Arief Budiman; Pembangunan Demokrasi Berkemanusiaan dan Berkeadilan

Arief Budiman; Pembangunan Demokrasi Berkemanusiaan dan Berkeadilan
©Facebook/Hairus Salim

Refleksi menghormati (alm.) Prof. Dr. Arief Budiman

Ketika usia SMA, saya mulai biasa membaca sejumlah majalah, koran, buku-buku pengetahuan umum dan relatif sedikit bacaan “pergerakan”. Tentu membaca juga buku standar mata pelajaran sekolah sebagai bacaan wajib pendidikan formal.

Tradisi membaca ini turun dari kebiasaan orang tua (ayah) saya yang banyak menyimpan, mengoleksi, dan terbiasa membaca buku dan media cetak. Materi dan sasaran bacaan, terutama buku pengetahuan umum dan pergerakan. Perihal ini mungkin karena berkaitan dengan latar belakang orang tua saya yang pernah menjadi pimpinan Gerakan Pemuda Marhaen, pimpinan Persatuan Tani Nasional, pimpinan Lembaga Kebudayaan Nasional tahun 1950-an, dan menjadi salah seorang Pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1960-an di daerah saat itu.

Selama proses membaca dan dalam beberapa bacaan, muncul nama Arief Budiman, sehingga saya mulai mengenali, mengetahui. Dan juga mendengar dari berbagai pihak mengenai sosok Arief Budiman. Sejak itu, saya sepertinya sudah “berkenalan” dengannya padahal belum berkenalan benaran.

Terminologi berkenalan dalam konteks ini menjadi penting. Arief Budiman berkategori figur yang relatif paripurna dengan kekuatan kapasitas dan keragaman atribusi yang dimiliki di antara akademisi lain. Ia adalah akademisi, intelektual, cendekiawan, budayawan, sastrawan, filsuf, pemikir, penulis, demonstran, pejuang, dan aktivis sepanjang hayat.

Kami baru bertemu langsung sembari berdiskusi ketika saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta pertengahan 1980-an. Arief Budiman sudah menetap beberapa tahun sebelumnya di Salatiga, Jawa Tengah. Menjadi Dosen Tetap di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang merupakan sebuah Perguruan Tinggi (Universitas) terkenal, ternama, kredibel, dan berkualitas, yang turut dibesarkannya.

Sosok Arief Budiman berpembawaan sederhana, bersahaja, humanis, egaliter, familiar, lugas, kritis objektif-jernih-terukur dan solutif, “tajam menggigit”, juga arif dan budiman sebagaimana nama yang disandang. Perihal ini merupakan sifat luhur mulia dan kepribadian kuat teguh yang melekat di dalam keseluruhan dinamika pergerakan dan dialektika perjuangannya. Saya merasakan betul sifat dan kepribadian kemanusiaan yang dibumikan dan watak keadaban yang dipraksiskannya.

Ada sedikit momen evaluatif dan kesempatan reflektif yang saya saksikan dan alami berkaitan dengan Arief Budiman. Tentu masih amat banyak lagi berbagai kalangan, para aktivis, dan senior-sesepuh lain yang pasti lebih sering dan lebih banyak lagi mengalami momen pergerakan dan perjuangan bersamanya.

Demikian pula sahabat-sahabat dan handai tolan/sanak famili Arief Budiman. Suatu ketika, di akhir 1980-an atau di awal 1990-an, diselenggarakan sebuah Seminar Nasional di Yogyakarta. Seminar berlangsung atas kerja sama informal Senat Mahasiswa sejumlah kampus, yang diselenggarakan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN)—sekarang Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Ada juga aktivis dan jurnalis pers mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Majalah Arena (UIN Sunan Kalijaga). Pembicara Utama adalah Arief Budiman. Sebelum dan setelah seminar berlangsung, Arief Budiman dan saya berdiskusi dengan hangat dan dinamis yang berintikan pada penguatan kerakyatan dan kebangsaan menuju perubahan politik.

Arief Budiman mengajak dan mengundang saya datang ke Salatiga melanjutkan diskusi secara khusus karena belum selesai diskusi kami berdua ketika di kampus UIN Sunan Kalijaga tersebut. Seminar Nasional tersebut turut didukung dan didorong oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY).

Organ FKMY adalah satu-satunya elemen gabungan kalangan aktivis mahasiswa dari berbagai kampus Perguruan Tinggi di Yogyakarta di era 1980-an sampai di awal era 1990-an. FKMY senantiasa dan terus-menerus melakukan aksi pendampingan dan pembelaan rakyat dan yang menjadi korban massal dan struktural. Itu sebagai akibat dari kebijakan represif dan perlakuan diskriminatif dari sistem dan struktur kekuasaan rezim ketika itu dengan topangan bangunan politik otoritarian Orde Baru.

Saya saat itu, selain sebagai salah seorang Ketua Senat Mahasiswa, juga sebagai salah seorang Ketua Presidium FKMY. Sehingga saya terlibat dan hadir dalam penyelenggaraan Seminar Nasional tersebut.

Ketua-Ketua Presidium FKMY saat itu, selain saya yang bergantian dengan Heroe (Nongko) Waskito, juga adalah: Johnsony Tobing (Pencipta Lagu “Darah Juang”); Brotoseno; Burhanudin bergantian dengan Ngatawi Al-Zastrow; Hendra Budiman bergantian dengan (Alm) M. Yamin; Aam Sapulete; Sugianto bergantian dengan Yudi.

Kepemimpinan dan keanggotaan ini merupakan representasi strategis dari beberapa kampus utama yang merupakan basis pergerakan dan perjuangan aktivis mahasiswa saat itu. Ada dari kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), IAIN/UIN Sunan Kalijaga, Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Janabadra (UJB), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan beberapa kampus lain lagi.

Organ FKMY, selain membangun aliansi taktis dan strategis dengan sejumlah organ pergerakan dan perjuangan mahasiswa di beberapa kota/daerah di Jawa dan di Indonesia pada umumnya, juga memiliki relasi emosional kuat secara mandiri dan independen dengan Arief Budiman. Sejumlah simpul pergerakan dan perjuangan lainnya seide, segagasan, senapas, dan segerakan.

Arief Budiman, dalam sebuah kesempatan lain, pernah diundang dan bersedia datang menghadiri Sarasehan Kebangsaan sebagai salah seorang Pembicara. Sarasehan tersebut diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Kelompok Cipayung tingkat nasional (GMNI, HMI, GMKI, PMII, PMKRI) di awal pertengahan 1990-an.

Sejumlah Pembicara lain turut hadir, selain Arief Budiman. Ada beberapa fungsionaris penanggung jawab dan pengarah penyelenggara gabungan, selain saya tentunya, yaitu: Ayi Vivananda, Ahmad Basarah, Arief Wibowo, Abidin Fikri, Taufik Hidayat, Anas Urbaningrum, Viva Yoga Mauladi, Saan Mustafa, Immanuel Blegur, Audy WMR Wuisang, Daniel Yusmik Pancastaki FoEkh, Febry Calvin Tetelepta, Abdul Muhaimin Iskandar, Refra, Syaiful Bahri Anshori, Khatibul Umam Wiranu, Antonius Doni, Riza Primahendra, dan lain-lain.

Ada satu sesi dalam sarasehan yang menghadirkan dua orang Pembicara, yakni Arief Budiman dan Enggartiasto Lukita (mantan Menteri Perdagangan RI). Saya menjadi moderator dan berperan memandu dan memimpin sesi kunci sarasehan tersebut.

Sesi kunci sarasehan pada dasarnya relatif representatif dan strategis. Selama sesi berlangsung, terbangun dialog kritis dan dinamis. Bahkan sampai pada tingkat perdebatan keras dan sengit di antara kedua Pembicara. Silang pendapat kreatif dan solutif yang tumbuh terbangun. Sempat menyita sebagian waktu alokasi untuk sesi berikut. Hingga Prof. Dr. Emil Salim bersama pembicara lain harus menunggu beberapa saat di ruangan lain.

Hakikat dan intisari dialog dan perdebatan terletak pada pemikiran strategis. Dan juga, pernyataan analitis kedua pembicara dalam menilai dan membedah “bangunan sistem dan struktur kekuasaan kepemimpinan nasional dan tatanan politik Orde Baru terhadap kondisi dan masa depan Indonesia”.

Perspektif pemikiran dan hakikat pernyataan kedua Pembicara berbeda dan amat diametral walau masih dalam bingkai Indonesia Raya. Pada akhirnya, sesi kunci tersebut selesai. Saya sebagai moderator mengakhiri dengan menyampaikan catatan umum dan kesimpulan sementara, khusus untuk sesi tersebut.

Meski kedua Pembicara terpaut usia minimal sepuluh (10) tahunan lebih, namun mereka sesungguhnya sama-sama aktivis. Arief Budiman adalah aktivis sejak kuliah sampai akhir hayat sebelum sakit serius. Enggartiasto Lukita juga adalah aktivis sejak kuliah. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa IKIP Negeri Bandung. Pernah menjadi salah seorang Pengurus Pusat GMKI dan aktivis Kelompok Cipayung pada zamannya.

Bedanya adalah Arief Budiman menjadi akademisi kawakan dan cendekiawan besar serta tetap menjadi aktivis. Enggartiasto Lukita menjadi pengusaha sukses dan politisi andal sampai menjadi Anggota DPR-RI dan Menteri. Saya sebelumnya sudah kenal lama dan kenal baik dengan kedua pembicara.

Forum Kelompok Cipayung akhirnya mengusulkan dan memutuskan mengundang kedua-duanya menjadi Pembicara selain para Pembicara lain. Saya turut mengusulkan Arief Budiman menjadi Pembicara. Sungguh ada banyak calon Pembicara dan Pembicara cadangan yang diusulkan dan dibicarakan di forum untuk dipilih, yang pada akhirnya diputuskan setelah dibahas secara kritis, analitis, evaluatif, dan dinamis.

Arief Budiman relatif diterima dan diletakkan sebagai Pembicara yang secara simbolik amat kuat melambangkan etos semangat pergerakan dan perjuangan serta melambangkan watak kuat perubahan Indonesia. Aura lingkungan dan suasana kebatinan tersebut memiliki relasi ideologis dengan mainstream Kelompok Cipayung, dan arus utama atau aspirasi umum Indonesia saat itu yang sedang menguat dan melembaga untuk melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh.

Saya, sebagai salah seorang Komite Pengarah Penyelenggara seminar/sarasehan, menghubungi Arief Budiman untuk menjadi Pembicara. Saya saat itu sudah keluar dari Yogyakarta dan tinggal di Jakarta sambil persiapan melanjutkan studi di Program Pascasarjana (S2) di Universitas Indonesia (UI).

Ketika sejak kuliah sampai beberapa bulan setelah wisuda, saya sering ke Salatiga karena berbagai kegiatan kemahasiswaan, tugas pergerakan, dan tanggung jawab perjuangan. Saya justru amat jarang bahkan tergolong sangat lama tidak ke Salatiga lagi setelah saya sudah menetap di Jakarta di pertengahan 1990-an.

Juga di awal 2000-an, meski saat itu saya menjadi Dewan Pengawas Yayasan Bina Darma di Salatiga, namun saya tidak atau kurang aktif sebagai Dewan Pengawas karena kesibukan ekstra. Yakni, sebagai Anggota DPR-RI dan salah seorang Pimpinan Fraksi PDI Perjuangan serta Anggota Panitia Khusus Pembahasan sejumlah RUU dan revisi UU serta Panitia Khusus Penyelidikan beberapa kasus. Juga ada kegiatan di alat kelengkapan DPR-RI dan kegiatan kunjungan ke lapangan.

Jauh sebelumnya, saya masih sering ke Salatiga di awal 1990-an. Itu ketika suatu masa terjadi dinamika pergolakan dan konflik pertarungan di internal Kampus Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Saya ke Salatiga dalam era suasana tersebut, tetapi dalam kegiatan dan urusan lain tentunya.

Saya tidak dalam posisi berpendapat dan menilai mengenai isu sentral dan konten pokok beserta keseluruhan permasalahan saat itu. Saya hanya mengikuti dan mengamati secara umum sebagai orang luar yang sedang menunaikan tugas dan tanggung jawab lain di Salatiga. Meski saya juga sering bertandang ke dalam kampus UKSW jika kebetulan diundang berdiskusi dalam urusan tematik lain. Saya juga tidak hanya sekali saja menyaksikan ketika ada aksi demonstrasi dari para pihak dan elemen berkaitan dengan dinamika dan konflik internal tersebut.

Meskipun saya sedikit mengetahui secara umum dan normatif, tetapi saya hanya mau mengatakan bahwa di antara elemen yang berkonflik dan bertarung maupun yang tidak terlibat tersebut adalah warga UKSW sendiri. Dan sebelumnya saya sudah kenal lama dan mengenal baik di antara sebagian para pihak tersebut.

Saya mengenal Arief Budiman dan sejumlah dosen di sekitar lingkungannya beserta elemen mahasiswa. Antara lain: Erry Sutrisno, Dermawan Zagoto, dan lain-lain. Saya juga mengenal John Titaley (mantan Rektor UKSW) dan sejumlah dosen di sekitar lingkungannya beserta elemen mahasiswa. Antara lain: Neil Rupidara (kini Rektor UKSW), Theo F. Litaay, Jhon Theodore Weohau, dan lain-lain.

Saya juga mengenal Rektor UKSW saat itu, John (JOI) Ihalauw dan Ketua Yayasan UKSW saat itu Prof. Dr. Ir. Haryono Semangun (Guru Besar UGM). Poin saya adalah bagaimana sebuah dan serangkaian pergumulan tersebut sungguh berdampak amat luas jauh dan berakibat sangat tajam dalam-terhadap perkembangan kampus UKSW selanjutnya. Walau sekarang sudah stabil kembali serta makin berkembang bagus dan maju pesat.

Menurut saya, Arief Budiman sungguh-sungguh merindukan dan menyayangi Kota Salatiga beserta Indonesia. Ia juga sangat merindukan dan menyayangi keberadaan dan “kebesaran” UKSW. Karena Arief Budiman sangat proaktif secara langsung dan terlibat maksimal secara serius “membangun dan membesarkan” UKSW bersama pihak lain tentunya.

Arief Budiman di kemudian waktu bermukim di Australia karena menjadi Dosen dan Guru Besar di Universitas Melbourne, Australia. Namun kadang kala berkunjung ke Indonesia, sampai akhirnya menetap di Salatiga setelah pulang dari Australia. Suatu ketika di awal 2000-an, saya diundang menjadi peserta sekaligus menjadi narasumber aktif bersama peserta lain yang mengikuti Forum Group Discussion (FGD).

Penyelenggara saat itu mengundang dalam kapasitas dan atribusi saya secara informal meski saya juga Anggota DPR-RI dan Anggota MPR-RI. Ada beberapa peserta aktif yang diundang dalam jumlah terbatas karena format FGD datang menghadiri dan menyampaikan pemikiran dan berdialog.

Peserta berasal dari berbagai lintas profesi, kultural, dan latar belakang. Ada pengamat, akademisi, cendekiawan, budayawan, politisi, jurnalis, aktivis, dan lain-lain. Salah seorang di antaranya adalah Arief Budiman. Jajaran Pemerintahan Nasional NKRI saat itu di bawah kepemimpinan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) dan Wakil Presiden RI Hj. Megawati Soekarnoputri. FGD menjadi sangat berkualitas dan bermakna.

Arief Budiman menyampaikan pemikiran segar jernih, bernas kontekstual, dan relevan visioner. Juga berbicara jelas dan tegas tentang masa transisi demokrasi dan penguatan Indonesia berbasis kualitas keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Arief Budiman selalu berpendirian kukuh, teguh, dan konsisten untuk bergerak dan berjuang dalam berbagai ruang lingkup dan skala kesempatan dengan keluasan dan kedalaman spektrum kebeningan hati nurani dan kejernihan akal budi. Keseluruhan ini ditumbuhkan dan diabdikan Arief Budiman melalui materi-materi tematik: Pembangunan Demokrasi Berkemanusiaan dan Berkeadilan.

Arief Budiman telah meninggalkan kita, tetapi ia juga amat banyak dan sangat beragam “meninggalkan” kebersahajaan, kebersamaan, kebajikan, keadaban, dan sejumlah nilai-nilai “keluhuran dan kebesaran” lainnya. Inilah warisan monumen kehidupan berkelas tak terbatas dan tak terhingga. Berguna bagi kebangkitan dan kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia bahkan kawasan regional dan internasional.

Kita kehilangan Arief Budiman, tetapi kita “tidak kehilangan” kebaikan, kesederhanaan, ketulusan, keteguhan, kejuangan, dan kehangatan yang telah dibumikan, dipraksiskan, dan akhirnya ditinggalkannya untuk kita. Kemudian untuk kita transformasi dan maknai dalam tugas panggilan dan tanggung jawab pengabdian kita, yang berfungsi penanda simbolik yang autentik dan konkret sebagai penghormatan kepada Arief Budiman, yang sungguh-sungguh arief dan budiman.

Selamat Jalan, Mas Arief Budiman (Soe Hok Djin). Rest in Peace.

Baca juga: