Anak Muda, Rebut Politik dari Elite Konservatif dan Sektarian Populis

Anak Muda, Rebut Politik dari Elite Konservatif dan Sektarian Populis
©MI

Melalui tulisannya berjudul Anak Muda dan Politik, Juru Bicara PSI, Andy Budiman, menyeru semangat ke generasi muda. Ia ingin agar politik direbut dari tangan elite konservatif yang hendak mengembalikan politik ke era lama.

Ia juga menuntut agar anak-anak muda mampu meredam upaya kelompok sektarian populis. Menurutnya, kelompok ini punya niatan membangun politik berdasar konsep perkauman, sebuah bentuk politik yang sempit.

“Bagi kaum muda, tersedia dua pilihan: membiarkan orang lain yang membentuk masa depan atau ikut aktif terlibat menentukan masa depan seperti apa yang diinginkan,” tulis Andy di Kompas (20/8).

Ia menjelaskan bagaimana dua ancaman itu menggerogoti peta perpolitikan bangsa. Pertama, para elite politik konservatif tengah berupaya mengubah arah jarum jam sejarah. Mereka hendak mengembalikan politik ke era otoritarianisme.

Salah satu bentuknya, jelas Andy, datang dari kehendak memberlakukan kembali amandemen atas UUD 1945. Sejumlah politisi dari elite lama menghendaki presiden dipilih kembali oleh MPR sebagaimana terjadi pada masa Orde Baru.

“Ini adalah pengkhianatan besar atas perjuangan Gerakan Reformasi yang dipelopori anak-anak muda, yang telah melahirkan konstitusi yang memberikan landasan bagi kebebasan berpendapat, penghormatan pada hak asasi manusia, dan pembatasan kekuasaan.”

Andy pun mengingatkan, generasi muda tidak boleh lupa bahwa konstitusi yang hari ini berlaku telah memberikan landasan demokrasi. Ini memungkinkan presiden dipilih lewat sistem pemilihan langsung, dan berhasil melahirkan Jokowi, orang biasa yang mampu menembus politik yang selama ini hanya dikuasai segelintir elite.

“Itulah makna terbesar demokrasi. Membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun, apa pun latar belakangnya, untuk bisa menempati posisi apa pun. Termasuk yang tertinggi di republik ini, asal dia bisa membuktikan kerja nyata dan didukung oleh rakyat.”

Ancaman kedua, lanjut Andy, datang dari “Unholy Alliance” antara kelompok-kelompok radikal agama. Mereka berkawin kepentingan dengan para politisi populis yang berpura-pura mewakili kepentingan rakyat.

Kelompok ini menyasar kaum muda. Mereka menggunakan bahasa kesenjangan dan ketidakadilan yang lebih punya daya persuasi di kalangan anak muda.

“Mereka bicara soal pengangguran, kemiskinan, dan ketidakadilan. Sebuah tema yang lebih mudah diterima secara luas dan menyembunyikan sikap rasialis di balik bahasa isyarat yang makna kebenciannya jelas bagi para audiens mereka yang mengerti, sekaligus menjangkau publik luas karena menyentuh perasaan yang lebih universal.”

Kelompok tersebut dinilai Andy membangkitkan sentimen rasialisme secara tersamar yang dipahami oleh kelompok mereka, tetapi pada saat bersamaan seolah-olah bicara membela kepentingan “nasional”, membantu memberdayakan kaum pribumi yang termarginalisasi oleh serbuan produk luar.

“Kelompok ini tidak secara langsung bicara soal isu pribumi versus nonpribumi, tetapi misalnya menyindir soal besi dari Cina versus bambu petani lokal. Taktik seperti ini efektif menjangkau anak muda yang merasa selama ini suaranya tidak didengar, yang merasa ditinggalkan, dan terancam oleh serbuan asing.”

Dengan demikian, simpul Andy, dua arah ancaman tersebut bermuara pada satu hal: politik tertutup, politik otoritarianisme.

“Jika elite politik lama menang, kita akan kembali ke era Orde Baru. Seluruh aspek kehidupan dikontrol oleh elite politik yang mempunyai kekuasaan tanpa batas, yang membuat negeri ini pada tahun 1998 nyaris bangkrut dan hingga kini menyisakan persoalan korupsi yang akut.”

Jika kelompok sektarian populis yang menang, tambah Andy, maka rakyat Indonesia akan mengalami abad kegelapan. Agama dan suku akan menjadi sumber kebencian. Pertikaian tak ada habis-habisnya.

“Sejarah dunia membuktikan bahwa tidak ada masa depan di tanah yang politik sektarianismenya tumbuh subur. Irak, Suriah, dan Afghanistan adalah contoh bagaimana jutaan anak muda kehilangan harapan karena tidak punya pekerjaan. Kemiskinan di mana-mana. Konflik ras dan agama menjadi sebuah involusi tanpa akhir.” [ko]