Awalnya Ahok, Kemudian Kita

Awalnya Ahok, Kemudian Kita
Ilustrasi: Demo Ahok

Nalar Warga Sejak awal pembelaan saya terhadap Ahok bukan karena Ahok sebagi individu. Lebih dari itu, Ahok adalah simbol bagi kemajemukan Indonesia.

Sejak dia dipaksa masuk penjara atas tuduhan penistaan agama, sejak itu pula sesungguhnya negara kita membenarkan intoleransi. Dan hari ini, perkara itu semakin menggila.

Ketika itu, makanya, saya sangat geram dengan Jokowi. Lepas dari perhitungan politik apa pun, sikap netral presiden dalam perkara intoleransiyang menjadi latar belakang utama mengapa Ahok masuk penjaraadalah sinyal buruk bagi demokrasi. Netralitas bisa diartikan sebagai pembiaran terhadap gelombang radikalisme keagamaan yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita.

Saat ini, tidak perlu menunggu lama, kita menyaksikan intoleransi bukan lagi gejala. Ia telah sungguh mengemuka. Korbannya bukan cuma Ahok, tetapi kita!

Solidaritas kebangsaan yang telah dibangun sekian lama, lambat laun dikoyak oleh tindakan kekerasan satu atau dua orang/kelompok atas nama agama. Ironisnya, lagi-lagi, negara seperti tidak bisa berbuat apa-apa.

Masalahnya, bukan hanya ketimpangan ekonomi seperti sering dikatakan para pengamat. Kebencian yang diciptakan setiap hari melalui media barudengan dukungan internetmembuat orang yang tadinya terpelajar sekalipun sekarang kehilangan kewarasannya.

Menghadapi ini semua, hukum seolah tidak berdaya. Ia tampak lunglai di hadapan teks keagamaan yang ditafsirkan semaunya.

Bagi saya, tanggung jawab terbesar tetap di pundak Jokowi. Sebagai kepala negara, dia harus segera mengambil tindakan tegas dan nyata untuk menghentikan intoleransi. Taruhannya bukan hanya jabatan kepresidenannya, tetapi masa depan bangsa ini.

Tidak ada waktu lagi untuk bernegosiasi. Sekarang atau hancur sama sekali!

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)