Anak Over Fasilitas

Anak Over Fasilitas
©OkeZone

Nalar Warga – Saya kenal beberapa teman, lahir dan tumbuh sebagai kasta tinggi secara sosial, finance, edukasi, cerdas, cantik/ganteng pula. Sejak kecil jarang ketemu teman yang setara, tumbuh dengan self-esteem tinggi. Lingkungan sosial sekitar pun memanjakan, permisif dan kadang over fasilitas, terlebih yang tahu posisi orang tuanya.

Beranjak besar, mereka kuat karena terbentuk oleh tulang-tulang yang kokoh dari semula. Modal kognisi dan talenta yang dimiliki lebih dari cukup untuk menguasai area yang dituju. Modal sosialnya pun juga memudahkan terhimpunnya relasi.

Selalu menjadi bintang di masa muda mempersering peristiwa dikelilingi atensi dan beragam reward materiel/sosial yang mengukuhkan. Sejalan dengan itu, sikap kompetitif muncul tak terbendung, karena prestasi adalah tujuan penting yang berujung menyenangkan karena selalu sukses mudah teraih.

Namun tak belajar mengalami kegagalan di masa muda ternyata menyisakan celah, salah satunya over estimasi pada diri sendiri dan memanjakan ego sebagai individu hebat. Lebih sulit lagi jika sedari kecil tak berkesempatan belajar kata “maaf”, karena relasinya hampir selalu dengan level yang lebih rendah.

Ketika dewasa, muncul kesulitan saat berhadapan dengan dunia sosial yang luas dan kompleks. Kognisi yang tinggi tak bisa menjadi jaminan karena maturitas yang belum tuntas sering mendistorsi saat memotret realitas. Kegagalan untuk menempatkan diri pada pikiran dan perasaan orang lain banyak terjadi.

Agak bikin deg-degan jika kemudian yang bersangkutan nyemplung ke dunia tertentu yang berisiko, yang karena tuntutan pekerjaan kadang harus mewajarkan banyak strategi, dan mungkin pamali untuk mengakui satu kekurangan lalu memperbaiki. Di bagian ini, menjaga harga diri adalah sebuah keniscayaan.

Memecahkan persoalan hidup ternyata tak cukup hanya skill intelektual, tapi juga kematangan, toleran, ketulusan, berani mengontrol ego, mau memberi ruang bagi yang lain, dan siap merangkul kompetitor dengan legawa.

So, jangan cuma fokus pada prestasi. Anak juga perlu bejalar gagal, empati, dan rendah hati.

*Lita Widyo

    Warganet
    Latest posts by Warganet (see all)