Alexis Always Exist

Alexis Always Exist
Anies & Alexis

Nalar Warga – Sebenarnya seru juga, ya, bahas Alexis. Menurut gue, ini langkah damai kedua belah pihak (Pemprov DKI & pengelola) dalam meredam janji pilkada. Walaupun kita harus gentle (terlepas dari kongkalikong-nya), penghentian izin berhasil mengurangi mitos kalau hotel ini “untouchable”.

Dari hasil penelusuran, gue kasih gambaran dikit sejarah hotel ini, ya? Biar kalo ngomongin lebih komprehensif.

Hotel ini bukanlah hotel yang dibangun sendiri, tetapi hasil pergantian nama dari hotel Ancol dibeli karena hotel ini bermasalah. Yang tinggal di Jakarta boleh tanya bonyok maupun paman-paman kalian di tahun 1990-an, Hotel Ancol jadi tempat favorit buat apa aja saat itu.

Karena hotel apa aja boleh, maka jangan heran hotel ini tempat favorit buat bikin pesta dunia, termasuk pesta narkoba di dalam kamar.

Di hotel Ancol, yang namanya orang meninggal dunia karena overdosis, sudah gak heran. Belum lagi cewek-cewek yang bunuh diri karena banyak hal. Makanya gak heran kalau bukan untuk berbuat apa aja hotel Ancol saat itu jarang orang biasa mau nginep. Hantunya banyak menurut tamu.

Sampai ada yang bilang, Maryam si Manis Jembatan Ancol pun pindah ke hotel ini, mencari pria-pria bermasalah. Kerajaannya kuntilanak-lah.

Terlepas percaya atau tidak, isu hotel Ancol yang banyak hantunya ini sukses buat hotel ini gak laku. Dalam perang pemasaran, sah-sah aja sih. Pemilik hotel pun merugi. Image hotel sudah kadung buruk, kata yang mau mabok sekalipun: “Gue, walau mabok, tetap aja takut setan.”

Di beberapa hotel di Jakarta juga banyak hotel bertaburan yang bisa buat apa aja, tapi tetap ramai karena yang penting jangan ada isu hantunya aja. Pemilik pun berniat menjual hotel ini. Susah laku saat itu, hingga harganya menjadi rendah sekali, sama seperti kasus rumah di Pondok Indah.

Hingga akhirnya di awal-awal tahun 2000-an, hotel Ancol ini dibeli oleh Alex Tirta, dan berganti nama menggunakan nama depannya: Alexis.

Setelah direnovasi tahun 2006, hotel ini di-launching untuk pertama kalinya. Tim management mereka bersusah payah untuk menghilangkan Spooky-nya. Tim management hotel berupaya agar tamu yang datang melupakan setan, di samping itu hotel mencegah ada kematian lagi di hotel ini.

Melawan muka setan tentu harus dilawan dengan muka bidadari. Inilah salah satu ide awalnya. Bidadari itu harus diimpor biar mantap. Hotel ini pun mendeklarasikan diri sebagai pioneer One Stop Entertainment, pusat surga bagi pria seperti yang ada di web-nya ini:

Mulai dari diskotik, karaoke, pijat, jacuzi, hingga lounge yang dihuni oleh bidadari-bidadari impor maupun lokal, tempat ini sukses usir setan.

Izin pendirian Alexis dikeluarkan di masa gubernur Sutiyoso dan wagub Foke. Alasannya, sebagai kota metropolitan, harus ada pusat hiburan bagi warga asing.

Hotel ini berjalan sendirian saat itu sebelum munculnya tempat-tempat hiburan lainnya yang mencoba mengikuti karena ramai dan populernya Alexis.

Di tahun-tahun awal berdirinya hotel ini, orang-orang Jakarta kerajingan dengan kata-kata baru: Uzbek (Uzbekistan) yang mendominasi di hotel itu. Kalau bukan karena hotel ini, boro-boro pada tahu negara Uzbekistan. Jadi, sebenarnya hotel ini berjasa kepada negara pecahan Soviet itu loh.

Karena sangat ramai, apalagi saat itu periode lagi booming-nya bisnis batubara, maka Alexis dijadikan tempat adu gengsi-gengsian pengusaha juga, terutama pengusaha-pengusaha batubara dari Kalimantan. Jika hendak bergaya mendapat pasangan cantik, mereka gak takut menebus di atas 500 juta/wanita.

Gak apa-apa, katanya, uang setan dimakan setan. Akhirnya banyak tempat yang coba mengikuti Alexis ini.

Mereka yang mencoba mengikuti Alexis saat itu gak bisa bersaing. Mengapa? Karena Alexis bisa memanfaatkan Keputusan Gubernur DKI No 98/2004 Pasal 2 (4,5). Alexis kuat karena ada hotelnya berdasarkan Keputusan Gubernur tersebut. Saat ramadhan tiba, mereka masih boleh buka karena masuk fasilitas hotel.

Gue dulu sudah pernah bahas soal keputusan Gubernur DKI No 98/2004. Sekali lagi, alasannya karena DKI sebagai kota metropolitan dunia (untuk expart).

Satu-satu tempat yang mencoba meraih kesuksesan seperti Alexis berguguran. Akhirnya terbentuklah Grup Usaha entertainment. Mereka inilah yang menguasai. Alexis pun menjadi Grup usaha baru. Mereka membeli dan membuat tempat yang baru dengan theme, harga, dan segmentasi berbeda pula.

Sebagai pioneer kelas atas, Alexis tetap berjaya. Rumor soal “setoran” ke atas sehingga aman sudah jadi rahasia umum. Pokoknya 86.

Alexis banyak menyimpan wajah-wajah orang terpandang, bahkan ada yang “beradab” di CCTV-nya, yang penting aman, makanya 11 tahun tetap jaya. Hingga akhirnya, tibalah Pilkada DKI 2017 yang lalu tanpa diduga-duga saat debat nama Alexis dilontarkan oleh Anies Baswedan. Sebuah kejutan hebat.

Dalam catatan gue, isu Alexis yang dilontarkan Anies saat pilkada kemarin sedikit banyak membantu dia dalam mengambil suara MahMud (mamah Muda). Padahal, sebelum pilkada itu, Ahok di awal sudah melemparkan isu Alexis ini, namun sayang tidak tuntas. Dia hanya mentok ada surga di lantai 7.

Walau Ahok sudah menutup Kalijodo yang 10x lebih susah, bahkan stadium sekalipun, namun orang Jakarta sudah melekatkan kata Alexis = prostitusi. Ibarat air minuman = Aqua; Ojek Online = GoJek. Maka, penguasaan isu Alexis, walau kecil scoop-nya, tapi tepat mengenai jantungnya.

Isu hotel ini yang akan ditutup, ditambah dengan mulai beraninya demo ormas, sebenarnya tidak membuat resah pemilik. Ini yang harus dipahami. Kuncinya begini: Kekuatan hotel ini ada di tamunya, bukan di pengelolanya. Saat tamunya resah, maka efeknya pasti besar.

Isu akan ditutup atau mulai beraninya warga demo membuat kunjungan tamu terganggu. Karena hotel ini menjual ketenangan, dan di sinilah jadi mahal.

Dulu, tamu-tamu begitu percaya dengan hotel ini karena ormas radikal yang mengaku “keagamaan” itu pun sudah diamankan lewat setoran-setoran. Isu penutupan hotel ini menjadi klimaks pasca Anies dinyatakan menang. Ahokers maupun kelompok bumi datar, sama-sama nuntut untuk tutup hotel ini.

Melihat kondisi yang kurang baik ini, akhirnya ada sikap kompromis dari pemilik hotel ini, walau dia bisa berdiri tapi direcoki terus tamu pada kabur.

Exit Strategy sudah disiapkan dengan baik tentunya. Nama hotel ini memang harus dikubur di usianya yang ke-11. Karena nama ini sudah jelek image-nya.

Penutupannya harus dengan baik-baik, dan jangan sampai mematikan bisnis mereka secara umum tentunya, maka lewat tidak diperpanjang izin caranya.

Dari surat ini, gue membaca bukan sebuah keputusan penguasa, tetapi lebih ke bahasa kompromi. Kedua belah pihak “bersepakat”:

“Belum Dapat Diproses”, artinya masih bisa, tetapi dengan cara lain dong. Buat cooling down dululah. Ada banyak cara kok.

Kalo mau dilawan putusan ini, bisa dengan mudah dimenangkan pihak hotel ini di PTUN karena tidak ada dasar dan bukti penutupannya. Putusan Anies ini sangat jauh berbeda saat Ahok menutup Stadium dan Kalijodo. Secara keras dan nyata dia melarang gak boleh dibuat lagi.

Coba baca saat Ahok menanggapi penutupan Stadium: “Pokoknya gak boleh dibuat lagi di tempat yang sama dengan nama apa pun.”

Beda jauhkan yang Niat Ditutup Permanen dan Yang Niat Tutup dulu Deh, entar kita pikirin. Nanti lihat aja. Ini cuma Re-Branding aja kok.

Level pejabat yang memutuskan juga berbeda: Stadium dan kalijodo = Gubernur langsung; Alexis = kepala PTSP DKI. Pasti beda kekuatannya.

Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Hotel ini akan direnovasi, bisa face-lift atau nambah lantai, termasuk mengganti nama hotelnya. Menunggu renovasi dan rebranding hotelnya, maka pusat kegiatan akan dipindahkan ke beberapa persh sejenis dengan konsep yang lebih tertutup.

Kesimpulannya, Jakarta akan tetap sama. Bisnis hiburan akan terus bergejolak tiap malam karena duit yang beredar sangat besar di sini.

Sekali lagi, gue ucapkan selamat buat Gubernur DKI yang berani “ganggu” Alexis walau dengan agak lucu-lucuan sih. Respek-lah kita walau oposisi.

Semoga yang baca twit ini puas, ya. Kenali masalah secara menyeluruh, baru deh kalian bisa diskusi dengan teman.

*Rudi Valinka/@kurawa

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)