Alasan Cewek Belanda Ini Suka Tinggal di Cina

Alasan Cewek Belanda Ini Suka Tinggal di Cina
©PZC

Nalar Warga – Kenapa cewek Belanda ini suka tinggal di Cina? Ini alasannya.

Catatan: Namanya Naomi Riteco, sekarang tinggal di Chengdu.

Pertama, faktor keamanan. Kelihatannya, terutama dia seorang wanita, dia bisa jalan-jalan pulang minum tengah malam sampai subuh tanpa disuitin lelaki iseng.

Kedua, faktor kemudahan. Semua mudah bagi dia, banyak otomatis, pake e-cash. Kalau hape habis charge, dengan gampang sewa powerbank yang tersedia di mana-mana.

Ketiga, makanan. Ini terutama karena dia gak suka masak. Mirip dengan Indonesia, Cina penuh makanan di mana-mana, dari makanan Barat sampai jajanan murah di jalanan. Kalau malas keluar, order online, sampai cepat.

Keempat, transportasi umum. Memang transportasi umum di Cina jempolan, menjangkau ke mana-mana. Harganya murah, bersih dan aman.

Kelima, kehidupan malam. Warga keluar malam bersenang-senang, menari-nari di jalanan. Kota-kota selalu terang benderang dengan lampu-lampu hias di mana-mana. Cewek Belanda ini menantikan, saat pensiun nanti, keluar menari-nari di lapangan dengan warga lain.

Ini bagian yang sangat saya sukai dari Cina, kegiatan malam yang hidup.

Keenam, travel. Cina sangat bervariasi, dari wilayah tropis seperti Hainan sampai wilayah dingin, kota-kota besar sampai desa, taman di mana-mana, dan kota-kota tua yang terawat rapi.

Menurut saya, hal yang membuat travel menyenangkan adalah kemudahan transportasi, cepat dan murah.

Ketujuh, keharmonisan. Pengamatan cermat. Salah satu yang membuat Cina menyenangkan adalah masyarakat yang tidak saling serang atau saling membenci. Kalau ada masalah bersama seperti pandemi, mereka kompak membereskan bareng tanpa banyak mengeluh. Pandemi teratasi, warga hidup normal lagi.

Harus diperingatkan, tidak selamanya masyarakat di Cina harmonis. Ingat tahun 1966-76, berlangsung Revolusi Kebudayaan, di mana kelompok anak-anak muda radikal menyerang kelompok yang lebih mapan dengan slogan-slogan revolusioner.

Bagi mereka, itu pelajaran pahit untuk tidak lagi diulang.

Kepahitan Revolusi Kebudayaan membekas dalam, dan itulah yang membuat mereka berhati-hati sekali terhadap agitasi dan provokasi yang bisa menyebabkan masyarakat chaos. Karena chaos, korbannya adalah manusia.

@Mentimoen

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)