Audisi PB Djarum dan Mimpi Anak-Anak Indonesia

Audisi PB Djarum dan Mimpi Anak-Anak Indonesia
©Hipwee

Sedih juga mendengar kabar ini. Beberapa kali pernah meliput langsung audisi PB Djarum, aku melihat bagaimana anak-anak dari berbagai daerah begitu antusias. Anak-anak itu menggantungkan mimpi mereka di sana untuk bisa menjadi bintang dunia.

Sementara beberapa pihak membawa nama anak, membawa alasan anak-anak, membuat PB Djarum harus mengakhirinya tahun ini. Padahal jutaan mata sudah melihat bagaimana PB Djarum selama ini mengantarkan banyak anak meraih mimpi mereka.

Eh, jangan pula aku bicara gini kalian tuduh pula lagi aku ngebajerin mereka. Jangan melulu pakai sudut pandang bajer/nonbajer. Ini soal nurani kalian juga. Sebab tak banyak organisasi seperti PB Djarum yang mampu menjembatani anak meraih mimpi dari nol hingga mereka jadi bintang dunia.

Beberapa kali aku meliput audisi PB Djarum dan melihat bagaimana anak-anak masyarakat biasa, anak petani, hingga anak nelayan mengikuti audisi. Mereka terlihat bergairah, semangat, dan yakin saat harus bersaing dan berharap lolos audisi.

Apakah anak-anak itu mengikuti audisi PB Djarum karena desakan atau tekanan? Tidak.

Dari Makassar sampai Manado, aku mengajak banyak anak bicara, dan menggali alasan mereka ikut audisi. Tidak ada yang dipaksa. Semua yang kutemui mengaku karena bermimpi besar jadi bintang dunia.

Bahkan, saat aku meliput di Manado, ada anak yang justru mendesak-desak ayahnya agar mau melihat cita-citanya. Ia sendiri yang meminta ayahnya mengizinkannya mengikuti audisi di PB Djarum.

Apa yang kudapati dari anak-anak itu adalah: mereka melihat PB Djarum adalah jembatan mereka menuju impian besar mereka. Mereka banyak berasal dari desa-desa tapi tetap percaya diri untuk bercita-cita. Karena mereka juga melihat dan mendengar banyak anak bisa mengharumkan nama negara dari sana.

Di antara yang paling mengharukan pernah kudapati dari meliput audisi PB Djarum adalah saat melihat seorang anak, dari keluarga miskin, rela menempuh perjalanan berhari-hari dengan kapal laut. Ia tidak merasa lelah, tidak minder, karena ia yakin ini adalah salah satu jalan untuk masa depannya.

Aku lupa nama anak-anak itu. Namun aku masih kebayang bagaimana raut mukanya, lelah karena harus berhari-hari menempuh jalan laut untuk ke Manado.

“Dia yang minta sendiri. Saya, sebagai ayah, cuma bisa berusaha memenuhi keinginannya ikut audisi PB Djarum,” kata ayahnya, yang berprofesi sebagai nelayan.

Sang ayah pun kelihatan bangga melihat anaknya unjuk bakat di sana.

Di Makassar, pun saya bertemu banyak anak yang menggebu-gebu mengikuti audisi PB Djarum. Bahkan ada anak yatim, perempuan, datang bersama ibunya. Berjam-jam naik kendaraan umum dengan ibunya untuk berburu mimpinya.

Ia yatim, perempuan, tapi sama sekali tidak rendah diri. Ia mampu bertanding dengan gigih, meskipun ia dari kampung dan menghadapi anak-anak Kota Makassar. Walaupun ia gagal, ia bisa menemukan ruh positif untuk tidak menyerah.

“Aku nggak akan menyerah, Om” menjadi kalimat yang bikin merinding dan terharu. Seorang anak, usia SD, bisa bicara begini.

Semangat-semangat begini yang kudapati dari beberapa kali meliput audisi PB Djarum. Heran, kenapa hari ini kok KPAI malah menjegalnya?

Sementara KPAI sendiri, sejauh ini, belum punya banyak manfaat untuk anak-anak Indonesia. Bagaimana anak-anak miskin tidak terlantar, tidak hidup di jalanan, tidak dieksploitasi untuk mengemis, tak terlihat hasilnya.

PB Djarum sudah mengangkat hidup dan harapan banyak anak.

Sudah tidak perlu disebut siapa saja yang lahir dan jadi bintang lewat audisi PB Djarum. Merekalah anak-anak yang hari ini bikin nama negeri ini disegani di ranah olahraga di pentas dunia. Merekalah anak-anak yang bikin lagu Indonesia Raya berkumandang di banyak negara.

Hari ini, PB Djarum dituduh mengeksploitasi mereka. Apakah mata kita belum cukup terbuka? Atau, kita memang sudah makin terbiasa mengada-ada?

Kalau tuduhan yang dilempar Yayasan Lentera Anak adalah alasan marketing perusahaan Djarum, sekadar mempromosikan, mereka pastilah punya banyak cara. Sekarang, yang rugi di sini bukan perusahaan rokok, melainkan anak-anak yang pernah punya mimpi untuk tetap bisa audisi sekelas PB Djarum.

Djarum, sebagai perusahaan, agaknya tidak akan banyak rugi. Sebab, sebagai corporate, mereka sudah terkenal kaya raya. Masalahnya terkait audisi, siapa yang sekarang akan menanggulangi? Yayasan Lentera Anak atau Bloomberg? Eh, kok lari ke sini.

Semua pencinta bulu tangkis saya yakini sedih. Sebab banyak bintang yang mereka idolakan adalah bintang-bintang yang dilahirkan dari rahim PB Djarum.

Anak-anak yang lahir dari rahim PB Djarum sebagai bintang itu sudah memberikan banyak hal untuk para fans mereka. Apa yang diberi? Rasa keindonesiaan, semangat satu bangsa, kebanggaan, keharuan, hingga inspirasi bagi banyak anak lainnya. Mereka berani bercita-cita dan berani mengejarnya.

Sedangkan KPAI dan Yayasan Lentera Anak cuma bisa “menunggu bola” tanpa tenaga untuk “jemput bola” seperti dilakukan PB Djarum untuk membuat anak-anak bisa meraih mimpi mereka.

Sejujurnya, apa yang terbayang olehku adalah binar mata anak-anak yang sering kutatap saat meliput audisi PB Djarum. Cahaya mata mereka adalah cahaya yang sangat nyala. Ada nyala keyakinan, di sana mereka bisa mengejar mimpi menjadi bintang dunia.

Juga terbayang para ayah yang terlihat bangga mengantarkan anak mereka mengikuti audisi PB Djarum.

“Di sini, mereka bertanding dan bersaing karena keinginan sendiri. Bukan suruhan siapa-siapa.”

Kalimat itu dari seorang ayah yang mau susah payah dari salah satu pulau menemani anaknya.

Sekarang, setelah semuua kabar ini dan PB Djarum tak bisa lagi berbuat banyak, ada berapa pahlawan anak yang mau turun tangan dan biaya untuk anak-anak itu mengejar cita-citanya?

Wajah Uku Lasodi (48 tahun) masih membekas di benakku saat meliput audisi PB Djarum di Manado. Dialah salah satu ayah dari peserta. Ia berangkat sejak 27 April dan tiba tanggal 5 Mei ke lokasi audisi. Semata-mata demi sang anak dapat mengejar cita-citanya.

Anaknya, Hamid Abdullah Basodi (12 tahun), sukses saat audisi hari pertama. Namun gagal di hari kedua. Tetapi dari audisi PB Djarum itulah ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran sejauh mana lagi ia harus memupuk bakatnya.

Ada lagi Fabiola A. Tombeng (11 tahun), salah satu peserta audisi asal Minahasa. Tangisnya pecah saat Yuni Kartika menyatakan dia lolos audisi PB Djarum. Mbak Yuni sampai ikut berkaca-kaca.

Iya, itu adalah sekelumit cerita anak-anak yang ikut audisi PB Djarum. Mereka datang karena mencintai bulu tangkis dan punya cita-cita besar.

Di Makassar, salah satu teman saya meliput audisi PB Djarum waktu itu adalah Imam Rahmanto. Ia juga salah satu saksi sesama wartawan olahraga, melihat bagaimana kegigihan anak-anak dalam mengejar mimpinya di sana.

    Zulfikar Akbar

    Founder Tularin | Kompasianer of the Year 2017 | Wings Journalist Award 2018
    Zulfikar Akbar
    Share!