Anak Kandung Kapitalisme Bernama Oligarki

Anak Kandung Kapitalisme Bernama Oligarki
©Medium

Perjalanan oligarki adalah bagian dari perjuangan kapitalisme untuk menguasai komoditas dan aset yang ada di belahan dunia, meskipun itu harus berlaku dengan cara invasi dan militerisme. Sistem oligarki merupakan bentuk sistem dari segelintir elite yang memiliki modal dan investasi yang cukup kuat. Rata-rata mereka berlatar belakang pengusaha kondang yang menguasai sebagian aset perusahaan lokal maupun asing dengan selisih saham yang berbeda.

Mereka menggunakan sistem itu untuk menguasai jalannya pemerintahan. Tidak ada dampak positif dalam pemerintahan yang menjalankan sistem oligarki, sedangkan oligarki sendiri menginduk pada paham global bernama kapitalisme. Ini hampir mirip dengan sistem feodalis, meskipun saya pikir ini memang ada korelasi dari berbagai sistem turunan kapitalisme di dunia.

Indonesia sendiri sejak lengsernya Presiden Ir. Soekarno jatuh dalam genggaman oligarki. Di masa Soekarno, Indonesia sangat gencar melawan kapitalisme dari Barat terutama Amerika Serikat. Namun kini tunduk dan patuh dengan pengaruh globalis Barat; dan bahkan sampai sekarang semenjak era Orde Baru ketika Soeharto berkuasa.

Sejarah dunia membuktikan bahwa kapitalisme pada abad 19 memiliki daya hegemoni yang cukup kuat untuk menguasai sumber daya alam di berbagai negara. Promotor serta pembawa paham oligarki yang sangat mencolok kala itu yaitu Amerika Serikat.

Di era setelah berakhirnya Perang Dingin, Amerika sebagai negara adidaya mulai kehilangan bisnis-bisnis terbesarnya. Salah satunya yaitu industri persenjataan militer.

Menurut Vladimir Putin (Presiden Rusia), “Industri persenjataan militer Amerika memang harus berjalan, maka dibentuklah musuh baru bernama terorisme buatan dengan Islam sebagai objeknya.” Bagi Putin, Islam bukanlah suatu masalah yang besar.

Negara-negara Timur Tengah menjadi sasaran Amerika dengan dalih bahwa pengembangan senjata nuklir di beberapa negara bagian Timur Tengah menjadi ancaman untuk negara-negara Barat seperti Amerika dan sekutunya. Dengan alasan akan mengganggu keseimbangan dan stabilitas dunia. Walaupun pada kenyataannya apa yang dituduhkan Amerika kepada negara-negara Timur Tengah tidak pernah terbukti.

Pada dasarnya negara-negara Timur Tengah memiliki sumber daya alam terbesar berupa minyak bumi. Minyak bumi menjadi sumber penghasilan terbesar dan merupakan input devisa utama di beberapa negara bagian Timur Tengah.

Baca juga:

Minyak bumi memiliki potensi vital dalam menjalankan roda ekonomi serta kebutuhan pokok masyarakat di sebuah negara dan menjadi titik central konsumsi masyarakat. Itulah sebabnya Amerika sangat berhasrat untuk menguasai minyak bumi di negara Timur Tengah berkedok fitnah dan tuduhan tidak berdasar tentang adanya senjata pemusnah massal dan eksistensi para pemimpin yang menentang Amerika seperti Saddam Hussein, Ahmadinejad, Moammar Ghadafi, dan pemimpin negara lainnya.

Oligarki memiliki kekuatan yang cukup hebat dalam hal legitimasi atas kepemilikan tanah rakyat dalam konteks agraria untuk kepentingan investasi dan membangun perusahaan. Di Indonesia misalnya, skenario terburuknya adalah bahwa pemerintah bekerja sama dengan elite lokal pengusung oligarki dan membuat regulasi serta peraturan baru untuk terbukanya izin penambangan, pengerukan, dan eksploitasi sumber daya alam melalui lembaga legislatif DPR dan berkoalisi pada orang-orang yang ada di jabatan menteri ataupun partai politik.

Tidak lupa bahwa presiden juga memiliki peran aktif dalam hal validasi regulasi yang baru sehingga terbentuknya undang-undang instan seperti UU Minerba, UU Omnibus Law, dan undang-undang pendukung lainnya. Belum lagi kebijakan di atas mengambil hak untuk diikut-sertakannya aparat kepolisian; serta tak sungkan menerjunkan prajurit militer seperti TNI untuk menemani pegawai perusahaan/pabrik ketika turun ke lapangan untuk agenda pengukuran dan eksekusi lahan.

Ini membuktikan bahwa rakyat yang menolak ketika lahan atau perkampungan mereka menjadi target investasi baru tidak berdaya melawan bentuk perampasan lahan dan tanah mereka. Ketika melawan, maka rakyat bisa dipidana dan bahkan dipenjarakan dengan dalih menghambat proses pengukuran dan penambangan oleh perusahaan.

Seperti yang terjadi di Wadas Purworejo, Pegunungan Kendeng, Urut Sewu Kebumen, dan di beberapa wilayah lainnya yang terkena dampak dari sistem oligarki ini. Akibatnya, rakyat jadi tidak punya tempat tinggal, sumber penghasilan dari alam maupun hak untuk hidup. Beberapa lembaga yang bisa menemani perjuangan rakyat hanyalah LBH (Lembaga Bantuan Hukum). Rakyat dibekali ilmu dan pegangan mengenai proses hukum dan mengadakan sosialisasi bantuan hukum untuk rakyat yang awam tentang proses hukum.

Oligarki di Indonesia masih akan terus berlanjut di beberapa daerah jika pemerintah masih mementingkan perut sendiri dan kepentingan politik daripada memikirkan nasib rakyat dan kesejahteraan untuk anak cucu mereka.

Para oligarkis kapitalis ini tidak hanya dari kalangan elite luar. Bahkan banyak dari kalangan politisi yang memegang saham di beberapa perusahaan yang menganut sistem ini.

Semua opini yang saya narasikan ini bukan karangan semata. Ini semua memiliki korelasi pada sejarah-sejarah di masa lampau tentang adanya dua ideologi besar yang masih eksis hingga sekarang.

Halaman selanjutnya >>>
    Farouq Syahrul Huda
    Latest posts by Farouq Syahrul Huda (see all)