Apakah Kita Rasis?

Apakah Kita Rasis?
©Merdeka

Nalar Warga – Apakah kita semua rasis atau sarais, primordialis? Mengapa yang menuntut dan vocal untuk Papua Merdeka mereka yang bernama Vero yang nonmuslim? Kenapa Novri diam saja, atau tak bersuara seperti Vero? Karena Novri muslim? Sudah begitu kacaukah kita?

Orang Aceh, Papua menuntut merdeka, tidak mau berdampingan dengan etnik, ras, dan penganut agama lain dalam sebuah konsep negara-bangsa, Indonesia? Apakah Indonesia atau Aceh atau Papua yang primordialis atau sarais?

Indonesia saya kira tidak sarais kecuali negeri ini diidentikkan dengan Islam atau Jawa misalnya. Atau Indonesia adalah ide untuk menjajah? Siapa menjajah siapa? Jawa menjajah satu-satu (bukan gabungan nonjawa) dari semua etnik yang ada? Atau apakah Indonesia adalah islam yang menjajah nonmuslim?

Mengapa orang Aceh atau Papua merasa dijajah Jawa? Mengapa Sunda tidak merasa demikian, atau juga sama merasa demikian?

Kalau sama-sama merasa demikian, berarti semua kita ingin sendiri-sendiri dengan identitas sosial homogen sebagai dasar bagi sebuah negara bangsa?

Sepanjang Indonesia itu makin identik dengan Islam, dengan Jawa, maka Indonesia makin primordialis, dan tantangan untuk separatis dari nonislam dan nonjawa makin tinggi. Karena itu, Indonesia tidak boleh identik dengan Islam atau Jawa.

Lalu dengan apa?

Menurut saya, Indonesia harus identik dengan manusia dan kemanusiaan. Bagi Bung Karno cs, Indonesia identik dengan Sumpah Pemuda dan Pancasila. Tapi menurut saya, masih ada diskriminasi di situ.

Bagi saya, Indonesia ya harus identik dengan manusia dan kemanusiaan.

Negara dibutuhkan karena ancaman anarki yang bisa menghancurkan manusia dan kemanusiaan itu. Yang dibutuhkan, negara yang otonom, tegak dengan memperlakukan semua manusia sama di hadapannya.

*Saiful Mujani