Amor Intellectualis: Ketika sang Profesor Ateis Mencintai Islam

Amor Intellectualis: Ketika sang Profesor Ateis Mencintai Islam
©Ziarul de Vaslui

Cinta intelektual (amor intellectualis) menuju Tuhan menjadi bagian dari esensi pemikiran yang tidak terhingga.

Apa dalam benak sang profesor matematika keluar dari ateisme? Mungkinkah kehidupan ateis mengganggunya setelah banyak pertanyaan muncul, tetapi belum terjawab? Ataukah terngiang-ngiang dalam ingatannya di masa kecil tentang kehidupan agama atau eksistensi Tuhan?

Ada seberkas cahaya muncul di ujung lorong-lorong labirin yang buntu dan menantang. Di masa kecil meluncur pertanyaan darinya: Dad, do you believe in Heaven? (Ayah, apakah Anda percaya pada Surga?). Pertanyaan yang terdengar sepele, tetapi membuat dahi berkerut.

Ada lagi rangkaian pertanyaan cukup dahsyat. ”Jika Tuhan itu ada dan punya cinta dan kasih sayang, lalu mengapa begitu banyak penderitaan di atas bumi? Mengapa Dia tidak menjadikan saja kita semua sebagai penghuni surga-Nya? Mengapa Dia cukup saja menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai kebahagiaan?”

Serangkaian pertanyaan sang profesor ateis itu begitu menyentak telah menyeretnya dalam pergolakan batin. Kita sadar bahwa sang profesor ateis itu tidak sedang mencari sebuah petanda transendental. Dia tercekik antara jejak dan tanda, penanda dan petanda.

Lebih dari itu, wujud spiritual bersama pergolakan batin bukanlah kata atau tanda dari kisah sejarah yang singkat. Penanda juga tidak datang dari kejadian dan ungkapan tanpa bobot. Ateis merupakan akumulasi tanda refleksi, yang pada akhirnya berhubungan dengan kehidupan batin.

Pilihan individu merupakan sesuatu yang berada di luar dirinya. Ia bukanlah permasalahan berhubungan atau tidak antara eksistensinya secara individual dan kehadiran ‘Wujud Agung’, melainkan menolak wujud dan jejak Tuhan. Ketidakhadiran Tuhan lahir dalam teks tertulis.

Tidak seorang pun mengetahui secara persis mengapa dia meninggalkan ateisme. Apakah sosoknya sebagai ateis yang dianutnya tidak mencapai titik terang dalam kehidupan atau sekadar luapan aura kehidupan yang mengerikan? Jejak Tuhan menghilang dalam ketidakhadiran jejak eksistensinya.

Mengapa sang profesor ateis itu mengajukan pertanyaan seakan-akan tanpa akhir? Apakah ada ‘Realitas Tertinggi’ bernama ‘Wujud Tuhan’ di alam semesta? Apakah dia gagal mengetahui wujud Tuhan di balik realitas? Murnikah mengajukan pertanyaan bahwa dia menolak eksistensi Tuhan, yang membuatnya menjadi ateis?

Baca juga:

Kebenaran matematika yang dia geluti tidak terdengar bahwa dia mengatakan lebih tahu dari semua orang. Tentang orang-orang tidak tahu apa rahasia dari ateis itu ada. Tetapi kilatan cahaya yang dinantikannya tidak muncul dalam dunia ateis. Ketidakpercayaan terhadap eksistensi Tuhan lenyap dalam ruang kebebasan memilih. Kebebasan itu akhirnya hanyalah ilusi.

Cobalah apa sesungguhnya yang Anda inginkan! Lingkaran ilusi yang datang dari kesadaran dan kebebasan individu dalam sisi kehidupan ateis. Kemunculan penanda ateis berarti ‘akhir dari permainan Tuhan’ di bumi.

Subjek sebagai agen otonom yang tidak hanya memedulikan pertimbangan rasional dari titik kebenaran matematika. Tetapi juga sebagai subjek bebas yang tidak menjadi objek korban dari logika pertukaran. Eksistensi Tuhan hanyalah efek dari jejak dan tanda ateis.

Siapa gerangan yang dimaksud profesor ateis itu? Dialah Jeffrey Lang. Tahun itu, 30 Januari 1954, dia lahir dari latar belakang sebuah keluarga Katolik Roma. Tradisi yang diwariskan dalam bidang pendidikan bernuansa agama berlangsung di usia 18 tahun pertama. Hidupnya dihabiskan secara otomatis di sekolah Katolik.

Seperti lazimnya, selain bertemu dengan pemuka agama, dia menjalin pertemanan dari latar belakang agama yang sama. Di situlah tema tentang eksistensi Tuhan dan agama digugat dalam pertanyaan-pertanyaan, yang tidak pernah berhasil dijawab secara gamblang. Pertanyaan tentang eksistensi atau tidak ada eksistensi Tuhan dan pengalaman agama menjadi titik pembicaraannya.

Marilah kita memperhatikan sekilas apa yang dia alami. Dalam penjalanan diri untuk mencari makna kehidupan, Profesor Jeffrey Lang mungkin mencoba menyelami sintesis intuisi intelektual dan cinta intelektual terhadap Tuhan dalam sudut pandang yang lain.

Siapa yang menyangka Jeffrey Lang, di usia 18 tahun, telah menjadi ateis tulen?

Sekian banyak pertanyaan menggelayuti intuisi intelektual dan dunia batinnya. Mimpi yang indah telah terkabul dalam sujud, dalam linangan air mata. “Aku jauh, Engkau pun Jauh.” Mimpi itu adalah jejak dan tanda keilahiaan murni. 360 derajat berubah dalam keheningan dan tanda kegilaan atas Tuhan telah mengubah hidupnya menjadi Muslim. (yeniasya, 09/07/2019)

Halaman selanjutnya >>>
    Ermansyah R. Hindi