Anomali Jokowi

Reformasi 1998 yang bertujuan melakukan pembatasan masa jabatan kekuasaaan yang dinilai sebelumnya menjadi corong justru terjadi kesewenang-wenangan kekuasaaan kembali akan dikhianati. Inilah anomali pemerintahan Jokowi menjelang masa jabatan yang akan berakhir, penuh dengan intrik yang menggelikan sekaligus menjijikkan.

Partai Tak Bisa Diharapkan

Bungkamnya partai politik sebagai medium rakyat untuk berkompetisi dan menyalurkan suaranya cukup memberikan kita kepastian mengenai wajah demokrasi yang menyelimuti republik ini. Mereka tidak dapat diharap untuk saat ini dan mungkin juga nanti.

Seperti ungkapan Benedick Anderson bahwa revolusi Indonesia adalah revolusi pemuda, tentunya pemuda yang sadar akan situasi dan kondisi yang terjadi, pemuda yang bewust politik. Dalam peperangan kita dapat terbunuh sekali, tapi dalam politik kita dapat terbunuh berkali-kali.

Namun haruskah kita kecewa terhadap politik dan bahkan menjauhinya?

Mungkin sepintas kita dapat berpikir dan melakukannya tapi lari dari keniscayaan sebagai manusia politik merupakan pengingkaran terhadap kewajiban kemanusiaan. Kita boleh terluka, kecewa, dan menangis dalam politik, tapi penting juga merasionalkannya. Kita boleh mengutuknya, tapi jangan berhenti meyakini bahwa politik merupakan perjumpaan cinta dan perjuangan.

Sejarah gerakan yang masih memberikan harapan bertumpu pada pemuda dan mahasiswa yang tidak terpisah dari realitas sosial, kesatuan sejarah mengalir nyata pada setiap zaman. Berkali-kali harus babak belur, penjara dan bahkan mati telah menjadi kepastian untuk perjuangan. Menjadi benteng menjaga kewarasan bilamana politik kesejahteraan menjadi monopoli kekuasaan.

Ayo, bung, bergerak bersama di masa pancaroba ini. Bangkit atau hilang selamanya! Merdeka!

Baca juga:
    Abd Muid