Antara UAS, Dancer, dan Hiburan

Antara UAS, Dancer, dan Hiburan
Ustaz Abdul Somad | Net

Hanya berselang sehari setelah kedatangan UAS (Ustaz Abdul Somad) oleh Pemda Pangkep, di dua tempat yang tidak terlalu berjauhan, aksi hiburan juga digelar oleh dua komunitas yang berbeda.

Tabligh Akbar dengan tema menyambut Muharam bla bla bla. Saya sempatkan diri melihat dan mendengar ceramah fenomenal UAS, ustaz sejuta viewers. Hanya sepenggal ceramah, kemudian berpulang lebih awal.

Ramai sekali. Dari berbagai penjuru Pangkep. Ada yang datang sendiri. Keluarga dan saya sendiri sempat janjian dengan “Komunitas Karaparapa”. Tapi karena terlalu ramai, kami tidak sempat kumpul.

Beberapa anak muda bahkan datang bersama ehem-nya. Duduk mesra di pinggiran trotoar jalan. Romantis dan mesra diiringi tausiah yang diselingi lawakan.

Fenomena UAS sama halnya dengan fenomena Uje (Jefri Al Buchori). Sebelumnya ustaz “Jamaaahhh oh jamaah”. Sebelumnya lagi Aa Gym. Sedangkan lewat toa, radio, dan kaset, KH Zainuddin MZ belum tertandingi.

Hajatan pemerintah dan komunitas pun setiap saatnya mendatangkan penghibur. Artis ibu kota, tokoh lawak, hingga hiburan seperti beberapa hari setelah kedatangan UAS, dancer.

Ramai juga. Dari berbagai penjuru berdatangan, sendiri atau bersama keluarga, dan juga tentu saja bersama ehem-nya.

Setelah UAS, dancer pun cukup diminati. Kenapa?

Hiburan manusia modern memang banyak rupa. Di masyarakat urban, yoga, kebatinan, tarekat, hingga aliran radikal pun sangat digemari. Demikian halnya konser-konser musik, gelar tawa panggung, diskotik, dan lain sebagainya. Semua pada spirit yang sama, tak lebih sebagai hiburan.

Kita teralienasi. Karl Marx pun pernah mengulas secara detail tentang alienasi atau keterasingan. Bagi dia, keterasingan disebabkan karena ekploitasi kapitalisme. Sedangkan pada kehidupan, terkhusus bidang keagamaan, pun terjadi eksploitasi kebenaran.

Agama dijadikan sebagai jalan eksploitasi kepentingan. Fantasi-fantasi ketuhanan pun dibuat hingga menjadi candu. Seolah tanpa UAS dan dancer kita bukanlah apa-apa. Diteguk berulang-ulang, tetap kita tak menemukan hakikat.

Efek dari itu, paling jauh, Anda tertawa atau menangis. Tapi apakah Anda sadar dan mau berpikir? Saya kira belum tentu, bahkan tidak mungkin.

Hidup ini holistik. Utuh dan tidak parsial. Mendekatinya pun semestinya demikian. Saya masih percaya bahwa di atas segalanya akal-budi harus menjadi kompas. Karena rasa dan keyakinan terlalu subjektif serta teks-teks suci sangat paradoks.

Terakhir, jalan terbaik mendidik masyarakat adalah keteladanan. Jika pemerintah, tentu dengan integritas; dan jika komunitas, adalah kepeloporan.

Sebagai penjual kopi, saya hanya menawarkan kekhusyukan gelak tawa. [sumber]

Muhammad Ramli Sirajuddin
Muhammad Ramli Sirajuddin 3 Articles
Penggiat Pluralisme, Nasionalisme & Spiritualisme di Human Illumination