Ancaman Dunia sesudah Corona

Ancaman Dunia sesudah Corona
©Pixabay

Setidaknya kita akan menghadapi ancaman bagi populasi dunia setelah Corona.

Pandemi Covid-19 yang muncul pertama kali di Wuhan, Cina, telah menyadarkan komunitas global tentang bencana yang dapat mengancam kehidupan populasi bumi. Pada akhir April 2020, menurut data  John Hopkins University, European Centre for Disease, terkonfirmasi setidaknya lebih dari 3 juta kasus, dengan 214 ribu kasus kematian dan angka kesembuhan mencapai 870 ribu orang.

Penanganan covid-19 oleh pemerintah yang belum maksimal, ditandai dengan belum melandainya kurva Covid dikombinasikan dengan faktor masyarakat yang sering tidak mengindahkan protokol kesehatan, mengindikasikan pandemi ini mungkin masih akan berlangsung setidaknya hingga akhir tahun. Virus ini telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan populasi dunia, mulai dari ekonomi, sosial, standar hidup, hingga kehidupan agama.

Ketidakmampuan pemerintah menangani pandemi ini dapat dilihat dari terus meningkatnya kurva positif Covid-19 di Indonesia. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Work From Home (WFH), serta protokol sederhana untuk memakai masker dan mencuci tangan untuk masyarakat menunjukkan betapa kita kewalahan menghadapi ancaman-ancaman seperti virus dan penyakit.

Empat Ancaman

Covid-19 bukan bencana pertama dan bukan satu-satunya yang akan dihadapi masyarakat global hari ini. Jared Diamond, seorang pakar geografi dan antropologi, memprediksi setidaknya kita akan menghadapi ancaman-ancaman bagi populasi dunia setelah Corona. Kemampuan masyarakat dunia hari ini menghadapi pandemi menggambarkan bagaimana respons mereka dalam menghadapi ancaman-ancaman bagi populasi manusia, jikapun mereka beruntung bisa melewati pandemi Covid-19.

Lantas, fak­tor-faktor apa yang mengancam populasi manusia dan standar hidup di seluruh dunia, di masa mendatang? Dalam kasus terburuk, apa yang mengancam keber­langsungan eksistensi peradaban secara global, selain Virus Corona?

Ada empat rangkaian masalah yang berpotensi membahayakan dunia. Dalam urutan visibilitas dramatis tetapi tidak penting, mereka adalah ledakan senjata nuklir, perubahan iklim glob­al, penipisan sumber daya global, dan ketidaksetaraan standar hidup global.

Krisis Nuklir

Kita dapat mengidentifikasi empat rangkaian skenario yang memuncak dalam peledakan bom nuklir oleh pemerintah atau oleh kelompok teroris non-pemerintah. Skenario yang paling sering dibahas adalah serangan menda­dak yang direncanakan oleh satu negara.

Ini merupakan serangkaian kesalahan perhitungan yang meningkat dari tanggapan pemerintah. Ini adalah kesalahan membaca tanda peringatan teknis. Penggunaan senjata nuklir melibatkan para teroris yang mencuri uranium atau plu­tonium atau bom yang sudah jadi dan terbuat dari tenaga nuklir.

Konsukuensi dari ledakan nuklir akan jauh lebih besar. Jelaga dan debu sisa ledakan nuklir akan memblokir sinar matahari yang memapar bumi. Ia menciptakan serangkaian musim dingin jangka panjang. Ia menurunkan suhu bumi, merusak tanaman dan hewan, serta membunuh lebih banyak manusia akibat kelaparan, penyakit, dan tentu saja radiasi.

Perubahan Iklim Global

Ancaman besar berikutnya yang akan membentuk ke­hidupan kita dalam beberapa dekade mendatang adalah perubahan iklim global. Hanya sedikit orang yang benar-benar memahaminya. Kecuali para spesialis iklim dan banyak orang yang berpengaruh (termasuk banyak politisi Amerika) menganggapnya sebagai lelucon. Naiknya permukaan laut adalah salah satu contoh kerusakan lanjutan akibat perubahan iklim global.

Titik awal perubahan iklim adalah populasi manusia di dunia dan dampak ra­ta-rata per orang di dunia. (Ungkapan terakhir itu berarti jumlah ra­ta-rata sumber daya seperti minyak yang dikonsumsi dan limbah sep­erti limbah yang diproduksi, per orang per tahun).

Ketiga dari jumlah itu—jumlah orang dan konsumsi sumber daya orang rata-rata serta pro­duksi limbah—meningkat. Akibatnya, dampak total manusia pada dun­ia meningkat. Karena dampak total sama dengan peningkatan dampak rata-rata per orang dikalikan dengan meningkatnya jumlah orang.

Untuk menyaingi tren pemanasan rata-rata dalam kepent­ingannya bagi masyarakat manusia adalah peningkatan iklim ekstrem. Badai dan banjir meningkat, puncak cuaca panas makin panas, tetapi juga puncak cuaca dingin makin dingin, menghasilkan efek seperti salju di Mesir dan gelombang dingin di Timur Laut AS.

Ada empat konsekuensi dari peningkatan iklim dunia yang makin panas. Konsekuensi paling jelas bagi orang-orang di banyak bagian dunia adalah kekeringan. Konsekuensi kedua dari tren pemanasan global rata-rata ada­lah penurunan produksi pangan di darat, dari kekeringan yang baru saja saya sebutkan dan secara paradoksal dari peningkatan suhu tanah

Konsekuensi ketiga dari tren pemanasan rata-rata adalah bahwa serangga pembawa penyakit tropis pindah ke zona beriklim sedang. Masalah penyakit yang dihasilkan sejauh ini termasuk penularan ba­ru-baru ini demam berdarah dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui kutu di AS. Juga, kedatangan demam chikungunya tropis baru-baru ini di Eropa dan penyebaran malaria dan virus ensefalitis.

Konsekuensi terakhir dari tren pemanasan yang akan saya se­butkan adalah naiknya permukaan laut. Perkiraan konservatif dari kenaikan rata-rata permukaan laut yang diperkirakan selama abad ini adalah 3 kaki. Tetapi telah ada kenaikan di masa lalu hingga 70 kaki.

Menipisnya Sumber Daya

Ancaman selanjutnya adalah terjadinya penipisan global sumber daya alam. Itu menjadi masalah dunia. Karena beberapa sumber daya (terutama air dan kayu) telah memberlakukan batasan pada masyarakat masa lalu dan menyebabkan mereka runtuh. Sumber daya lainnya (terutama bahan bakar fos­il, mineral, dan lahan produktif) telah memotivasi perang. Kelangkaan sumber daya sudah merusak masyarakat atau mengancam akan menye­babkan perang di banyak bagian dunia saat ini.

Lantas apa yang harus kita lakukan, ketika bencana ini akan tiba mungkin dalam waktu 10 atau 20 tahun mendatang?

Masyarakat dunia bisa menjadikan pandemi Corona sebagai pelajaran bagaimana menghadapi tantangan bencana di masa mendatang. Kegagalan-kegagalan dalam menghadapi pendemi ini harus diperbaiki, terutama dalam masalah kebijakan negara.

Apa yang Harus Dilakukan Setiap Negara

Solusinya, negara harus melakukan kolaborasi global, untuk menghindari peperangan akibat nuklir. Membuat kesepakatan mengurangi emisi global, mengurangi ketimpangan akibat gaya hidup antarnegara maju dan negara dunia ketiga, serta mengurangi konsumsi energi dan sumber daya secara berlebihan untuk menghindari penipisan sumber daya di masa mendatang.

Semua masalah tersebut bersumber pada faktor konsumsi. Hari ini banyak pakar berani mengatakan bahwa bumi masih cukup kuat menopang konsumsi bagi 9 miliar manusia.

Tetapi dengan tingkat konsumsi 32 kali lebih banyak bagi negara maju dibandingkan dengan negara dunia ketiga, tidak ada satu pakar pun berani mengatakan bahwa sumber daya kita cukup untuk memenuhi kebutuhan 80 miliar manusia. Pembatasan penggunaan energi dan sumber daya serta kerja sama antarnegara dalam menyelamatkan miliaran manusia di masa mendatang akibat peperangan nuklir, perubahan iklim, dan perebutan sumber daya yang terbatas.

Muhammad Iqbal Suma
Latest posts by Muhammad Iqbal Suma (see all)