Antara Religiositas dan Doyan Slot Judi

Antara Religiositas dan Doyan Slot Judi
©Pikiran Rakyat

Secara definisi, kita tahu bahwa religiositas adalah keberagamaan, yaitu suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada agama. Lebih dari itu, religius adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang komprehensif, yang menjadikan seseorang disebut sebagai orang beragama (being religious) dan bukan sekadar mengaku punya agama. Yang meliputi pengetahuan agama, keyakinan agama, pengalaman ritual agama, perilaku (moralitas agama), dan sikap sosial keagamaan.

Dalam Islam, religiositas dari garis besarnya tercermin dalam pengalaman aqidah, syariah, dan akhlak, atau dalam ungkapan lain: iman, Islam, dan ihsan. Jika semua unsur itu telah dimiliki seseorang, maka dia itulah insan beragama yang sesungguhnya. Allah Swt. berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9]:33).

Dalam perkembangan jiwa keagamaan, seseorang dalam kehidupan di pengaruhi oleh dua faktor yaitu, faktor intern yang berupa pengaruh dari dalam dan ekstern yang berupa pengaruh dari luar. Faktor intern misalnya, bahwa perkembangan agama pada masa anak-anak di tentukan oleh tingkat usia mereka. Perkembangan itu dipengaruhi oleh berbagai aspek kejiwaan termasuk agama, perkembangan berpikir. Dan, pada usia remaja, saat mereka menginjak kematangan seksual, pengaruh itupun menyertai perkembangan jiwa keagamaan mereka.

Berbeda dengan faktor ekstern. Dalam faktor ekstern, disamping yang lainnya, faktor keluarga adalah sebagai tolak ukur. Sebab, keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia, khususnya orang tua yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak. Karena itu, jika orang tuanya berkelakuan baik, maka cenderung anak juga akan berkelakuan baik. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua berkelakuan buruk, maka anak pun juga akan berkelakuan buruk.

Selain faktor keluarga, faktor lingkungan masyarakat, sekalipun tidak mengandung unsur tanggung jawab, melainkan hanya merupakan unsur pengaruh belaka, tetapi norma dan tata nilai yang terkadang lebih mengikat bahkan terkadang pengaruhnya lebih besar dalam perkembangan jiwa keagamaan, baik dalam bentuk positif maupun negatif.

Yang tak kalah menariknya, turut dalam faktor ekstern, adalah lingkungan Institusional. Tentu saja, lingkungan ini ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan, baik dalam institute formal maupun non formal seperti perkumpulan teman dan organisasi. Itu sebabnya, ketika seseorang tidak bisa mengontrol diri, salah pilih teman (hingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk), berproses di organisasi hanya separuh-separuh, maka hasilnya akan nihil.

Baca juga:

Dalam hal ini, seseorang akan mengalami kegalauan atau kegelisahan. Pada saat kondisi seperti inilah ia akan terpengaruh. Akibatnya, ia akan melakukan hal-hal yang menyimpang dari nilai-nilai keagamaan. Misalnya, seperti minuman-minuman keras, tak terkecuali akibat kegelisahannya, ia akan melakukan perjudian online seperti halnya slot (yang sekarang menjadi trend kehidupan kaula muda) untuk mencari kebahagiaan.

Dan, jika seseorang yang bermain mengalami kekalahan yang menyebabkan uangnya habis maka, orang tersebut akan menghalalkan berbagai cara agar mendapatkan uang untuk bermain lagi seperti mencuri, merampok, dan lainnya.

Kedoyanan permainan judi slot

Akhir-akhir ini, Indonesia selain marak pemberitan pemilu, pembunuhan, pencabulan, adalah maraknya pemberitaan judi online slot. Dan kita tahu, slot selain akan menjadikan seseorang lebih emosional dan stres karena karena kecanduan ketika seseorang diberi kemenangan, maka seseorang pasti ingin memainkannya terus menerus untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Namun, jika seseorang kalah, maka sudah pasti ia akan terus mengeluarkan uang untuk terus bermain, berharap uang yang hangus akan kembali dua kali lipat.

Kekalahannya pun kian beragam. Mulai dari miliaran rupiah hingga berhutang ratusan juta rupiah dari pinjol. Tak sedikit pula yang kehilangan akal sehat demi memenuhi kecanduannya bermain judi, mulai dari mendonorkan ginjalnya hingga menjual anaknya sendiri. Sama sekali ia tidak menyadari bahwa Slot tidak selalu dan selamanya memberikan keuntungan.

Ismail Fahmi melalui Drone Emprit-nya mengungkap bahwa Indonesia adalah negara yang penduduknya paling banyak memainkan judi slot dan gacor di internet dan gadget. Ia lewat akun Twitternya mengetwit bahwa “Negara mana pemain judi Slot dan Gacor nomor satu di dunia?” Tulisnya sembari membagikan data diagram negara penyumbang slot di dunia.

Parahnya, dalam diagram itu, sangat tampak jelas sekali nama Indonesia di urutan teratas. Dan jumlahnya mencapai 201.122 pengguna. Ini tentu saja jauh melampaui negara lainnya. Sementara itu, di urutan kedua ada nama Kamboja dengan angka 26.279. Kemudian Filipina sebesar 4. 207.

Demikian juga, dalam suatu kesempatan, Kepala Biro Humas PPATK Natsir Kongah, di acara diskusi Polemik Trijaya bertajuk Darurat Judi Online, ia mengatakan bahwa “Perputaran uang judi online ini, termasuk judi konservatif, terus meningkat dari tahun ke tahun. Kalau kita lihat tahun 2021 perputaran uangnya Rp. 57 triliun dan naik siginifikan pada tahun 2022 menjadi Rp. 81 triliun.” Terlebih, slot tak hanya di nikmati oleh kalangan muda, melainkan juga yang masih pelajar Sekolah Dasar (SD).

Masih tentang darurat slot. Melansir dari KOMPASTV, rupa-rupanya, Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi blak-blakan mengaku juga pernah mendapatkan SMS blast tawaran judi online. Dalam konferensi pers mengenai maraknya judi online di Indonesia, Budi mengatakan “Saya termasuk korban, hp saya suka ada SMS, “ayo daftar judi online”. Pernah nggak? Saya sering (dapat) udah gitu ada foto cewek. Itu kan promosinya main bola SMS, WA (WhatsApp).”

Halaman selanjutnya >>>
Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)