Alasan Mengapa Pembaca Indonesia Harus Tertarik pada Libertarianisme

Alasan Mengapa Pembaca Indonesia Harus Tertarik pada Libertarianisme
©Sampul Buku

“Satu alasan mengapa pembaca Indonesia harus tertarik pada libertarianisme adalah sangat sederhana dan praktis: libertarianisme adalah ide-ide yang mendorong dunia modern, dan Anda perlu tahu tentang ide-ide ini.”

Demikian tulis David Boaz, Wakil Presiden Eksekutif Cato Institute, dalam pengantarnya bagi Alam Pikiran Libertarian: Manifesto untuk Kebebasan edisi Indonesia (Oktober 2018). Tulisan selengkapnya bisa Anda baca berikut ini:

________________________________________

Penerbitan sebuah karya pokok tentang libertarianisme di Indonesia adalah sebuah tanda lain dari dua perkembangan yang menggembirakan: proses berkelanjutan dari orang-orang dunia yang makin mendekat bersama, dan penyebaran gagasan perdamaian dan kebebasan di seluruh dunia yang setelah satu abad perang dan statisme.

Kecenderungan terbesar yang berlangsung di dunia kita saat ini mencerminkan nilai-nilai libertarian. Komunisme benar-benar lenyap. Penyebaran ekonomi pasar telah menciptakan penurunan kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Selama 25 tahun terakhir, lebih dari satu miliar orang telah mengangkat diri mereka keluar dari kemiskinan ekstrem, dan tingkat kemiskinan global sekarang lebih rendah daripada yang pernah tercatat dalam sejarah. Ini adalah salah satu pencapaian manusia terbesar di zaman kita,” kata Presiden Kelompok Bank Dunia, Jim Yong Kim, pada September 2018.

Cina saja telah mengangkat 800 juta orang keluar dari kemiskinan sejak 1990 dengan mengandalkan pasar. Pengamat-pengamat yang jujur di seluruh negara maju memahami bahwa negara-negara kesejahteraan kelas menengah tidak berkelanjutan dan harus direformasi secara radikal. Revolusi informasi memberdayakan individu-individu dan kelompok-kelompok kecil dan menggerogoti otoritas kekuasaan terpusat.

Mungkin yang terpenting, meningkatnya globalisasi ekonomi dunia berarti bahwa negara-negara yang ingin makmur harus mengadopsi model ekonomi berorientasi pasar yang terdesentralisasi dan terderegulasi. Anda tak dapat menghindari pasar dunia pada abad ke-21; atau jika Anda melakukannya, Anda akan tertinggal dari pertumbuhan ekonomi fenomenal yang akan diberikan oleh pasar global dan perkembangan teknologi.

Baca juga:

Tentu saja, selalu ada tantangan untuk ide-ide pluralisme, toleransi, dan kebebasan. Para raja dan kaisar, sultan dan diktator serta penguasa militer selalu berusaha mengumpulkan kekuasaan. Para ahli teori komunisme dan fasisme telah membangun argumen yang menarik banyak orang untuk menerima pemerintahan oleh partai atau politbiro. Semua bentuk illiberalisme ini telah membawa kemiskinan dan kesengsaraan bagi orang-orang di seluruh dunia.

Filsafat perdamaian dan kebebasan libertarian memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada Indonesia sejak kita memasuki sebuah milenium global. Tetapi pertanyaan yang jelas mungkin muncul di khalayak pembaca Indonesia: Apakah filosofi libertarian ini semata-mata ide-ide Amerika atau, paling jauh, Barat? Apakah ide-ide ini relevan dengan orang-orang dari masyarakat lain?

Nilai-Nilai Universal

Beberapa pemimpin Asia telah mengkritik liberalisme dan mengusulkan “nilai-nilai Asia” sebagai alternatif. Pemimpin legendaris Singapura, Lee Kuan Yew, berkata bahwa negaranya tak “membutuhkan jenis libertarianisme kebebasan-untuk-semua yang kita lihat di Amerika.”

Tetapi nilai-nilai seputar hak-hak individu, pemerintahan terbatas, dan pasar bebas adalah nilai-nilai universal. Prinsip-prinsip sains bersifat universal, meskipun begitu banyak prinsip ilmiah ditemukan di Barat.

Tak ada yang akan berargumen hari ini bahwa matematika dan fisika adalah gagasan “Barat” atau bahwa orang-orang Asia tidak dapat berpartisipasi dalam usaha-usaha ilmiah. Liberalisme, sekarang dikenal sebagai libertarianisme, memang berkembang di Barat, tetapi ia berbicara kepada semua orang.

Bagaimanapun, orang-orang Barat yang mendalami ide-ide John Locke dan Adam Smith dapat belajar banyak dari orang-orang Asia yang mempelajari tradisi Konfusius dan Lao-Tzu. Lao-Tzu, yang menulis bahwa “tanpa hukum atau paksaan, manusia akan tinggal dalam harmoni” dan yang mengajarkan bahwa harmoni dapat muncul dari persaingan, mungkin adalah seorang libertarian pertama di dunia. Konsep libertarian serupa juga dapat ditemukan dalam tradisi Zen.

Perhatian masyarakat Asia dewasa ini pada keluarga yang kuat dan tanggung jawab pribadi lebih sesuai dengan filsafat politik libertarian ketimbang kecenderungan malang di Eropa dan Amerika Serikat yang mengarah pada ketakbertanggungjawaban pribadi, perasaan keberhakan, dan kebergantungan pada negara.

Gagasan-Gagasan Buruk Bangkit dari Kematian

Di banyak tempat di dunia, berbagai gagasan dan ancaman yang kita duga telah mati bangkit kembali dari tumpukan-tumpukan sejarah: proteksionisme, sosialisme, nasionalisme etnis, otoritarianisme, baik kiri maupun kanan. Tidak hanya di Rusia dan Cina—tetapi juga di Turki, Mesir, Hongaria, Venezuela, Meksiko, Filipina, dan mungkin India—kita melihat langkah yang bergerak makin jauh dari aturan-aturan konstitusional dan menuju otoritarianisme.

Halaman selanjutnya >>>