Asa Azyumardi Azra di Hari Kemerdekaan Indonesia

Asa Azyumardi Azra di Hari Kemerdekaan Indonesia
Prof. Azyumardi Azra

Nalar PolitikGuru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Azyumardi Azra, punya asa (harapan) tersendiri bagi keberlanjutan negara-bangsa Republik Indonesia di masa depan. Asa tersebut ia lihat dari bagaimana seorang Presiden Jokowi mengemas peringatan hari kemerdekaan tahun ini.

Menurut Azyumardi Azra, peringatan 72 tahun kemerdekaan pekan lalu tampak lebih dari sekadar kemeriahan rutin upacara dan perayaan Agustusan jika dibanding dengan tahun-tahun yang sudah silam. Presiden Jokowi tampil keluar dari kerutinan. Itu dinilainya justru dapat lebih memperkuat lagi semangat kebangsaan dan kesatuan yang belakangan ini memang marak mencemaskan publik.

Di samping itu, melalui analisi politiknya bertajuk “Asa di Hari Kemerdekaan” (Kompas, 22/8/2017), ia juga melihat bagaimana Presiden Jokowi berhasil menghadirkan momentum krusial. Hal tersebut kelak akan menyejarah di kemudian hari.

“Presiden Jokowi juga menciptakan peristiwa penting dan bersejarah lewat pertemuan elite politik yang sedang dan pernah memimpin negara Indonesia. Pertemuan ini juga memberikan isyarat rekonsiliatif yang menumbuhkan asa dan harapan bagi masa depan Indonesia lebih maju,” tulisnya.

Sebab, bagi rektor UIN Jakarta ke-10 ini, tanpa semangat kebangsaan yang kuat, kesatuan yang padu, dan asa yang menggelora, negara-bangsa seperti Indonesia nyaris mustahil bisa melangkah lebih baik. Justru, sebaliknya, itu hanya akan membuat meruyaknya pesimisme, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Dalam konteks itu, pemaknaan beberapa peristiwa penting seputar peringatan Hari Kemerdekaan 72 tahun secara kenegaraan perlu dilakukan. Dengan begitu, warga Indonesia dapat melihat makna dan hikmah yang tersurat dan tersirat dalam peringatan 17 Agustus kali ini,” tulisnya lebih lanjut.

Adapun peristiwa penting dimaksud Azyumardi Azra, yakni, pertama, pakaian adat yang dikenakan jajaran pemerintahan. Presiden Jokowi tampil dengan pakaian adat Kalimatan Selatan. Wakil Presiden Jusuf Kalla tampak dengan pakaian adat Sulawesi Selatan. Pun demikian dengan menteri dan pejabat tinggi serta tamu kehormatan lainnya yang juga memakai jubah khas suku dan daerah.

Jelas, pemakaian baju adat semacam ini keluar dari pakem sebelumnya, yakni Pakaian Sipil Lengkap (PSL).

“Biasanya, pada peringatan 17-an, hanya anak-anak sekolah yang memakai pakaian adat atau seragam tertentu. Eksotisme lebih menonjol dari dunia kanak-kanak dan remaja yang mengenakan bermacam pakaian adat dari beragam suku dan daerah.”

Meski demikian, agaknya pesan yang ingin disiratkan Presiden Jokowi justru jauh lebih besar dari eksotisme atau rasa keingintahuan (curiosity) tentang keragaman pakaian adat khas Nusantara.

“Pesan itu adalah Indonesia sangat bhinneka—kaya keragaman dan kemajemukan. Kebhinnekaan itu—tersirat dalam pesan Presiden Jokowi—bukan sekadar slogan atau retorik, tetapi dicontohkan dan dipraktikkan sampai ke tingkat tertinggi di negara ini.”

Ya, tampil dengan pakaian khas seperti itu, Presiden Jokowi hendak menekankan pentingnya pertukaran budaya di antara tradisi suku-suku yang berbeda. Ujar akademisi asal Padang, Sumetara Barat itu, pertukaran tersebut jelas akan memperkuat saling pengertian dan respek satu sama lain. Dan, di saat yang sama, ini juga akan mengurangi prasangka dan persepsi stereo-tipikal timbal balik yang memang sampai dewasa ini masih bertahan di tengah menguatnya proses kemenjadian Indonesia.

Guru Besar yang juga merupakan Direktur Pascasarjana UIN Jakarta itu pun menilai bahwa melalui peringatan Hari Kemerdekaan, kebhinnekaan ditegaskan kembali lewat politik pengakuan (politics of recognition). Inilah yang baginya merupakan prinsip dasar dari multikulturalisme.

“Politik pengakuan tidak memadai hanya tertulis dalam prinsip “Bhinneka Tunggal Ika”. Sebaliknya, juga perlu menjadikan kebhinnekaan sebagai bagian integral upacara dan acara resmi—terikat dalam keikaan atau kesatuan kerangka negara-bangsa Indonesia.”

Selain itu, sikap saling mengakui dan menghormati keragaman tersebut juga tampak di antara beberapa tokoh yang berbeda kubu, pandangan, dan sikap politik. Mereka, yang pernah menduduki jabatan presiden, terlibat-serta dalam perayaan tahunan Indonesia di Istana Negara ini. Mereka adalah BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Menariknya, sebab, kecuali Habibie, sudah menjadi rahasia publik bahwa hubungan antara Presiden Jokowi dan SBY kadang terlihat “panas-dingin”. Pun demikian dengan hubungan antara Megawati dan SBY. Mereka tampak jauh lebih dari sekadar “panas-dingin” lagi di mana keduanya sering terlihat saling menhindar dalam berbagai kesempatan.

Tapi ini, lewat momentum Hari Kemerdekaan, Presiden Jokowi menyatukan semuanya. Tak hanya ikut upacara, tapi juga saling beramah tamah dan bersalaman satu sama lainnya. Publik merasa surprise sekaligus mengapresiasi ketika SBY bersalaman dengan Megawati, juga melakukan sesi foto bersama.

Asa Azyumardi Azra di Hari Kemerdekaan Indonesia
Foto: @shafigh

“Peristiwa ini disebut media massa sebagai “peristiwa langka”. Lebih dari itu, peristiwa ini dapat menjadi awal dari “rekonsiliasi” atau “islah” di antara para pemimpin puncak negara ini. Jelas sangat menguntungkan bagi negara-bangsa Indonesia jika elite puncak senantiasa dapat berhubungan baik—melintasi berbagai perbedaan di antara mereka.”

Jika para elite politik bangsa ini dapat saling menghormati dan selalu berhubungan baik, harap Azyumardi Azra dengan sedikit memodifikasi pernyataan Bung Karno, Indonesia akan menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera.

“Dengan semangat seperti itu, disertai kerja keras, warga Indonesia dapat tidak terjerumus menjadi bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi mencapai cita-cita kemerdekaan menjadi negara-bangsa yang maju. Memiliki marwah dan martabat tinggi, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.”

___________________

Artikel Terkait: