Asal Kebahagiaan

Asal Kebahagiaan
©Gatra

Nalar Warga – Ada yang ingin tahu dari mana asal kebahagiaan?

Kebahagiaan adalah suatu perasaan, atau emosi, atau suasana hati, atau keadaan jiwa, atau sejenisnya. Sulit disangkal bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang dihasilkan—pada tingkat paling mendasar—oleh otak kita. Jadi, ya begitulah, kebahagiaan muncul dari otak.

Apakah semua hal ihwal kebahagiaan ini teringkas singkat di otak seperti halaman pada sebuah buku yang tebal? Ya tidak begitulah.

Kalau mau tahu bagian otak mana yang bertanggung jawab atas kebahagiaan, yang pertama kali perlu ditentukan adalah apa yang dimaksud dengan “bagian” otak. Meskipun sering dipandang sebagai benda tunggal (yang bentuknya tidak menarik blas), otak bisa dibagi-bagi jadi banyak komponen individual.

Otak punya dua belahan (kiri-kanan), terdiri atas empat bagian (frontal, temporal, parietal, oksipital) yang masing-masing terdiri atas banyak region dan nucleus. Semua terbentuk oleh sel-sel otak (neuron) dan sel-sel penunjang yang sangat vital yang disebut glia, yang menjaga semua berfungsi dengan baik.

Setiap sel pada dasarnya adalah sekumpulan zat kimiawi. Jadi boleh dibilang, seperti semua organ dan organisme hidup lain, otak adalah gumpalan besar bahan kimia.

Otak memang tersusun dalam bentuk yang rumit, tapi ya tetap saja bersifat kimiawi.

Kita masih bisa sih memecahnya lebih jauh. Zat kimia terdiri dari atom, yang terbentuk dari elektron, proton, dan netron, yang terdiri atas gluon dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya, makin dalam kita meneliti unsur-unsur otak, kita akan masuk ke partikel yang lebih rumit.

Tapi, ada senyawa-senyawa kimia tertentu yang digunakan oleh otak demi tujuan yang lebih luas dari susunan fisika dasar. Artinya, mereka memiliki peran lebih “dinamis” daripada sekadar susunan bangunan sel. Senyawa-senyawa kimia ini disebut neurotransmiter; mereka memainkan peranan penting dalam fungsi otak.

Kalau mau tanya senyawa kimia paling sederhana dan mendasar dari otak yang masih memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir dan merasa, maka neurotransmiter kimialah jawabannya.

Pada dasarnya, otak adalah kumpulan neuron dalam jumlah yang sangat besar dan rumit. Dan segala sesuatu yang dilakukan oleh otak bergantung pada, serta merupakan hasil dari, pola-pola aktivitas yang dihasilkan oleh neuron-neuron ini.

Satu sinyal elektrokimia, satu denyut yang disebut “potensial aksi”, mengalir sepanjang neuron. Kemudian setelah sampai di ujung, disalurkan ke neuron berikutnya, sampai sinyal tersebut tiba di tempat yang ditujunya (target organ).

Anggaplah seperti sebuah amper (arus listrik) yang mengalir di sepanjang sirkuit dari sebuah pembangkit listrik ke lampu di sebelah tempat tidur. Jarak yang cukup dramatis untuk dilalui sesuatu yang tidak terlalu substansial, tapi sangat umum, sampai-sampai lepas dari perhatian kita.

Pola kecepatan sinyal atau potensial aksi neuron ini bisa sangat beragam. Dan mata rantai neuron yang menyalurkan sinyal-sinyal tersebut bisa sangat panjang dan bercabang-cabang hampir tanpa ujung, mengingat ada miliaran pola, triliunan kalkulasi. Ini kenapa otak bisa demikian berpengaruh.

Mundur sedikit, titik di mana sinyal disalurkan dari satu neuron ke neuron berikutnya sangatlah penting. Hal ini terjadi di sinaps, titik tempat dua neuron bertemu. Di sinilah letak keunikannya. Tidak ada kontak fisik yang signifikan antara kedua neuron tadi.

Sinaps itu sendiri sebenarnya adalah celah di antara kedua neuron, bukan benda. Jadi bagaimana sebuah sinyal bisa mengalir dari satu neuron ke neuron lain jika mereka tidak bersentuhan? Jawabannya adalah dengan melalui neurotransmiter.

Sinyal ini tiba di terminus neuron pertama yang ada di mata rantai. Peristiwa ini menyebabkan neuron tadi mendesak neurotransmiter ke dalam sinaps. Kemudian mereka berinteraksi dengan reseptor yang dituju pada neuron kedua. Kejadian ini mengakibatkan munculnya lagi di dalam neuron tadi.

Sinyal yang kembali muncul dalam neuron tadi itu, yang kemudian dialirkan ke neuron selanjutnya, dengan cara yang sama, berada di jalur ke tujuan sepanjang mata rantai. Begitu seterusnya.

Otak menggunakan berbagai jenis neurotransmiter, dan neurotransmiter tertentu yang digunakan memiliki efek jelas terhadap aktivitas serta perilaku neuron berikutnya. Dengan anggapan neuron tersebut memiliki reseptor yang sesuai yang tertanam di membran neuron.

*Ryu Hasan

    Warganet