Anomali di Tengah Pergerakan Zaman

Anomali di Tengah Pergerakan Zaman
©Baladena

Anomali ini perlahan memunculkan pertanyaan; apakah organisasi pergerakan mahasiswa masih sesuai dengan kebutuhan zaman atau tidak?

Jika kalian adalah aktivis mahasiswa yang jeli dalam membaca zaman, kalian akan menemukan bahwa ada masalah besar yang sedang melingkupi organisasi pergerakan mahasiswa.

Tetapi sebelum menjabarkan lebih jauh tentang persoalan besar itu, biarlah saya menanyakan sesuatu hal kepada para aktivis mahasiswa sekalian. Pertanyaannya adalah: pernahkah kalian melihat seseorang kemudian kalian merasa kalau waktu yang ada padanya terkesan berhenti ? Jika kalian pernah melihatnya, maka bisa saja kalian mampu merasakan apa yang saya cemaskan.

Seperti yang kita ketahui bahwa pergerakan zaman hari ini ditandai dengan makin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan artificial intelligence. Pesatnya perkembangan kedua hal tersebut bahkan membuat manusia merasa minder dengan dirinya sendiri. Atau dalam bahasa yang lebih vulgar bisa dikatakan bahwa manusia diam-diam sedang mempertanyakan eksistensinya sendiri.

Tema-tema diskusi tentang filsafat manusia, teknologi, dan ilmu ikut diluncurkan untuk merespons kekhawatiran ini. Buku-buku yang membahas mengenai asal muasal manusia seperti Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21 Century berserakan di toko-toko buku.

Perkembangan IT dan AI juga turut memengaruhi diskursus filsafat politik. Hal ini dibuktikan dengan munculnya sebuah konsep baru yang bernama “datakrasi”.

Namun, di tengah ingar bingar diskusi para ilmuwan untuk merespons pegerakan zaman, organisasi pergerakan mahasiswa terkesan tidak memiliki ketertarikan untuk ikut dalam percakapan tersebut. Para aktivis pergerakan mahasiswa seakan memiliki percakapan-percakapan lain yang terkadang hanya bersifat jangka pendek dan temporer.

Bahkan yang lebih menggelikan lagi, percapakan di kalangan aktivis mahasiswa lebih banyak membahas problem-problem intenal organisasi. Tentu pembicaraan seperti ini akan membuat organisasi pergerakan mahasiswa akan menjadi anomali di tengah pergerakan zaman yang makin menunjukkan geliat ke arah yang lebih sukar untuk dipahami ke depannya.

Anomali ini perlahan memunculkan pertanyaan; apakah organisasi pergerakan mahasiswa masih sesuai dengan kebutuhan zaman atau tidak? Pertanyaan itu makin menguat ketika muncul orang-orang seperti Greta Thunberg, seorang anak umur 12 tahun yang berhasil memengaruhi banyak orang untuk ikut dalam aksi climate strike.

Baca juga:

Lantas, di tengah kondisi seperti ini, apakah para aktivis pergerakan mahasiswa akan membiarkan kondisi anomali ini akan terus berlanjut? Ataukah segera mengubah strategi agar percakapan yang tadinya bersifat jangka pendek dan temporer berubah menjadi percakapan jangka panjang yang berorientasi kepada peradaban?

Salah satu cara yang bisa digunakan agar dapat mengubah percakapan tersebut adalah dengan mulai mempelajari tentang sejarah pergerakan zaman dan peristiwa-peristiwa besar selalu didasarkan kepada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan akan terus menjadi jembatan penghubung antara kita dengan roda pergerakan zaman.

Sebelum saya mengakhiri tulisan yang membosankan ini, izinkan saya mengutip perkataan seorang Dosen dari Universitas Princeton dalam film A Beatiful Mind, yaitu “Matematikawanlah yang memenangkan Perang dunia ke II”. Apakah benar? Silakan tonton dan cari tahu sendiri kebenarannya.

Apakah hanya satu peristiwa itu saja yang menunjukkan peran besar Ilmu Pengetahuan? Jawabannya tidak. Masih ada peristiwa besar lainnya dalam lembar sejarah peradaban manusia. Eureka!

Miftah Rinaldi Harahap
Latest posts by Miftah Rinaldi Harahap (see all)