Antara Media Sosial dan Masalah Sosial

Antara Media Sosial dan Masalah Sosial
Ilustrasi: Ibmec

Kita lihat bagaimana masalah sosial yang muncul dalam media sosial—saya ingin menarik kembali ingatan para pembaca pada kasus Ahok yang berpidato di Kepulauan Seribu yang akhirnya memunculkan masalah sosial.

Kemajuan teknologi tidak bisa terelakkan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Teknologi memberikan manfaat, dalam hal ini, banyak potret kemajuan teknologi diiringi dengan kemajuan bangsa.

Sebagai contoh China, India, dan Amerika yang begitu maju dalam hal teknologi. Indonesia sebagai negara berkembang juga tidak kalah di mana inovasi teknologi kian berkembang walaupun belum mampu menyaingi negara-negara maju tersebut.

Dalam konsep persaingan teknologi, Indonesia bisa dikatakan lebih maju jika diukur dari segi pengguna “internet” saja. Penggunanya di Indonesia tergolong banyak karena setengah dari 250 juta penduduk menggunakan internet.

Hal itu ditunjukkan berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2016), pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta penduduk. Artinya, ada sekitar 52 persen penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Jika diklasifikasikan, sebagian besar pengguna internet adalah mahasiswa dengan persentase (89,7 persen), pelajar (69,8 persen), dan pekerja (58,4).

Sayangnya, angka di atas menunjukkan banyaknya pengguna internet dan penggunaan jasa internet tersebut lebih banyak menyasar pada penggunaan media sosial dan online shop.

Tren penggunaan internet di Indonesia mengerucut pada penggunaan media sosial dilihat dari pengguna Facebook 71,6 juta jiwa (54%), Instagram 19,9 juta jiwa (15%), Youtube 14,5 juta jiwa (11%), Google Plus 7,9 juta jiwa (6%), Twitter 7,2 juta jiwa (5,5%) dan Linked In 796 ribu jiwa (0,6%). Sehingga jangan heran jika kemudian banyak mahasiswa, pelajar, bahkan pekerja lebih banyak menghabiskan waktu bersama media sosial, bukan bersama social real situation.

Menyoal pada Pengguna Online Shop, di mana pengguna online shop sekitar 82,2 juta jiwa (APJII, 2016). Kita juga perlu melihat efek sosial (social effect) dari toko online yang sebenarnya sudah menggerus peradaban sosial.

Salah satu kemudahan yang ditawarkan online shop adalah kita tidak perlu lagi datang menghampiri toko untuk membeli barang tertentu. Cukup duduk manis di rumah, dan tinggal memencet barang apa yang ingin dibeli, kemudian barang itu akan datang ke rumah kita dengan sesegera mungkin. Itu kemudahannya dan fasilitas yang diberikan.

Namun, sadarkah kita bahwa itu adalah bentuk apatisme sosial dan individualistik? Kita sudah menggerus sendiri nilai interaksi sosial dengan mengurangi jatah interaksi di dunia nyata.

Masalah Sosial

Melihat fenomena sekarang ini, dominasi media terhadap penggriringan opini publik semakin kuat, begitu pula dengan media sosial.

Media sosial akhir-akhir ini bak media arus utama yang telah mereproduksi diri sebagai media arus utama yang memiliki fungsi pemberitaan yang kuat, di mana para netizen juga mengonsumsi berita yang bukan pada media arus utama.

Hal ini tentu mengundang kekhawatiran dari berbagai pihak seperti UNESCO yang baru-baru ini menyuarakan literasi media sosial. Presiden pun khawatir dan mendorong adanya literasi media sosial. Selain itu, organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama turun tangan melihat fenomena dominasi medsos sebagai arus utama pe-reproduksi berita hoax.

Yang menjadi kekhawatiran oleh UNESCO, Presiden RI, dan tokoh-tokoh NU bukanlah tentang keberadaan media sosial, namun pada personal pengguna media sosialyang cenderung mereproduksi berita hoaks yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Hal ini bisa memunculkan disintegrasi sosial maupun merusak kohesi sosial.

Kita lihat bagaimana masalah sosial yang muncul dalam media sosial—saya ingin menarik kembali ingatan para pembaca pada kasus Ahok yang berpidato di Kepulauan Seribu yang akhirnya memunculkan masalah sosial.

Awalnya, pidato itu diunggah oleh akun Youtube resmi Pemprov DKI. Kemudian viral di dunia maya melalui beberapa reposting yang telah diedit kemudian disebar lagi di Facebook.

Facebookers di Indonesia sangat banyak sehingga hal itu yang membuat postingan, seperti postingan Buni Yani tentang video Ahok di facebook itu mendapat respons yang beragam dari netizen hingga akhirnya kasus ini pun masuk ke ranah hukum.

Apa sudah selesai sampai di situ saja? Tentunya belum, masalah terus terjadi di mana ada aksi 411 dan 212 yang notabene membawa nama agama. Ini hal vital, di mana isu SARA telah dimainkan.

Hal ini tentu akan menjadi gejolak di mana Indonesia merupakan negara yang plural. Ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah, sehingga jika muncul isu SARA, ini tentu akan berdampak pada masalah sosial yang begitu besar.

Selain masalah di atas, ada juga masalah yang dimunculkan di media sosial berupa berita hoaks. Berita hoaks sangat berpotensi merusak integrasi sosial pluralis yang terbangun di Indonesia.

Bagaimana tidak, berita hoaks ini terkadang dijadikan rujukan oleh oknum yang belum melek literasi media sosial yang kadang berita itu dianggap benar. Celakanya, itu yang dijadikan rujukan utama dalam berbagai kesempatan dalam debat kusir.

Hal ini seperti yang dikhawatirkan oleh Baudrillard (1983). Di dalam realitas media, kepalsuan dipahami sebagai kebenaran. Rumor ditangkap sebagai informasi. Tanda diperlakukan sebagai realitas. Simularka diterima sabagai yang nyata. Sehingga ada jurang yang dalam antara citra media dengan realitas sosial.

Ada personal maupun kelompok yang bermain dalam media sosial. Hal ini seolah “artifisial” sesuatu yang dipoles agar menjadi benar.

Kepekaan

Terkadang kita tidak peka terhadap sesuatu yang “artifisial” sehingga kita melihat itu sebagai yang natural. Hal tersebut akan menjadi polemik di dunia nyata karena berita itu dipoles seolah benar dan nyata padahal itu hoaks. Maka, diperlukan kepekaan sosial yang harus kita kedepankan sebagai pribadi pengguna media sosial. Agar tidak tergerus berita yang “artifisial” yang pada akhirnya kita akan tersungkir di pinggir jalan raya peradaban.

Dalam hal kepekaan sosial untuk menanggulangi berita “artifisial” dan hoaks, kita harus mengedepankan pribadi berpikir kritis dan analitis melalui refeeling, rethinking, dan rechecking.

Refeeling harus kita maknai sebagai kepekaan perasaan. Kita merasa dan bertanya dalam hati apakah berita ini natural atau benar apa adanya, artificial atau dipoles sehingga seolah-olah benar atau bahkan totally hoax.

Langkah selanjutnya, rethinking. Kita harus berpikir kembali secara kritis terkait berita yang termuat dan disebar dalam medsos itu.

Dan yang terakhir adalah rechecking. Kita mengecek pada sumber-sumber arus berita utama yang kredibel yang tanpa artifisialitas. Jika hal ini sudah kita lakukan, maka kita akan menjadi agen yang tidak tergerus oleh media sosial yang melahirkan masalah sosial.

Untuk menyikapi persoalan berita hoaks dalam media sosial, kita sebenarnya berdiri pada dua posisi sikap. Seperti yang ungkapkan Jung (dalam Feist & feist, 2014), pribadi kita cenderung mengedepankan dua sikap, yaitu sikap introversi dan ekstraversi.

Sikap introversi dimaknai sebagai sikap yang cenderung subjektif. Sikap introversi ini cenderung berbahaya dalam lingkup real situation. Karena kemudian kita akan melihat sesuatu kebenaran (berita) berdasarkan subjektivitas kita. Akhirnya, ada pengklaiman “saya benar, kamu salah” padahal tidak semua yang kita anggap benar itu benar dan bisa juga sebaliknya.

Selanjutnya, ekstraversi dimaknai sebagai sikap objektif. Dalam melihat suatu fenomena cenderung objektif, tidak mengklaim suatu kebenaran. Sikap inilah yang harus kemudian kita adopsi agar dalam kehidupan bermasyarakat tetap rukun walaupun dalam bingkai pluralitas suku, agama, ras, etnik, dan bahasa.

*Arif Bulan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

___________________

Artikel Terkait: