Apa yang Kita Peroleh setelah Membaca Pengantar Ekonomi Marxisme?

Apa yang Kita Peroleh setelah Membaca Pengantar Ekonomi Marxisme?
©Feelsafat

Apa yang Kita Peroleh setelah Membaca Pengantar Ekonomi Marxisme?

An Introduction to Marxist Economic Theory yang ditulis oleh Ernest Mandel dan terbit pada 2002 merupakan sebuah buku yang cukup menarik untuk memberikan kita suatu pandangan yang cukup “clear” tentang sistem ekonomi marxisme. Meski bukan suatu buku yang begitu menyeluruh, kita perlu menyadari bahwa di balik kelengkapan buku tersebut, masih terdapat beberapa kekurangan dalam analisisnya.

Jika kita membuka daftar isi dari buku tersebut, kita dapat menemukan 3 (tiga) bagian atau 3 (tiga) bab terpisah: The Theory of Value and Surplus Value, Capital and Capitalism, dan Neo-Capitalism. Terlihat cukup menarik karena Mandel berhasil memberikan pembahasan yang cukup tersistematis untuk mendalami pemahaman tentang ekonomi marxisme.

Jika kita bandingkan dengan teori-teori ekonomi lainnya, misalnya kapitalisme, buku yang ditulis oleh Mandel bertendensi pada kritik terhadap kapitalisme—yang sudah tentu merupakan ciri khas dari marxisme itu sendiri—dan beberapa bagian, misalnya teori tentang Social Surplus Labour hingga perencanaan ekonomi yang menjadi masalah dalam masyarakat kita.

Untuk mengetahui tentang buku tersebut, terlebih dahulu kita hendak memberikan penjelasan tentang penulisnya, yaitu Ernst Mandel. Ia merupakan seorang ekonom marxis yang terkenal selama periode abad ke-20. Dua karya terkenalnya adalah Marxist Economy Theory (1962) dan Late Capitalism (1972) yang kemudian mengantarkannya menuju panggung perdebatan ekonomi.

Ia lahir di Jerman pada 1923 dan meninggal di Belgia pada 1995—empat tahun pasca kejatuhan Uni-Soviet—ia merupakan bagian dari gerakan Trotskyst internasional yang membuat dirinya harus pindah ke Belgia karena dirinya ditugaskan di sana, dua orang sahabatnya yang juga tergabung dalam organisasi yang sama, yaitu Abraham Leon dan Martin Monath.

Kritik terhadap Teori Ekonomi Kapitalisme

Melalui kondisi yang lebih baru, yang lebih mendekati keadaan aktual saat ini, Mandel berusaha untuk memberikan “penyegaran” tanpa mengubah substansi dari ekonomi marxisme dalam buku Das Kapital yang ditulis oleh Karl Marx. Perkembangan kapitalisme juga dianalisis oleh Mandel karena pada saat itu kapitalisme berhasil berkembang dengan pesat dan kontras dengan aktivitas industri atau produksi primitif.

Sebelum kita lebih jauh memahami konsep ekonomi marxisme, satu hal yang harus kita perhatikan dan menyamakan pemikiran kita, bahwa pada dasarnya kapitalisme memiliki kelemahan, memiliki masa kritis tertentu—merujuk pada argumen Richard Wolff bahwa setiap 47 tahun, kapitalisme akan menghadapi krisis dan kejatuhannya yang kemudian akan menyebabkan pelemahan pertumbuhan ekonomi hingga menjadi krisis di negara-negara kapitalis.

Late Capitalism memberikan kita suatu analisa yang komprehensif tentang ciri-ciri kapitalisme global yang ada hingga saat ini—dari keadaan ekonomi pasca-peperangan hingga hari ini—beberapa hal ini mendorong stagnasi ekonomi jangka panjang, beberapa ledakan spekulatif di dalam ekonomi, hingga konsumerisme yang tidak masuk akal yang mampu menyebabkan kerusakan lingkungan.

Baca juga:

Kita tidak akan membahas secara menyeluruh tentang teori yang tersaji di dalam buku An Introduction to Marxist Economy Theory, tetapi kita akan berusaha untuk mengambil beberapa bagian yang cukup fundamental dalam ekonomi marxisme, misalnya Social Surplus Product, dan Commodity, Use Value and Exchange Value.

Social Surplus Product di mana setiap peningkatan kecil dari produktivitas kerja manusia melampaui titik terendah dari kerja manusia atau produksi yang dilakukan, maka hal ini akan menciptakan suprlus kecil yang kemudian menimbulkan surplus produk—kondisi tertentu di mana setiap satu orang tenaga menghasilkan atau memproduksi komoditas yang hanya cukup untuk dirinya sendiri atau untuk menjamin kehidupan berdasarkan kebutuhan dasarnya, maka pembagian sosial tidak terjadi dan kesenjangan atau perbedaan sosial tidak mungkin ada—di mana setiap kerja manusia mampu menghasilkan lebih dari yang dibutuhkannya, maka akumulasi dari keseluruhan suatu kelompok tidak lagi berdasarkan dengan kerja yang dibutuhkannya, dan kelebihan dari hasil kerja tersebut digunakan sebagai sarana pembebasan bagi sebagian orang lainnya dari kewajiban kerja.

Apa yang dilakukan oleh para produsen tersebut kemudian dibagi menjadi dua, sebagian kerja yang dilakukan digunakan untuk konsumsi pribadi, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, dan aktivitas ini kemudian disebut sebagai kerja perlu; bagian lainnya digunakan untuk mempertahankan posisi para penguasa dan kita menyebutnya sebagai kerja lebih atau surplus kerja.

Hal ini terjadi, dan diilustrasikan oleh Mandel melalui hari kerja, dalam satu minggu setiap orang kerja selama tujuh hari, kerja satu hari yang dilakukan pada hari minggu merupakan kerja perlu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, dan kerja pada hari-hari berikutnya (senin, selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu) merupakan kerja surplus yang kemudian semua produknya menjadi miliki para majikan yang akan digunakan sebagai sarana pengayaan diri majikan dan kepentingan perut para majikan—hal ini merupakan salah satu contoh yang cukup primitif, namun kondisi ini masih dapat kita temukan saat ini. Sehingga apa yang kita selanjutnya sebut sebagai Social Surplus Product merupakan kelebihan dari produksi manusia melebihi kebutuhan yang dibutuhkan oleh dirinya. Dan, tentu ini menjadi hal yang dikritik dalam kapitalisme.

Commodity, Use Value and Exchange Value—dalam hal ini kita akan menemukan beberapa definisi yang kemudian akan mempermudah kita untuk memahami konsep-konsep ekonomi marxisme di kemudian hari. Apa yang diciptakan oleh manusia pada dasarnya hampir selalu memiliki utilitas, di mana dapat dimanfaatkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam hal ini kita akan mengenal konsep nilai guna yang kemudian membuat manusia mendapatkan manfaat dari suatu komoditas.

Mandel membicarakan nilai guna dalam dua pengertian yang berbeda. Pertama, nilai guna suatu komoditas yang diperjual-belikan. Kedua, nilai guna yang diciptakan oleh suatu masyarakat yang kemudian akan dikonsumsi lebih lanjut oleh produsen atau kelas penguasa yang ada. Komoditas tidak hanya mengandung nilai guna, tetapi juga mengandung nilai tukar. Nilai ini dapat digunakan untuk melakukan pertukaran di pasar, untuk diperjual-belikan dan tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung oleh produsen (pekerja) atau kelas penguasa secara langusng. Produk dalam jumlah besar yang telah dibuat dengan tujuan untuk dijual tidak dapat lagi kita atribusikan sebagai produksi nilai guna yang sederhana, selanjutnya ia kemudian kita kenal sebagai produksi komoditas.

Dengan demikian kita dapat menilai bahwa suatu komoditas merupakan produk yang dengan “dengaja” diciptakan untuk mengisi kekosongan atau menumpuk komoditas di pasar yang tentu berkontradiksi dengan tujuan dari produk yang diciptakan untuk direct consumption.

Yang tidak dapat kita hindari bahwa komoditas harus memiliki kedua nilai yang telah kita sebutkan di awal: nilai guna dan nilai tukar. Tetapi, selanjutnya kita dapat menemui suatu kebingungan, maka dari itu kita harus memperhatikan perbedaan yang akan coba dijelaskan, bahwa setiap komoditas harus memiliki nilai guna karena tanpanya komoditas tersebut menjadi tidak berguna dan tidak ada satu orang pun yang mau membelinya, sehingga ia tidak memiliki nilai tukar karena ia tidak memiliki nilai guna, dan di satu sisi perlu ditekankan bahwa setiap produk yang memiliki nilai guna terkadang tidak selalu memiliki nilai tukar, mengapa demikian? Karena nilai tukar dapat ada jika dan hanya jika masyarakat menginginkan suatu pertukaran di mana aktivitas ini dianggap sebagai hal yang umum.

Halaman selanjutnya >>>
Angga Pratama