Aku yang Cemas akan Bumi Ini

Aku yang Cemas akan Bumi Ini
©Okezone

Sudah hampir lima tahun aku tak lagi merasakan musim hujan yang begitu menentukan. Suhu udara sudah makin panas, musim hujan dan kemarau tidak lagi menentu, serta cuaca ekstrem seperti hujan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah melanda kotaku.

Kota yang dahulu dijuluki sebagai kota dingin tidak lagi sebagaimana adanya. Semuanya berubah seiring dengan berjalannya waktu. Mungkinkah ini yang namanya perubahan iklim? Entahlah. Yang pasti perubahan cuaca itu sudah terjadi. Dalam keheningan, sering kali aku mengeluh dengan semuanya itu, tetapi apalah daya hal itu sudah terjadi.

Sungguh menyakitkan bukan ketika melihat hutan digundulkan, pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya? Inilah yang terjadi di kotaku sekarang ini, orang pandai mengambil keuntungan, tetapi tak mampu menanam modal.

Menyakitkan sekali ketika melihat orang befoya-foya dari hasil pengeploitasian alam secara besar-besaran, dan setelah itu membiarkannya begitu saja tanpa adanya keinginan untuk menatanya kembali. Begitu pun dengan mereka yang pandai mengambil dan menggunakan sesuatu, tetapi minim akan kesadaran diri untuk menaruhnya pada tempatnya ketika sudah tidak bisa digunakan lagi.

Apakah mereka tidak peduli dengan bumi ini tempatnya berpijak? Inilah kecemasanku, manusia makin dikuasai oleh otaknya sendiri dan lupa bagaimana caranya untuk kembali pada tindakan yang benar. Memang benar, tingkah laku manusia sesama manusia baik adanya, tetapi tingkah lakunya terhadap bumi ini patut dipertanyakan.

Sudah menjadi kebiasaanku dari dulu hingga sekarang, setiap Senin sore aku menyusuri balai kota. Dari kebiasaan itu, aku sangat merasakan bagaimana perubahan di kotaku terjadi. Yang menjadi perhatiaan utamaku ketika menyusuri balai kota adalah bagaimana kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Sungguh menyakitkan, beberapa tahun terakhir ini kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempanya makin menurun. Keindahan kota menjadi rusak karena pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Mungkinkah manusia juga tidak lagi memiliki nilai estetis dalam dirinya, sehingga dia membiarkan keindahan itu tidak sebagaimana adanya?

Pada suatu hari, di waktu yang sama pada hari Senin sore, aku kembali menyusuri balai kota dan saya melihat tempat itu tidak pernah berubah, sampah kembali berserakan. Dalam hati ku menyahut, sangat disayangkan tempat yang bagus seperti ini tidak ditata dengan rapi dan dijadikan tempat pembuang sampah oleh masyarakat. Apakah pemerintah kota juga tidak peduli dengan sampah, sehingga tempat yang sebagus ini tidak diperhatikan ataukah memang masyarakat yang minim akan kesadaran diri dan tidak paham dengan imbauan pemerintah untuk mebuang sampah pada tempatnya? Nyatanya tempat sampah telah disediakan, tetapi kok masih saja membuang sampah tidak pada tempatnya?

Mungkin benar apa yang disampaikan oleh Canetti bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki aspek-aspek hewani di dalam dirinya. Dan aku berpikir, pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya merupakan salah satu sisi hewani yang ditampilkan oleh manusia. Mungkin pernyataan ini menyakitkan bagi kamu dan mereka. Ketahuilah jika pernyataan ini menyakitkan bagi kamu, hal itu pun aku rasakan ketika melihat orang pandai lihai dalam memburu kenikmatan dengan memeras sedikit demi sedikit isi alam ini.

Sangat menyedihkan di tengah musim yang tidak menentu ini masih banyak masyarakat yang tidak peduli dengan semuanya. Mereka masih saja mengekploitasi alam sesukanya dan membuang sampah tidak pada tempat.

Baca juga:

Kota yang dahulunya bersih kini menjadi sangat kotor. Sampah berserakan di mana-mana. Tidakkah mereka peduli dengan kebersihan ataukah mereka lupa dampak dari tidak menjaga kebersihan?

Sangat disayangkan, kesadaran akan kebersihan lingkungan makin meredup dalam ingatan mereka. Di depan lereng-lereng toko banyak ditemukan sampah plastik yang tidak diperhatikan. Saluran air hujan juga dibiarkan begitu dan tidak dibersihkan sama sekali. Apakah kota ini sudah tidak ada penghuninya? Atau mungkin penghuninya buta akan sampah yang berserakan? Entahlah. Yang pasti mereka semua sudah tidak peduli dengan kebersihan mungkin.

Sangat disayang ketika para orang tua juga tidak memberi teladan bagi anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi malah sebaliknya menjadi contoh bagi anak-anak untuk membuang sampah tidak pada tempatnya. Inilah yang terjadi di kotaku saat ini, hampir semua orang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan.

Pada suatu kali hujan badai datang dan menghancurkan beberapa rumah warga dan membumi-hanguskan beberapa orang di kota itu. Namun, dengan minimnya pengetahuan masyarakat akan perubahan iklim, mereka melihat hal itu merupakan suatu yang dikehendaki oleh Tuhan dan mungkin juga benar seperti apa yang merka pikirkan. Karena kurangnya kepercayaan mereka dan banyak kali melakukan kesalahan di hadapan Tuhan maka hujan badai itu datang. Tetapi secara ilmu alam hujan badai itu datang karena ulah manusia itu sendiri.

Dari kejauhan aku melihat betapah dukanya mereka dengan semua yang terjadi. Suara tangisan serentak menguasai kota itu. Perlahan ku mendekatkan diri pada mereka yang sedang meratapi keluarganya yang meninggal karena hujan badai itu. Tangisan mereka seakan telah terlatih dalam senada, sesuara untuk mengadu kepada Tuhan.

“Ah, Tuhan berapa lama lagi Engkau murka? Tidakkah Engkau peduli dengan kami? Sudah sejak kami berpacu pada hasrat kami sendiri, Engkau murka. Kami tahu bahwa betapa kami merusak kepercayaan-Mu untuk melindungi dan menjaga bumi yang kami pijak ini. Tetapi Tuhan izinkan kami merayu-Mu dalam kegetiran hidup dan kedukaan yang sedang kami alami saat ini, sebab kami tak tahu harus berbuat apa, dosa kami terhadap-Mu tak terbilang banyaknya.”

Dalam hati aku bertanya, mungkinkah Tuhan telah menegur mereka sebelumnya, namun mereka tidak mendengarkan teguran-Nya itu, sehingga begitu besar murka Tuhan terhadap mereka?  Entahlah, yang pasti sekarang bukan saja tentang itu, tetapi juga tentang perubahan iklim yang dipengaruhi oleh ulah kita sebagai anak manusia. Kita sering kali tidak menjaga kebersihan lingkungan dan selalu mengekploitasi alam sesuka hati tanpa ada rasa tanggung jawab setelah itu.

Tidak salah Tuhan marah, kita yang dipercayakan-Nya untuk menjaga dan melindungi segala isi bumi ini tidak menjalankan tugas kita dengan baik. Barangkali Tuhan sengaja menciptakan hujan badai supaya kita tahu bagaimana menjaga kebersihan dan merawat segala sesuatu yang ada di bumi ini dengan baik. Bukan hanya memeras isinya, tetapi juga harus tahu bagaimana caranya untuk merawatnya kembali.

Tangisan kedukaan merupakan suatu bentuk kesadaran akan perbuatan mereka sendiri. Aku mendengar seorang wanita yang tergesah-gesah dan meratapi foto putranya yang meninggal karena hujan badai itu. Dalam tangisannya itu ia menaruh harapan pada Tuhan yang ditinggalkannya demi kepuasan duniawi.

“Aku teringat kepada kasih-Mu pada masah mudaku, kepada cinta-Mu waktu aku terlahir sebagai anak manusia. Bagaimana mungkin Engkau meninggalkan aku sendiri dan memeluk luka ini sendirian. Ya Tuhan, di manakah Engkau ketika hujan badai melanda kota ini? Apakah kecuranganku dan anak dari hamba-Mu ini sehingga Engkau menjauh dan meninggalkanku dengan melepas luka dan lara. Engkau tahu betapa perihnya hatiku karena duka ini. Tetapi, aku ya Tuhan mahkluk lemah dan berdosa. Ampunilah ya Tuhan, hamba-Mu yang berdosa ini dan ampunilah putra hamba-Mu yang remuk dalam hujan badai ini. Izinkan aku merayu-Mu ya Tuhan untuk terakhir kalinya dan membiarkan putraku beristirahat dalam damai.”

Barangkali tangisan kita untuk mereka yang telah hilang merupakan suatu bentuk kesadaran kita akan pentingnya merawat dan menjaga bumi ini. Tangisan yang tidak saja mengeluarkan air mata kesedihan, tetapi juga tangisan untuk berani merawat bumi ini dengan penuh tanggung jawab.

    Jordi Sahat
    Latest posts by Jordi Sahat (see all)