Atas Nama Kebebasan, Perempuan Arab Mulai Merokok di Ruang Publik

Atas Nama Kebebasan, Perempuan Arab Mulai Merokok di Ruang Publik
©Merdeka

Nalar Politik – Berbeda dengan di Indonesia, di negeri kelahiran islam itu, Arab Saudi, benar-benar telah menunjukkan perubahan sosial yang signifikan. Satu contohnya adalah mulai beraninya sejumlah kaum perempuan mengisap rokok di tempat-tempat umum atas nama kebebasan.

“Saya merasa bahwa merokok di depan umum adalah bagian dari melaksanakan kebebasan saya yang baru dimenangkan,” ucap Rima (nama samaran) kepada AFP (17/2).

“Saya senang bahwa sekarang saya dapat memilih,” tambah perempuan Arab yang bekerja di sebuah perusahaan swasta itu.

Kendati khawatir terhadap stigma, terutama dari keluarganya, ia tetap mengaku siap menghadapinya. Tidak perlu ragu jika itu atas nama kebebasan.

“Saya tidak akan memberi tahu mereka (keluarga) bahwa ini tentang kebebasan kepribadian saya. Karena mereka tidak akan mengerti bahwa perempuan bebas untuk merokok seperti pria.”

Seperti umumnya para feminis Barat di awal abad ke-20, perubahan sosial masyarakat Arab Saudi kini juga mengarah ke pembentukan emansipasi. Pandangan perempuan yang merokok di ruang-ruang publik sudah menjadi hal yang lumrah beberapa bulan terakhir.

Hal demikian merupakan sebuah prospek yang tidak terpikirkan sebelumnya. Pengenalan reformasi secara menyeluruh di wilayah kerajaan ultrakonservatif tersebut mengubah segalanya.

Dari sisi pemerintah, misalnya, Putra Mahkota Mohammad bin Salman juga telah menunjukkan hal demikian. Sebagai penguasa de facto Kerajaan Arab Saudi, ia meluncurkan serangkaian inovasi ekonomi dan sosial. Ia memproyeksikan citra negaranya sebagai wilayah moderat yang ramah bisnis.

Tidak hanya mengisap rokok, kini perempuan pun telah diizinkan untuk mengemudi sendiri. Menghadiri konser-konser publik, acara olahraga, dan mendapatkan paspor tanpa harus melalui persetujuan wali pria lagi, satu per satu kebebasan itu sudah berhasil kaum perempuan nikmati.

Baca juga:

Meski Arab Saudi sudah memperlihatkan perubahan sosial yang cepat, standar ganda tetap ada. Merokok (bagi perempuan) masih dipandang skandal dan aib. Hal tersebut diakui Najla (26 tahun) yang seperti Rima memilih menggunakan nama samaran.

Kepada AFP, Najla mengaku hendak “menantang masyarakat” dan sesekali mengabaikan “penampilan kotor”.

“Hak-hak saya akan sepenuhnya dihormati ketika keluarga saya menerima saya sebagai perokok,” ujarnya.

“Saya tidak pernah membayangkan akan bisa merokok di depan umum di samping laki-laki. Sekarang semuanya diizinkan. Perempuan berani keluar tanpa jilbab, tanpa abaya, dan mereka bahkan merokok di depan umum,” tambah perempuan Arab lainnya bernama Heba (36 tahun). [sn]

Baca juga: