Andy Budiman: Sektarianisme akan Digeser Politik Teknokratik Pascapandemi

Andy Budiman Sektarianisme akan Digeser Politik Teknokratik Pascapandemi
©Andy Budiman (FB)

Nalar Politik – Politik teknokratik akan muncul sebagai wajah baru politik dunia pascapandemi. Wajah politik teknokratis ini akan menggeser sektarianisme dan politik identitas. Pascapandemi, politik sektarian yang menggunakan simbol-simbol agama tidak akan lagi mendapat tempat.

Demikian Andy Budiman, juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), pada diskusi yang diadakan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), 19 Mei 2020, bertajuk Masa Depan Agama Pascapandemi. Politik teknokratik itu, menurut Andy, terbukti berhasil memenangkan pertarungan melawan pandemi Covid-19 sejauh ini.

Co-founder SEJUK ini menilai bahwa di dalam krisis, seseorang secara umum dipaksa untuk berpikir dan mengikuti ilmu pengetahuan. Mereka harus melakukan verifikasi pesan, dan secara intens mengikuti perkembangan para ahli.

Secara tidak sadar, suara-suara politik sektarian menurun. Bahkan para tokoh agama pun beramai-ramai mendukung saran ilmu pengetahuan tentang cara mengatasi wabah.

Selain kecenderungan untuk mengikuti ilmu pengetahuan, reaksi kedua dari munculnya wabah adalah hadirnya solidaritas kemanusiaan.

“Menguatnya solidaritas warga terlepas sekat-sekat ras, dan agama, sebelum bagi-bagi bantuan. Ini sesuatu yang positif,” papar Andy.

Yang berkembang dalam suasana wabah ini, menurutnya, adalah narasi kemanusiaan, bukan keagamaan.

Namun demikian, Andy menambahkan, bahwa ada kemungkinan muncul respons ketiga, yakni berkembangnya religiositas. Andy mengutip karya Pippa Norris dan Ronald Inglehart, Sacred and Secular, yang menyatakan bahwa peningkatan religiositas pada sebagian masyarakat Barat disebabkan oleh munculnya rasa ketidakpastian, terutama akibat krisis ekonomi.

Akan tetapi, religiositas yang akan muncul pascapandemi adalah religiositas dengan orientasi ke dalam, bukan religiositas yang dipamer-pamerkan keluar. Religiositas ke dalam itu, menurut Andy, adalah religiositas penyerahan diri pada yang ilahi.

“Salah satu tugas utama agama adalah penghiburan,” tegas Andy.

Karena itu, Andy menilai, di masa depan, agama tidak akan muncul dalam bentuk politik identitas. Salah satu sebabnya adalah karena dalam pandemi, semua ras, agama, suku, dan identitas apa pun berada dalam penderitaan yang sama.

Tidak ada kelompok yang bisa mengeklaim paling menderita dari serangan wabah ini. Semua terancam. [yt]

Baca juga: