Apa Kabar Keuskupan Timika?

Apa Kabar Keuskupan Timika?
©Dok. Pribadi

Potret “Sede Vacante” Keuskupan Timika dalam Terang KHK

Mengawali tulisan ini, ada dua momentum bersejarah dan penting yang hendak penulis angkat sebagai pendahuluan.

Pertama, pada Kegiatan Musyawarah Pastoral Mee atau Muspas Mee ke VII diselenggarakan di Paroki St. Fransiskus Asisi Epouto, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih Satu Minggu, mulai dari tanggal 13 – 19 Februari 2023, dengan tema umum “inkulturasi” dan Sub Tema : “Aku Merayakan Liturgi Kehidupan”, dalam Bahasa Mee : “Aniya Uwitou Kouko Ugatamee Maida Tadu Atii ”.

Pada closing atau penutupan Muspasmee ke-VII itu terlihat beberapa Pemuda dari Gerakan Awam Katolik Papua Keuskupan Timika melakukan aksi demonstrasi damai dengan membawa pamflet atau baliho yang bertuliskan KAMI MINTA USKUP OAP DI KEUSKUPAN TIMIKA. Di tengah para pemuda itu tampil pula seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Laurenzus Kadepa, dari Fraksi NNasdem

Kedua, sebelumnya pada acara Syukuran Uskup Baru di Keuskupan Jayapura yang diselenggarakan di Lapangan Stadion Mandala, pada Kamis, 02 Februari 2023, tampil seorang Umat Katolik asli Papua dari Keuskupan Timika di hadapan Tritunggal Mahakudus, Leluhur, Alam dan  ribuan umat Katolik dan masyarakat Papua ia mempersembahkan sebuah Noken Anggrek Besar bertuliskan Nama lengkap Uskup Baru yang sangat jarang dan langka dibuat dan ditemukan dewasa ini dikalangan pengrajin Noken Anggrek di Papua kepada Uskup Baru, yang Mulia Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You Pr dengan menyampaikan dua doa dan harapan dalam bahasa daerah Suku Mee dialek Mapia, yakni semoga dalam waktu dekat Uskup Baru mampu memperjuangkan agar di Keuskupan Timika segara orbit dan hadir Uskup Baru dan Ia harus putra asli Papua, berikutnya agar Uskup Baru berkenan hadir di kampung halamannya jika berkesempatan menjunjung wilayah Keuskupan Timika, khususnya wilayah Meepagoo.

Hemat penulis dua momentum bersejarah di atas ini hendak menegaskan bahwa umat Katolik Papua di Papua, khususnya di Keuskupan Timika sangat merindukan sosok Gembala Umat, sebab sudah kurang lebih lima (5) tahun Sejak Kepergian Uskup John umat Katolik di Keuskupan Timika hidup ibarat “Domba Tanpa Gembala”.

Kerinduan dan harapan akan adanya Uskup Baru di Keuskupan Timika ini semakin mekar dan terbesit menggelembung pascaa ditahbiskannya Pastor Yanuarius Teofilus Matopai You Pr sebagai Uskup Keuskupan Jayapura pada 9 Februari 2023 oleh Duta Besar (Dubes) Vatikan untuk Indonesia Mgr Nunsius Piero Pioppo di Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Jayapura, maka semakin tumbuh harapan dalam hati bangsa Papua, terutama umat Katolik di Keuskupan Timika akan hadirnya Gembala Baru di Keuskupannya yang sudah mengalami situasi Sede Vacante (lowong tahta) pasca kepergian mediang Mgr. John Philip Saklil pada Sabtu, 03 Agustus 2019 silam. Sudah Lima Tahun umat Katolik Keuskupan Timika hidup bak “Domba tanpa Gembala”.

Yang berstatus Sede Vacante beberapa tahun belakangan ini di Lima Keuskupan Regio Papua, antara lain Keuskupan Timika, Keuskupan Agung Merauke, dan Keuskupan Jayapura jika kita takar dari segi kanonis, tepatnya pada Kanon Nomor 401 yang berbunyi “Uskup Diosesan yang sudah berusia genap tujuh puluh lima tahun, diminta untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatannya”. Selain itu, ada pula Kanon Nomor 501 yang berbunyi; “Para Anggota dewan presbiteral hendaknya ditunjuk untuk jangka waktu yang ditetapkan dalam statuta sedemikian sehingga seluruh dewan atau sebagian diperbaharui dalam jangka waktu lima tahun”.

Berdasarkan dua Kanon tersebut jika kita pakai untuk melihat dan merefleksikan situasi dan kondisi Sede Vacante di beberapa Keuskupan Papua itu maka tidak semua masuk dalam kategorinya.

Baca juga:

Pada tulisan kali ini penulis hendak menyikapi fenomena Sede Vacante di Keuskupan Timika dalam perspektif Kitab Hukum Gereja Katolik, tepat dalam Kanon. 401 dan Kanon. 501 yang berbicara banyak seputar treatmentreatment kanonis atas situasi dan kondisi Keuskupan yang mengalami situasi Sede Vacante.

Penulis juga tidak bermaksud mempolitisasi atau memperkeruh keadaan dan situasi Sede Vacante ke ruang publik. Inti sari penulisan ini hanya demi memberikan wahana edukasi dan katekese kepada umat Katolik Papua, Khususnya di Keuskupan Timika yang hingga hari ini masih dihinggapi dan dihantui rasa penasaran penuh pertanyaan terkait situasi dan kondisi Sede Vacante Keuskupan Timika yang luput dari kacamata mereka sebagai kaum awam yang tidak banyak bergumul dan bergulat dengan Kitab Hukum Kanonik. Jadi, tulisan ini hanya sebatas wahana katekese bersama demi pemahaman dan kebaikan bersama.

Apa Itu Sede Vacante?

Kurang lebih terkait Sede Vacante ini dapat kita jumpai dalam beberapa Kanon;

Pertama, Kan. 416: “Takhta Uskup lowong dengan kematian Uskup diosesan, pengunduran diri yang diterima oleh Paus, pemindahan dan pemecatan yang diberitahukan kepada Uskup itu”.

Kedua, Kan. 419: “Bila takhta lowong, kepemimpinan keuskupan sampai adanya Administrator beralih kepada Uskup auksilier dan bila ada beberapa Uskup auksilier, kepada yang paling lama pengangkatannya; tetapi bila tak ada Uskup auksilier, kepada kolegium konsultor, kecuali ditentukan lain oleh Takhta Suci. Yang mengambil alih kepemimpinan keuskupan dengan cara itu, hendaknya selekas mungkin memanggil kolegium yang berwenang untuk mengangkat Administrator diosesan”.

Ketiga, Kan. 421, § 1: “Dalam waktu delapan hari setelah diterimanya berita tentang lowongnya Takhta Uskup, Administrator diosesan, yakni yang memimpin keuskupan untuk sementara waktu, harus dipilih oleh kolegium konsultor, dengan mengindahkan ketentuan”.

Keempat, Kan. 502, § 3; “Konferensi Para Uskup dapat menetapkan agar tugas-tugas kolegium konsultor diserahkan kepada kapitel katedral”.

“Jika dalam waktu yang ditetapkan itu Administrator diosesan karena alasan apapun belum diplih secara legitim, pengangkatannya beralih kepada Uskup metropolit; dan jika Gereja metropolit lowong juga, pengangkatannya beralih kepada Uskup sufragan yang tertua pengangkatannya”.

Halaman selanjutnya >>>
Siorus Degei