Aku Terpejam

©ITL

Jatuh terlalu mendalam
Di antara masa yang kelam
Ketika itu pagi terasa malam
Menyengat sinar menjadi hitam

Menghanyutkan tetesan embun alam
Memutar pada derajat siku detak jam
Akan sebuah apa yang tak bisa kupendam
Salahku dalam kecam
Mengarang tentang apa yang telah mengaram

Paksaku dalam paham
Tentang alur cerita yang engkau genggam
Hingga bodohku yang menenggelam
Aku masih terdiam

Di Sudut Andara Kafe Aku Menanti Kabarmu

Masih di tempat yang sama beberapa malam yang lalu. Andara Kafe menjadi tempat yang nyaman beberapa hari ini. Masih di kursi yang sama, tepat di sudut ruangan. Musik yang berisik namun asyik didengar dan suara berisik kendaraan tepat di depan kafe

Aku masih menanti kabar darimu, kau yang hilang sepekan terakhir bersama rindumu. Ungkapan rindu telah kau dengarkan, namun hilang perjuangan menggapai rindu. Ada apa denganmu? ketika kau memisahkan rindu dan cinta. Ada apa dengan sikapmu? diam dan menanti kehendak Tuhan tanpa perjuangan yang nyata

Aku di sini menanti kabar darimu, suara-suaraku tak kau hiraukan hingga rindu ini mulai jenuh. Dua kursi kosong menanti kedatanganmu, bersama kopi yang telah siap disajikan. Ada tegukan yang nikmat di bibir gelas ketika menatapmu. Suara ramah dan tertawa nan pelan masih kurindu. Di sini, sudut Andara Kafe menjelang malam

Memikat Sunyi

Ketika kupintal dengan sunyi sulaman sajak
Aku merajut benang kasih yang kau urai
Sebab cintaku dikejar waktu
Yang berpacu menjadi ngilu di dadaku

Riuh gaduh menjadi sehelai kain penghangat
Untuk kau lilitkan di pundakmu
Daun yang melambai bernyanyi
Iringi gemuruh bayu yang mendayu
Iring-iringan awan menari tetap saja sunyi

Tak seperti di ujung jalan itu
Sibuk berlarian mengejar mimpi
Tanpa henti kaki berjalan saling berhimpitan
Aku di sini masih dengan segenap rasa

Selembar Potret

Tak ada lagi yang membekas dari tapak tilas
Kecuali seluruh berkas
Telah tersimpan rapi dalam nakas

Untuk apa kembali diungkit-ungkit
Apalagi dengan fakta jumpalit
Kau tahu aku punya limit

Ketika selembar potret terjuntai di pualam
Bersitatap denganku dalam diam
Saat itu pula runtuh kepingan rindu yang kupendam

Di Atas Kertas

Senja bersambut malam
Digerai serona pernik pualam
Sang puan bersenda senyum
Alunkan bait harmoni selaras batas
Secoret demi secoret

Menuju tinta biru langit
Melurus lagi rasa yang tulus
Lentik tulisannya berbait menembus jagad
Syair demi syair dipertautkan
Terangkai syahdu tanpa kelu

Sebentuk imajinasi torehkan asa
Terbungkam suara
Tetapi berbahasa
Terbungkam rasa
Tetapi merindu

Ketika Senja Meninggalkan Tahtanya

Awan tipis berwarna jingga memberi seribu  makna
Mentari senja mulai bertahta
Nyiur hijau melambai-lambai
Di sini aku masih saja berdiri

Terpacu oleh heningnya hati
Sembari membuka selembar memori
Ketika senja mulai pergi
Tertyp;ah sisa-sisa waktu
Di bawah senja itu aku mulai saja merindu

Bisakah aku melihatmu lagi
Meski dalam gelap sekalipun
Kini mentari senja tak lagi bertahta
Yang ada hanya kesunyian semata

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)