Antara Cinta yang Berbalas, Obsesif dan Kompulsif

Antara Cinta yang Berbalas, Obsesif dan Kompulsif
©YouTube

Angin malam menemaniku dalam keheningan. Aku selalu berpikir dan tanpa berhenti. Meniti banyak harap di sepertiga malam. Menetes basah di mihrab tanpa satir nan sunyi. Sayup-sayup gemercik air tedengar lirih. Bapak mulai bangun dari luputnya mimpi. Bergegas mengambil air wudu dan mulai khusu’ bermunajat dengan syahdu.

Membahas keluarga di rumah, kami hanya ada bapak dan aku. Setiap pagi kami membagi tugas rumah. Ada yang nyapu, dan ada yang tidur lagi, melanjutkan sisa tidur waktu malam. Uniknya, kami tak pernah bertengkar tentang persoalan tugas pagi itu. Barangkali bagi kita, hidup berdua sudah cukup susah, bagaimana jika ada percekcokan lagi, malah makin tambah tak karu-karuan.

Setiap pagi, aku yang selalu membelikan bapak sarapan, dan tentunya juga buat diri sendiri. Kalo sarapan, itu pasti tugasku. Karena bapak akan sibuk membetulkan motor vespanya, entah dengan memanaskanya atau mencucinya agar mengkilap. Aku berangkat sekolah dia berangkat kerja. Selalu seperti itu alur kita di pagi buta.

Di sekolah, adalah waktu yang paling aku tunggu. Karena gadis pujaanku hanya bisa ku pandangi lama-lama jika berada di sekolah, apalagi kelasnya sama. Aku duduk di belakang, dia di depan. Di situ aku akan selalu mengawasi gerak geriknya, bahkan jika dia ke toilet, aku akan pura-pura izin pak guru ke toilet juga.

Sandiwara ini sulit, namun karena kekuatan cinta itu maha dasyat, maka aku bisa saja menikmatinya tanpa masalah apapun. Mengalir begitu saja. Dan hanya cinta yang membuatku berhenti berfikir keras.

Oh iya, namanya Clara, panggilannya ‘ra’. Sedangkan namaku hampir sama denganya, Rendro dipanggil ‘re’. aku kira dengan ketidaksengajaan dalam kemiripan nama ini ada bau-bau jodoh tak terduga. Tetapi toh Tuhan, tidak pernah salah dalam menentukan, soalya jika salah siapa yang akan bertanggung jawab?

Selain lugu, dia juga punya gingsul yang tidak semua gadis lain punya. Belakangan, aku mengerti, kenapa? Banyak kaum buaya yang mengincar ra dari jarak jauh. Alih-alih tertembak cinta, justru banyak yang berniat membunuhnya.

Di sekolah kami, memang lazim membunuh sesorang yang lebih baik dari pasanganya. Karena iri dengki. Bahkan untuk tumbal agar pacarnya semakin cantik jelita. Jadi, sudah menjadi adat, untuk mengorbankan satu nyawa demi kecantikan.

Baca juga:

Suatu hari, bapak terkejut melihat gadis mungil yang terluka serius itu. Benar, Clara diincar karena kemanisannya mengalahkan banyak gadis lain, terutama yang punya pacar posesif. Berkat bapak, Clara tidak jadi meninggal dengan sadis, yaitu dipaksa meminum racun tikus serta di tusuk-tusuk jarinya sudah seperti jailangkung yang diakupuntur oleh praktisi cina. Karena bapak mewarisi bakat alami penyembuhan dari nenek.

Dan ternyata Clara membalas cintaku. Mudah begitu saja. Awalnya dia merasa tidak enak dengan bantuanku kala itu, yang seandainya jika bukan karena aku dan bapakku, mungkin dia sudah beristirahat secara permanen di kuburan. Dan berkat cintanya, pikiran kacauku sudah mulai membaik dengan perlahan.

Tuhan maha baik, bahkan lebih berpihak kepada Clara, dan aku suka Tuhan menentukan seperti itu. Karena aku sekarang menjadi pacarnya, maka aku juga akan jadi bulan-bulanan laki-laki yang membenci Clara. Selain itu, aku banyak menerima tekanan dari banyak laki-laki pendengki itu. Dari sinilah pikiranku justru kian memburuk.

Di minggu pertama bapak ternyata juga jadi incaran, sehingga waktu itu pun, ia akhirnya mengembuskan napasnya yang terakhir kali tatkala pagi buta Ia mengeluarkan vespa dari dalam rumah. Ia tertembak panah kecil yang beracun bisa cobbra.

Aku sangat terpukul atas kejadian itu. Dan berniat bunuh diri, namun Clara mencegahku dan akhirnya tidak jadi bunuh diri, padahal waktu itu tinggal naik kursi lalu menggantungkan diri kemudian mati. Tapi itu tadi, Tuhan masih baik dan selalu akan baik. Akhirnya dia menyelamatkanku lewat Clara.

Minggu kedua, aku dan Clara memulai hidup baru, satu atap di rumahku. Karena bapak sudah pergi, maka aku mengajak Clara untuk menemaniku di sisa hidup yang penuh teror ini.

Hingga suatu saat, di minggu yang entah ke berapa. Kami benar-benar jadi incaran dengan ganas. Ada yang mengatakan kami akan dibakar hidup-hidup. Ada juga yang mengatakan kami akan jadi sate bakar, dan tulang-tulangnya akan jadi sup. Benar-benar gila.

Akhirnya, di minggu sisa akhir hidup kami. Waktu yang kami punya habis dengan canda-tawa, kembang api dan makan eskrim di alun-alun. Sampai pada malam harinya ketika kami sedang tidur terlelap suara samar-samar memasuki rumah kami.

Baca juga:

Dan tepat saat itu seisi rumah meledak hingga berkeping-keping tak tersisa sama sekali. Semua bangunan rumah runtuh, keping demi keping. Malam itu rumah kami dibom. Disusul mataku pun perlahan samar dan tak bisa melihat lagi, badanku seperti lebur menjadi gumpalan gumpalan debu berterbangan. Dan aku merasa melayang terbang ke angkasa secara perlahan.

Ternyata aku baru sadar, kejadian itu tak pernah terjadi sama sekali. Sekarang aku sedang di rubanah tempat aku dipasung dengan rantai. Ternyata hanya ilusi yang merasuk ke dalam pikiranku lagi. Saat itu juga aku sadar, bahwa rubanah itu berada di bawah rumah sakit jiwa.

Dan aku sedang dalam pengawasan seorang psikolog. Karena divonis mengidap Obsesissive-Compulsive Disorder (OCD) dan telah terbukti  membunuh bapaknya sendiri dan seorang gadis cantik bernama Clara serta 7 teman kelasnya.

Ahmad Reza Wibowo
Latest posts by Ahmad Reza Wibowo (see all)