Awalnya Diremehkan, Ternyata Berpotensi Menang Satu Putaran?

Awalnya Diremehkan, Ternyata Berpotensi Menang Satu Putaran?
©Twitter

Awalnya Diremehkan, Ternyata Berpotensi Menang Satu Putaran?

Pada awalnya mereka sangat yakin kalau Prabowo pasti kalah pada putaran pertama. Bahkan meski ada Pak Jokowi di sana. Putaran kedua hanya satu slepètan mudah menggulungnya dalam malu.

Kini cerita berubah. Mereka mulai permisif pada potensi Prabowo menang di putaran pertama. Mereka gak lagi alergi pada kemungkinan itu demi menolak gagasan satu putaran. Mereka tak lagi malu-malu mengakui bahwa Prabowo akan menjadi pemenang pada putaran pertama.

Bila masih ada harapan, meski teramat lemah sinyal kemenangan itu untuk capresnya, mereka terus dan terus mencoba mencari kata mungkin. Mereka seperti berusaha merajut kemustahilan bergabungnya pendukung Anies untuk bersama-sama menghabisi Prabowo di putaran kedua.

Mungkinkah?

Bila dasarnya adalah angan-angan, itu mungkin. Angan-angan gak berbayar dan bisa direset sesuka hati. Kapan itu kurang besar jumlah kemenangannya, itu bisa diulang dari awal lagi dan sekehendak hati kita.

Tapi angan-angan adalah seperti mimpi. Itu tidak nyata dan hilang tanpa bekas saat wake up mengusir pergi.

Jadi?

Hitunglah potensi apa pun terkait suara pemilih dengan hitung-hitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Science punya jalan itu.

Baca juga:

Dan angan-angan bukan science. Bahwa angan-angan punya cara untuk bisa bikin senang, rasa senang yang dihasilkannya tak bisa dipertanggungjawabkan atau tidak linier dengan fakta sesudahnya.

Hitung-hitungan yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan itu salah satunya bernama survei. Tapi ini pun bersyarat bukan harus berasal dari lembaga survei abal-abal. Ia harus surveyor yang memiliki rekam jejak netral dan kredibel.

“Hasilnya?”

Bila pilpres berlangsung dalam dua putaran, pasangan Prabowo-Gibran, baik bila pasangan itu bertemu AMIN maupun Ganjar-Mahfud, pasangan nomor urut 2 itu menang. Ini kata survei Indikator Politik Nasional, sebuah lembaga survei yang kredibilitasnya tak diragukan dan bukan kata saya.

Dalam surveinya, Indikator Politik memaparkan bahwa bila AMIN masuk putaran dua mengalahkan pasangan Ganjar-Mahfud dan bertemu pasangan Prabowo-Gibran, AMIN kalah. AMIN cuma mendapat 27,2% dan Prabowo-Gibran meraih elektabilitas sebesar 58,9%.

Pun bila pasangan Ganjar-Mahfud yang masuk ke putaran kedua, pasangan ini pun kalah melawan pasangan Prabowo-Gibran. Pasangan nomor urut 2 itu meraih elektabilitas sebesar 58,2% sementara pasangan nomor urut 3 mendapat elektabilitas sebesar 28,4%.

“Jadi bahkan bila pilpres itu berlangsung dua putaran pasangan Prabowo-Gibran masih tetap menang melawan Ganjar-Mahfud? Serius pendukung AMIN gak lari ke Ganjar-Mahfud seperti angan mereka?”

Tenang. Bila ada sedikit hiburan, menurut survei ini, pasangan Ganjar-Mahfud akan menang melawan pasangan Anies-Muhaimin bila mereka bertemu di putaran kedua. AMIN kalah dengan elektabilitas 38,5% melawan Ganjar-Mahfud yang meraih elektabilitas 43% jika dua pasangan ini bisa bersaing secara head to head di putaran kedua.

Baca juga:

Tapi, itu baru mungkin bila pasangan Prabowo-Gibran tersingkir pada putaran pertama. Dan itu mustahil dong?

Jangankan tersisih di putaran pertama, pilpres berlangsung satu putaran untuk kemenangan pasangan Prabowo-Gibran pun masih sangat terbuka dengan waktu tersisa lebih dari 40 hari ke depan.

*Leonita_Lestari

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)