Antara Janji Kampanye dan Realitas Presiden Joko Widodo

Antara Janji Kampanye dan Realitas Presiden Joko Widodo
Foto: Liputan6

Mengapa janji kampanye Pak Jokowi ketika menjadi capres 2014 banyak yang dianggap tidak sinkron dengan apa yang beliau lakukan setelah jadi presiden; namun, di sisi lain, berbagai pembangunan yang luar biasa manfaatnya bisa dirasakan oleh segenap rakyat Indonesia?

Begini analoginya:

Indonesia ibarat sebuah rumah besar dengan halaman yang luas. Ketika ada lowongan menjadi calon manajer rumah tersebut, Pak Jokowi tentu saja “hanya” mampu melihat dari luaran saja. Sehingga yang dijanjikan beliau pastinya sebatas membangun taman yang indah, lengkap dengan kolam dan air mancur, akan menambal tembok yang retak, dan mengecat ulang rumah supaya lebih indah. Membangun gazebo, menambah balkon, atau semisal itu tentunya.

Ketika beliau diberi amanah sebagai manajer beneran, beliau menemukan situasi yang berbeda antara bagian luar dan dalam. Dan, sebagai manajer yang baik, beliau akan “melupakan” janji memperbaiki luar rumah. Beliau tentu lebih memprioritaskan perbaikan di dalam rumah.

Karena itu, yang dilakukan beliau adalah mengganti genting yang bocor, memperbaiki kloset dan saluran air yang mampet, menjemur kasur, bantal, guling beserta perangkatnya, mengepel lantai, membersihkan furniture dari debu dan kotoran lalu menata semuanya di tempat yang strategis dan enak dipandang, serta merapikan dapur yang berantakan.

Apakah yang dilakukan Sang Manajer itu salah? Sama sekali tidak. Kalau aku sih lebih memilih manajer yang kerjanya seperti ini daripada dia kerjakan janji kampanyenya.

Dan, ketika akan ada perpanjangan waktu menjadi manajer, aku akan lebih senang jika Pak Jokowi tetap menjadi manajer. Bukan untuk memenuhi janji kampanye yang tidak dipenuhi ketika kampanye terdahulu. Sama sekali bukan.  Tetapi karena aku ingin rumahku menjadi aman, nyaman, dan semakin indah tertata. Barangkali masih ada banyak bagian yang belum ditangani di dalam rumah, biar dilanjutkan saja.

Adapun urusan luar rumah? Ah, biarkan saja dulu. Itu kerjaan the next manager. Setelah Sang Manajer kampiyun ini pensiun. Toh sudah terbukti rumah itu tetap kokoh berdiri siapa pun manajernya.

Aku sih siap saja ketika Sang Manajer dianggap pembohong, menggadaikan rumah, tidak sinkron janji kampanye dengan realitas, bahkan dicap sebagai manajer dungu sekalipun.

Pak Jokowi, cinta dan doa kami senantiasa bersamamu #2019TetapJokowi

Shuniyya Ruhama
Shuniyya Ruhama 14 Articles
Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri-Kendal