Apa Kabar Kawan?

Apa Kabar Kawan?
Ilustrasi: YouTube

Mungkin kita perlu membuka atau membuat akun Instagram agar kita mampu memahami eksistensi wanita, dan pertanyaan yang sangat sederhana, ‘apa kabar kawan?’, ketimbang kita menyuarakan sesuatu yang tak pasti untuk kita.

Semenjak isu dua satu dua tahun kemarin, kita masih saja dihebohkan dengan pertanyaan “apakah agama itu politik?” Bahkan, di tahun politik ini, kita juga tak lupa dengan kenaikan Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat di sana.

Ini mengurai banyak masalah. Permasalahan utamanya, yang tak memilih DT (Donald Trump), sering sentimental terhadap hubungan pertemanan di akun media social yang mereka miliki. Ada yang bahkan men-delcon (delete contact) hubungan pertemanan mereka di Facebook, misalnya.

Ada juga yang masih sibuk dengan dunia perpolitikan. Apalagi yang lagi hot baru-baru ini. Itu mengenai pengahapusan MCA yang kepanjangannya Muslim Cyber Army.  Di dinding salah satu teman penulis tertulis, “Terima kasih kepada para sekuriti karena telah menangkap pelaku gadungan.”

Isi dalam postingan tersebut bukan berarti jelek, tapi mengandung arti yang penuh dengan sindiran. Hal yang aneh justru sewaktu penulis masih kuliah. Pertemanan dia dan penulis terbilang erat.

Dia seorang muslim yang baik walaupun dia lemah lembut dalam berdakwah. Entah setelah kuliah, kami berdua hanya bisa berkontakan lewat jejaring media sosial. Itu pun jika penulis tidak diabaikan.

Ada juga senior penulis yang sangat menyejukkan hati dalam melakukan praktik mengajar. Kita mungkin tak tahu seberapa sulitnya mengajar atau mentransfer ilmu yang kita miliki.

Ditambah lagi dengan banyaknya kasus penganiayaan guru, dia masih bisa setenang itu. Tentu saja senior penulis memotivasi penulis agar lebih peka dan semangat dalam mengajar dan juga menulis.

Sayangnya, senior penulis saat ini di dinding sosial medianya penuh dengan isu bahwa presiden kita itu PKI, ateis, materialis, dan sebagainya. Bukan hanya itu, kadang terdapat isi postingannya yang memperlihatkan kekerasan yang begitu vulgarnya.

Entah mengapa lagi, apa yang membuat dia berubah seperti itu. Dan sangat berlawanan semasa kuliah kami berdua dulu.

Di atas tersebut merupakan dua contoh orang yang sangat terpengaruh di tahun politik ini. Masih banyak yang belum terungkapkan di dalam tulisan ini mengingat kapasitas kita sebagai manusia biasa.

Dengan adanya kepanasan yang ada di media sosial, apa sih sebenarnya keuntungan dari hal tersebut?

Suara kita tersampaikan

Memang tak bisa diabaikan, di belahan dunia sana selain tempat yang kita tinggali ini, perang menghasilkan banyak korban. Yang kebanyakan korban itu beragama islam. Sampai-sampai penulis mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Suriah.

Penulis pun mendapati organisasi White Helmets. Jika kita mencari white helmets ini di youtube, kita akan melihat bahwa organisasi tersebut bekerja atas kemanusiaan. Mereka menolak memegang senjata karena itu tak menghasilkan apa pun kecuali pertikaian.

Namun, konon katanya organisasi ini bekerja untuk ISIS, atau bahkan CIA. Yang jelasnya kita tak tahu. Penulis merasakan perlu menggunakan kebebasan kita untuk mencari kebenaran ketimbang kebebasan kita digunakan hanya terpaku pada kepentingan politik semata yang tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.

Kepuasan tersendiri

Ketika kita menang beradu argumen dalam sebuah postingan sharingan di jejaring sosial yang kita miliki, terdapat sebuah rasa kepuasan tersendiri.

Kepuasan tersebut seakan-akan mengangkat kita pada sebuah kebenaran. Dan sayangnya kepuasan itu terkadang mengabaikan pendapat lain.

Pihak kita yang paling benar dan menang

Selain suara kita sampai dan juga, terdapat kepuasan tersendiri, kemenangan pasti ada di tangan kita yang selalu membela. Bukan persoalan siapa yang paling benar, tapi siapa yang memenangi kontes adu debat dalam sebuah postingan.

Pada akhirnya, postingan tersebut menjadi viral. Ada yang bahkan setelah membalas sebuah postingan (saking tak ingin dikritik), dia menjadi diam setelahnya. Dia hanya melihat. Inilah biasanya tedapat di media sosial saat ini.

Fenomena ini tak bisa diabaikan. Akan selalu ada yang kalah, dan sebaliknya, yang menang. Entah di belakang itu ada kepentingan apa, entah itu berasal dari partai politik yang seagama menang atau yang lainnya.

Kita tak tahu selama kebebasan kita hanya digunakan untuk kepentingan politik ketimbang mencari tahu terlebih dulu sumber dan kebenarannya.

Setelah melihat poin-poin penulis yang subjektif mengenai keuntungan “berpolitis” di media sosial, lantas apa hubungannya dengan judul tulisan ini di atas, “apa kabar kawan”?

Apa kabar kawan? tentunya sebuah pertanyaan yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan politik apa pun itu. Akan tetapi, semenjak isu penistaan agama, pertanyaan ini sama sekali tidak berbobot.

Tidak berbobot karena tidak mengandung kepentingan politik. Melainkan pertanyaan sederhana yang menanyakan kabar seorang kawan atau teman yang kita miliki.

Mungkin saat ini banyak teman-teman dari kita tidak seperti dulu lagi. Kita lupa bahwa apa yang diposting di Facebook, misalnya, itu merupakan kepentingan kita sendiri atau kepentingan kelompok tertentu.

Apa kabar kawan? merupakan pertanyaan untuk membenahi diri ketimbang memusingkan kelompok mana yang menang atau tidak. Padahal belum tentu ketika kita menyuarakan sesuatu itu membawa keuntungan kita secara pribadi, atau bahkan hanya sebagian orang tertentu saja yang diuntungkan.

Ini tentunya membuang-buang waktu dan tenaga kita. Kita menyuarakan sesuatu entah apa pun keuntungan yang dihasilkannya jika itu hanya kepentingan kelompok semata, maka wajib pertanyakan hal ini di dalam hati kita, “Apa kabar kawan?”

Mungkin kita harus belajar dari wanita. Dalam kajian feminisme, feminisme mengkritik kaum pria karena hanya menegakkan hak tanpa ada tanggung jawab sedikit pun. Jika seperti itu, penindas punya hak untuk menindas kita, sedangkan kita yang tertindas punya hak untuk ditindas.

Berbeda jika kita memiliki sebuah tanggung jawab. Banyak akun Facebook yang mungkin hanya hantu belaka, tak memiliki tanggung jawab sedikit pun. Akun tersebut tak mesti lagi dipertanyakan keberaniannya. Tentu saja dia berani karena tidak ada tanggung jawab sedikit pun.

Mungkin kita perlu membuka atau membuat akun Instagram agar kita mampu memahami eksistensi wanita, dan pertanyaan yang sangat sederhana, ‘apa kabar kawan?’, ketimbang kita menyuarakan sesuatu yang tak pasti untuk kita.

Instagram dipenuhi dengan eksistensi wanita. Mereka jarang memperlihatkan kepentingan kaum tertentu. Jadi, apa kabar kawan?

___________________

Artikel Terkait: