Andi Zulkarnain untuk Jokowi: Rekonsiliasi OK, Politik Dagang Sapi NO

Andi Zulkarnain untuk Jokowi: Rekonsiliasi OK, Politik Dagang Sapi NO
Dok. Simposium Peneliti Jokowi

Andi Zulkarnain menyebut wacana politik di tingkatan elite hari ini telah bergeser. Menurut peneliti Jokowi yang pernah menulis tesis berjudul Fenomena Politik Jokowi ini, perbincangan yang dulunya adalah upaya persatuan itu kini bernuansa ke agenda bagi-bagi kekuasaan.

“Mengamati perkembangan politik nasional beberapa minggu terakhir, perbincangan politik para elite agak sedikit bergeser. Dari yang tadinya wacana rekonsiliasi, kini mengarah ke power sharing,” kata Zul lewat keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (29/7).

Meski upaya rekonsiliasi sangat dibutuhkan, tetapi itu tidak boleh hanya berada di level elite saja. Bagi Zul, selain juga harus melibatkan arus bawah, rekonsiliasi pun mesti berjalan tanpa perlu menimbrunginya dengan politik dagang sapi.

“Rekonsiliasi perlu bukan hanya di level elite, tetapi juga arus bawah. Rekonsiliasi juga tidak berarti harus meminta jabatan di kabinet. Karena itu, hal yang perlu diantisipasi adalah menghindari politik dagang sapi.”

Alumnus magister Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) ini pun mengingatkan bahwa demokrasi, sebagaimana sistem politik yang lain, selalu punya kelebihan dan kekurangan. Sehingga, rekonsiliasi menjadi begitu penting dalam demokrasi.

“Ini penting agar energi kita bisa gunakan untuk membangun bangsa, bukan berkonflik dalam waktu yang panjang.”

Meski juga turut menegaskan pentingnya sebuah oposisi sebagai penyeimbang kekuasaan dan instrumen checks and balances, namun Zul berharap agar kelompok civil society, termasuk relawan Jokowi, tetap kritis pasca-pemilu.

“Tidak boleh membiarkan Jokowi “berperang” sendiri dan dikepung oleh elite dengan berbagai macam kepentingan yang tidak selalu paralel dengan pembangunan nation-state.”

Pembentukan Kabinet

Dalam hal pembentukan Kabinet Kerja Jilid II, Andi Zulkarnain mengharapkan Jokowi tidak gegabah. Menurutnya, Presiden Terpilih harus membuktikan diri sebagai subjek yang mampu mengembalikan politik ke rupa aslinya.

“Jokowi harus membuktikan itu. Politik harus dikembalikan kepada hakikatnya, yakni en dam onia—dalam istilah Aristoteles dan Plato—yang berarti kehidupan yang lebih baik.”

Karena itu, Zul menekankan pentingnya kapasitas dan loyalitas sebagai tolok ukur Jokowi dalam menyusun kabinet.

“Kesuksesan Jokowi di Solo, DKI Jakarta, dan Presiden RI di periode pertama ini karena kemampuan dia memilih orang sekitarnya atau ring 1 dengan syarat kapasitas dan loyalitas. Jokowi tidak boleh melupakan sistem pemilihan ring 1 yang telah membesarkannya, yakni berbasis pada kapasitas dan loyalitas itu tadi.”

Terkait dua tolok ukur tersebut, ia ingin jika Jokowi menilai bahwa siapa pun yang terlibat dalam upaya pemenangannya di Pilpres 2019 kemarin adalah bukti bahwa mereka punya loyalitas tinggi.

“Loyalitas itu adalah poin lebih.”

Hanya saja, tambah Zul, loyalitas masih perlu di-back up dengan kapasitas yang memadai.

“Untuk menjalankan mesin pemerintahan di era kompetisi global seperti saat ini, haruslah ditopang oleh SDM yang memiliki kapasitas di atas rata-rata, bukan sekadar loyalitas semata.”

Dan, sebagai narasumber Simposium Peneliti Jokowi I & II di Jakarta yang diinisiasi oleh Arief Rosyid beberapa waktu lalu, Zul pun menekankan perlunya kabinet diisi oleh orang-orang terbaik. Bahwa setiap bidang kerja wajib dijalankan oleh mereka yang mumpuni.

“Kabinet baru nanti merupakan jawaban atas beberapa kelemahan di periode pertama. Inilah momen bagi Jokowi untuk membangun legacy di negeri ini. Meritokrasi.”