Anjing Masuk Masjid Menistakan Agama?

Anjing Masuk Masjid Menistakan Agama?
Dok. Pribadi

Belakangan, masyarakat ribut oleh kasus video yang menggambarkan seorang wanita tak berhijab membawa seekor anjing masuk Masjid Jami Al-Munawaroh, Sentul. Warganet mengecam keras sikap arogansi perempuan tersebut, terlebih kebanyakan para pengguna media sosial mengecam karena anjing dibiarkan masuk masjid.

Masuknya binatang tersebut ke dalam masjid dianggap sebagai bentuk penistaan agama. Bagaimana tidak, masjid yang merupakan tempat ibadah kepada Tuhan justru dimasuki oleh hewan anjing yang najis dan diharamkan.

Saya pribadi tidak terfokus pada persoalan si ibu tersebut, tetapi yang menarik adalah anjing yang dibawa si ibu menjadi sorotan dan menjadi dalih bahwa si ibu melakukan penistaan terhadap Islam. Tanpa membenarkan sikap si ibu, kecaman warganet bahwa anjing yang masuk masjid tersebut sebagai bentuk penistaan agama rasanya kurang tepat.

Apalagi jika kita mengingat kasus seorang muslimah bercadar yang di-bully warganet karena memelihara dan menyayangi anjing-anjing liar yang kemudian dirawatnya. Seolah muncul stigma bahwa, bagi seorang muslim yang mencintai anjing, itu adalah tindakan abmoral yang membawa kemurkaan Allah.

Anjing dalam Literatur Islam

Umat muslim pada umumnya menganggap anjing adalah sesuatu yang najis dan menjijikkan. Berbeda dengan anggapan orang di luar Islam (khususnya orang Barat) bahwa anjing adalah sahabat manusia, umat muslim pada umumnya menganggap anjing adalah binatang yang membawa kesialan.

Itu karena dalam hadis, anjing dikategorikan sebagai makhluk yang membuat malaikat enggan masuk rumah. Ada juga hadis yang menyebut bahwa jika anjing hitam sedang lewat di depan orang salat, maka salatnya batal, sebab ia adalah jelmaan dari setan.

Dalam literatur fikih atau hukum Islam, mungkin fikih Imam Syafi’i (yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia) adalah yang paling tegas terhadap hewan ini. Anjing dianggap sebagai hewan haram yang menajiskan, baik dagingnya, liurnya, kulitnya, bahkan bekas minumnya, jilatannya, dan bekas tapak kakinya(?), bahkan juga kulitnya yang telah disamak. Tentu saja hal ini membuat umat Islam berhati-hati sekali jika bertemu anjing dan didekati oleh hewan ini.

Berbeda dengan mazhab Syafii, Maliki adalah mazhab yang terkenal cukup “lentur” dalam memfatwakan hewan ini. Anjing bagi Maliki bukanlah hewan yang bermasalah. Literatur hadis yang berkaitan dengan haramnya anjing juga banyak dikritisi oleh ulama mazhab Maliki (khususnya kritis terhadap fatwa ulama mazhab Syafi’i dan Syi’ah tentang kenajisan anjing). Bagi mazhab Maliki, menyentuh anjing atau memeliharanya (khususnya untuk berburu) bukanlah hal yang dilarang agama.

Hal tersebut merujuk pada Alquran surah Al-Maidah ayat 4 yang membolehkan memakan hewan buruan yang ditangkap/diterkam oleh anjing yang dilatih untuk berburu. Bahkan para orang-orang saleh sebelum Nabi Muhammad, seperti Ashabul Khafi, juga mempunyai anjing yang bernama Qitmir sebagai hewan peliharaan yang setia.

Bagi mazhab Maliki, memakan anjing bukanlah haram, tetapi makruh saja. Dengan alasan, anjing tidak dimasukkan dalam daftar hewan yang diharamkan oleh Alquran suci.

Memang mazhab Maliki mengakui hadis yang menyuruh bekas jilatan anjing pada bejana atau baskom harus dicuci. Namun hal ini, bagi mazhab Maliki, hanya sebagai perintah yang berbentuk ketaatan, alias kita mencuci bejananya karena disuruh oleh Rasulullah, bukan karena keharaman anjing itu sendiri.

Terlepas dari sekelumit masalah fikih Islam mengenai anjing, dalam  mazhab Islam di luar 4 mazhab besar, sekte Muktazilah justru sangat memuliakan anjing, bahkan tidak senang pada pendeskreditan anjing oleh kaum ahli hadis. Syakh Nazzam adalah seorang ulama yang begitu meyakini bahwa anjing memiliki keutamaan dan kesetiaan melebihi kucing.

Al-Jahiz, seorang ulama dan filsuf muslim, telah menulis sebuah buku, yaitu AlHayawan. Salah satu babnya berisi daftar keunggulan dan manfaat hewan anjing bagi manusia daripada kucing. Begitu juga, kita mendapat sisi positif anjing dalam kitab Hayah al-Hayawan al-Kubra karya Kamaluddin Ad-Damiri.

Ad-Damiri menulis bahwa hewan anjing adalah hewan peliharaan yang unik. Ia bisa buas dan bisa jinak, tidak sulit merawatnya, memiliki loyalitas tinggi, menghormati orang-orang mulia dan para ulama. Bahkan anjing (konon) tidak berani menggonggong ke para ulama karena menghormatinya.

Ad-Damiri juga menulis tentang manfaat hewan anjing selain dipelihara. Contoh, air susu anjing bisa menetralisasi racun sekalipun racun yang paling mematikan. Jika susunya dicampur air putih, maka dapat menyembuhkan penyakit batuk; jika air susunya dioles pada mata, maka akan mampu menahan kantuk; jika kelaminnya dikeringkan dan diikat di pinggang, konon bisa menguatkan syahwat; dan lain sebagainya.

Dari keterangan di atas, jelas, Islam tidak memandang anjing sebagai hewan yang selalu membawa sisi negatif,  tetapi juga memiliki sisi positif. Islam juga tidak mengharamkan secara mutlak memelihara anjing. Syaikh Syihabuddin bin Ahmad Al-Qalyubi, dalam kitab Hasyiyah Qalyubi,  membolehkan seorang muslim untuk memelihara anjing, wabil khusus sebagai penjaga rumah.

Memang pada dasarnya Islam telah menyuruh kita untuk menyayangi semua makhluk Allah, termasuk hewan (khususnya anjing). Perdebatan para ulama mengenai status keharaman anjing ini TIDAK BOLEH membuat kita sebagai seorang muslim memusuhi dan menyiksa hewan ini. Menyayangi anjing dan memberinya kehidupan tetaplah hal yang terpuji bagi seseorang, terlepas dari soal halal dan haramnya.

Mari kita bercermin pada kisah yang tertuang dalam sabda nabi (hadis) bahwa seorang pelacur di zaman nabi Isa As dimasukkan ke syurga oleh Allah karena berbuat satu kebaikan, yaitu menyelamatkan nyawa seekor anjing yang kehausan dengan memberinya seteguk air.

Perbedaan terhadap status anjing ini pun tidak perlu diperlebar. Mari kita berpikir lebih bijak dan santun. Bagi yang menolak anjing, maka cukuplah kita menjauhi dan menolak hewan tersebut tanpa harus mengusir dan mengusiknya. Atau, jikalau ingin memberinya makanan, silakan memberi anjing tersebut makan tanpa harus menyentuhnya (dengan menaruh makanan pada nampan).

Sebagai penutup, ada sebuah anekdot lucu yang diceritakan bahwa Harun Nasution, seorang teolog dan filsuf Islam Indonesia terkemuka, adalah seorang yang memercayai sucinya hewan anjing sehingga ia memeliharanya di rumah. Sadar bahwa banyak orang Islam di Indonesia yang dalam mazhabnya menjauhi dan mengharamkan hewan ini, maka, oleh beliau, hewan ini dijuluki sebagai “Maliki”.

Ketika beberapa mahasiswa bertamu ke rumah Pak Harun, si Maliki ini menghampiri mahasiswa tersebut. Sontak para mahasiswa “Islami” tersebut langsung menjauh (mungkin juga karena takut). Lalu dengan senyum, Pak Harun berkata, “Hei, Maliki! Menyingkirr! Si Syafi’i mau masuk.”

Reynaldi Adi Surya
Reynaldi Adi Surya 2 Articles
Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta. Akademisi muslim yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, Islam moderat, dan kerukunan antarumat beragama.