
Sudah banyak cerita yang kita ceritakan

Sajakku kini bercerita tentang harapan
Sajak harapan yang menjadi doa
Doa yang terus diucapkan
Saat hening
Saat gelap
Di sudut ruang

Sajakku
Kapan nasibmu akan berubah
Kapan ceritanya akan berubah
Aku terus menulis sajak
Entah sampai kapan
Aku ingin selalu menuliskannya

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)