Antara Onanimu dan Fotoku

Antara Onani dan Fotoku
Ilustrasi: 1.bp.blogspot.com

Nalar Warga – Saya sering berpikir dan merasa bahwa menjadi seorang perempuan yang hidup dalam budaya patriarki sangat tidak enak. Stigma negatif kerap menghampiri.

Belum lagi standar ganda yang tidak adil, sehingga menyebabkan perbedaan perlakuan antara lelaki dan perempuan. Diskriminasi tersebut tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.

Dulu, waktu saya masih terlibat dalam organisasi rohis (di luar kampus), ada anjuran untuk tidak memasang foto profil berupa foto selfie di dunia maya. Bahkan dianjurkan untuk tidak mem-post kartun yang berwujud manusia. Tujuannya jelas: mencegah lelaki tertarik pada diri kita dan mencegah pujian-pujian yang mengarah pada fisik.

Saya iyakan saja. Okelah, tidak masalah. Hitung-hitung mengajar diri sendiri untuk tidak show off atau narsis. Begitulah pikiran saya waktu itu.

Di luar anjuran organisasi yang saya ikuti, ada beberapa orang yang melakukan anjuran serupa, baik itu laki-laki atau perempuan. Bahkan, ada yang bilang dengan keras kalau perempuan yang suka selfie itu sama dengan menyediakan bahan coli untuk lelaki. Sungguh perempuan yang tidak mengerti harga dirinya.

Sampai suatu ketika saya berpikir, mengapa ya saya harus bertanggung jawab dengan ketertarikan lelaki terhadap diri saya seandainya saya memasang foto profil?

Jika ada yang berdalih, “Kalau kamu post foto asli, bisa saja kan cowok itu download fotomu, terus dibayangin pas onani. Kan kamu yang rugi.”

Oke, katakanlah saya tidak mem-post foto asli. Apa ada jaminan bahwa lelaki tidak pernah coli dengan membayangkan wajah saya? Tidak harus lewat foto kan untuk melakukannya?

Bisa saja wajah saya dilihat lama-lama oleh seorang lelaki yang saya temui di kampus, di taman, di tempat umum, dan dia mengimajinasikan hasil “observasinya” untuk onani. Siapa yang bisa melarang?

Terus, kalau bicara soal kerugian, kerugian jenis apa yang saya alami kalau foto saya jadi bahan onani? Toh pasang foto atau tidak, lelaki yang ngacengan, ya tetep aja suka ngaceng.

Dalam mindset patriarki, perempuan selalu jadi victim dan selalu disalahkan untuk segala tindakan pelecehan yang dialami, termasuk soal sepele kayak di atas.

Daripada melarang perempuan pasang foto selfie, hambok mending mendidik lelaki menghindari pikiran kotor. Dikit-dikit onani, dikit-dikit coli, dikit-dikit ngloco. Lihat jidat bening dikit aja, ngaceng. Katanya lelaki harus menundukkan pandangan?

Dan, harga diri perempuan juga jangan dilihat dari dia suka post foto atau tidak. Terlalu rendah standarnya. Sesekali gitu lho menilai perempuan dari cara pikirnya, keberaniannya, dan penolakannya terhadap budaya yang ratusan bahkan ribuan tahun menjajah kaumnya.

*Maulida Fadhila

___________________

Artikel Terkait:
Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet